Tapak Suci bukan sekadar organisasi bela diri, tetapi juga wadah pembinaan karakter dan pengaderan generasi muda Muhammadiyah. Pemahaman terhadap nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, dan tanggung jawab terhadap Persyarikatan menjadi bekal penting bagi setiap anggotanya.
Hal tersebut menjadi salah satu materi dalam Diklat Ruang yang diselenggarakan Tapak Suci Cabang 19 Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Sabtu (17/10/2026), di Gedung Terpadu Umsura. Kegiatan ini diikuti 40 peserta yang mendapatkan materi ke-Tapak Suci-an dari Pendekar Anang Dony Irawan.
Dalam mengawali materinya, Anang menegaskan bahwa setiap anggota Tapak Suci merupakan bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah. Karena itu, pemahaman terhadap identitas dan landasan organisasi menjadi hal mendasar yang perlu dimiliki setiap anggota.
“Yang perlu diketahui paling dasar dalam Tapak Suci, setiap anggotanya adalah bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah. Makanya Tapak Suci berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Persebaran Muhammadiyah hingga ke luar negeri adalah melalui Tapak Suci dengan melintasi batas benua,” ujar Anang.
Ia mengajak peserta memahami Tapak Suci secara lebih luas, tidak hanya sebagai tempat berlatih bela diri dan berorganisasi. Para peserta juga didorong untuk aktif dalam berbagai kegiatan Muhammadiyah sebagai bentuk kontribusi terhadap Persyarikatan.
Menurutnya, sebagai salah satu organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah, Tapak Suci memiliki tanggung jawab membina karakter siswa dan kader. Pembinaan tersebut tidak hanya berorientasi pada kemampuan fisik, tetapi juga mencakup ketahanan mental dan penanaman nilai-nilai keislaman.
“Pembentukan karakter di Tapak Suci berbeda dengan Ortom lainnya. Selain melatih ketahanan fisik, juga melatih ketahanan mental. Makanya di Tapak Suci ikrar nomor 6 menjadi landasan setiap anggota Tapak Suci,” terangnya.
Materi Penting dalam Proses Pengaderan
Ketua Panitia Diklat Ruang Tapak Suci Cabang 19 Umsura, Nasywa Auliya Rahmah, menyampaikan bahwa materi ke-Tapak Suci-an menjadi bagian penting dalam proses pengaderan anggota baru.
“Melalui materi ini, kami berharap para peserta tidak hanya mengenal Tapak Suci sebagai organisasi bela diri, tetapi juga memahami nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, serta tanggung jawab sebagai bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah. Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi peserta dalam mengikuti proses kaderisasi selanjutnya,” ungkapnya.
Antusiasme peserta terlihat selama penyampaian materi, terutama ketika Anang membuka ruang diskusi singkat. Peserta menunjukkan ketertarikan untuk memahami lebih jauh identitas, nilai-nilai, dan peran Tapak Suci dalam lingkungan Muhammadiyah.
Melalui Diklat Ruang ini, Tapak Suci Cabang 19 Umsura berharap dapat membentuk anggota baru yang tidak hanya memiliki kemampuan bela diri, tetapi juga berkarakter Islami, disiplin, bermental tangguh, serta memiliki komitmen untuk berkontribusi dalam perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments