Senyum anak yatim, perhatian kepada lansia, kesempatan bagi penyandang disabilitas, hingga bangkitnya keluarga rentan dari keterpurukan menjadi wajah lain dari dakwah Muhammadiyah. Di balik semua itu, ada lembaga dan para pengabdi yang bekerja dalam senyap. Mereka melayani, mendampingi, dan memastikan masyarakat yang membutuhkan tetap memiliki harapan.
Namun, bagi Muhammadiyah, keikhlasan dalam mengabdi perlu berjalan beriringan dengan profesionalisme. Kepedulian sosial harus dikelola dengan tata kelola yang baik agar manfaatnya semakin luas, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Semangat itulah yang mendorong Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar Bimbingan Teknis Monitoring dan Evaluasi (Bimtek Monev) bagi MPKS Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wilayah IV dan VI.
Kegiatan yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada Sabtu (1/8/2026) tersebut diikuti MPKS dari Kabupaten Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, dan Trenggalek.
Bimtek ini menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah Jawa Timur memperkuat tata kelola Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) agar semakin profesional, akuntabel, transparan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Ketua MPKS PWM Jawa Timur Muhammad Himawan Sutanto, M.Si menegaskan, pembinaan LKS tidak boleh dipahami sebatas pemenuhan administrasi ataupun regulasi.
Menurutnya, pembinaan merupakan proses membangun budaya pelayanan yang unggul, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
“Kami ingin LKS Muhammadiyah terus bertumbuh menjadi lembaga yang profesional dalam tata kelola, unggul dalam pelayanan, serta dipercaya masyarakat. Profesionalisme bukan sekadar target organisasi, melainkan bentuk amanah agar setiap layanan benar-benar menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan,” ujarnya.
Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menambahkan, standar pelayanan yang baik bukan hanya membuat lembaga semakin kuat. Lebih dari itu, profesionalisme dapat menghadirkan harapan baru bagi penerima manfaat.
“Ketika pelayanan dilakukan dengan standar yang baik, maka yang kita bangun bukan hanya lembaga yang kuat, tetapi juga harapan bagi banyak kehidupan,” imbuhnya.
Bagi Muhammadiyah, pelayanan sosial merupakan bagian penting dari dakwah kemanusiaan. Dakwah tidak hanya hadir melalui ceramah dan kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Anak yang memperoleh pengasuhan layak, lansia yang kembali merasakan perhatian, penyandang disabilitas yang mendapatkan kesempatan, dan keluarga yang mampu bangkit dari kesulitan merupakan bagian dari wajah dakwah tersebut.
Evaluasi Bukan untuk Mencari Kesalahan
Bimtek Monev juga menjadi ruang untuk membangun budaya evaluasi di lingkungan MPKS dan LKS Muhammadiyah.
Dalam sesi materi, Fadli Yulianto mengajak peserta menjadikan self-evaluation sebagai bagian dari budaya organisasi. Evaluasi, kata dia, bukan ruang untuk mencari kesalahan, melainkan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.
“Lembaga yang besar bukanlah lembaga yang merasa sempurna, tetapi lembaga yang tidak pernah berhenti mengevaluasi diri, memperbaiki kekurangan, dan terus bertumbuh,” ujarnya.
Dengan evaluasi yang objektif, setiap MPKS dan LKS diharapkan mampu mengenali kekuatan dan kelemahannya. Dari sana, lembaga dapat memetakan tantangan serta menyusun strategi pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pendekatan tersebut membuat monitoring dan evaluasi tidak berhenti pada penilaian administratif. Lebih jauh, Monev diarahkan menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas layanan sosial.
Sementara itu, Luluk Dwi Kumalasari memaparkan desain pembinaan yang dikembangkan MPKS PWM Jawa Timur.
Ia menjelaskan, pembinaan LKS diarahkan melalui pendekatan yang sistematis, berjenjang, dan berkelanjutan. Artinya, pembinaan tidak dilakukan secara insidental ketika muncul persoalan, tetapi menjadi proses pendampingan yang terus memperkuat kapasitas lembaga.
Program pembinaan mencakup penyusunan standar tata kelola sesuai ketentuan Persyarikatan Muhammadiyah dan regulasi pemerintah.
Selain itu, terdapat bimbingan teknis mengenai manajemen kelembagaan, pelayanan sosial, pengasuhan, pengelolaan keuangan, hingga administrasi.
Seluruh proses tersebut diperkuat melalui monitoring dan evaluasi berkala dengan instrumen yang terukur. Dengan cara ini, setiap LKS dapat mengetahui capaian yang telah diraih, mengidentifikasi bagian yang masih perlu diperbaiki, sekaligus menyusun langkah pengembangan secara berkesinambungan.
MPKS PWM Jawa Timur juga memberikan pendampingan kepada LKS yang menghadapi persoalan tata kelola maupun legalitas.
Jejaring kolaborasi antarlembaga turut diperkuat. Semangatnya sederhana: tidak ada LKS yang berjalan sendirian dalam menjalankan amanah pelayanan sosial.
Melalui praktik saling belajar dan berbagi pengalaman, setiap lembaga diharapkan dapat mengambil pelajaran dari praktik baik yang telah dilakukan lembaga lainnya.
Mengukur Keberhasilan dari Manfaat
Pada akhirnya, keberhasilan LKS tidak ditentukan oleh seberapa megah gedung yang dimiliki. Ukuran terpentingnya adalah seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Profesionalisme bukan sekadar untuk mendapatkan pengakuan. Profesionalisme diperlukan agar setiap amanah dikelola secara bertanggung jawab, bantuan diberikan secara tepat sasaran, dan penerima manfaat memperoleh pelayanan yang manusiawi serta bermartabat.
Karena itu, melalui Bimtek Monev ini, MPKS PWM Jawa Timur mendorong seluruh LKS Muhammadiyah di Jawa Timur memiliki standar pelayanan yang semakin baik.
Tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel diharapkan menjadi fondasi agar lembaga-lembaga sosial Muhammadiyah semakin kuat menjalankan peran kemanusiaannya.
Sebab, pelayanan sosial terbaik tidak hanya lahir dari niat baik. Ia membutuhkan hati yang ikhlas, ilmu yang terus diperbarui, tata kelola yang profesional, dan keberanian untuk terus mengevaluasi diri.
Profesional dalam melayani, ikhlas dalam mengabdi. Karena setiap kehidupan yang kembali tersenyum adalah bukti bahwa dakwah kemanusiaan Muhammadiyah benar-benar hadir dan memberi arti. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments