Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ
“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah mengabulkan doa dari hati yang lalai dan berpaling.” (HR. Tirmidzi no. 3488 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 493)
Kandungan utama dari hadis tersebut adalah perintah untuk memiliki keyakinan penuh (husnuzhan) saat berdoa dan larangan berdoa dengan hati yang lalai atau tidak fokus.
Berikut adalah poin-poin kandungan dan maknanya:
• Keyakinan kepada Allah (Waqinū bil-ijābah): Seorang hamba harus yakin sepenuh hati bahwa Allah mendengar dan akan mengabulkan doanya, dengan cara dan waktu yang paling baik menurut-Nya.
• Menghadirkan hati (Khudhurul-qalb): Doa bukan sekadar gerakan lisan atau ucapan hafalan semata, melainkan harus melibatkan kesadaran jiwa, kekhusyukan, dan penghayatan makna yang dipanjatkan.
• Larangan lalai (Qalbin ghāfilin lāhin): Allah tidak akan mengabulkan doa yang lahir dari hati yang lengah, ragu-ragu, bermain-main, atau tidak serius menghadap kepada-Nya.
Ketiga, berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan nama dan sifat Allah Ta’ala, misalnya yaa Rahmaan, yaa Rahiim, yaa Allah, dan sebagainya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna. Maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.” (QS. Al-A’raf [7]: 180) .
Surat Al-A’raf ayat 180 berisi perintah untuk berdoa dan berdzikir menggunakan Asmaul Husna serta larangan mengikuti orang-orang yang menyimpang atau menodai nama-nama Allah.
Kandungan Utama Surat Al-A’raf [7]: 180
• Kepemilikan Nama-Nama Terbaik (Asmaul Husna):
Ayat ini menegaskan bahwa segala nama yang indah, agung, dan sempurna mutlak milik Allah Ta’ala. Nama-nama tersebut mencerminkan sifat kesempurnaan-Nya tanpa ada kekurangan.
• Perintah Berdoa dan Bertawasul dengan Asmaul Husna:
Umat Islam diperintahkan untuk menyebut serta menjadikan Asmaul Husna sebagai perantara (wasilah) dan pengagungan saat memanjatkan doa. Misalnya, memohon ampun dengan nama Al-Ghaffar atau rezeki dengan nama Ar-Razzaq.
• Larangan Melakukan Ilhad (Penyimpangan) pada Nama Allah:
Frasa yulhidūna fī asmā’ih berarti menyimpang atau menyelewengkan Asmaul Husna. Bentuk penyimpangan ini meliputi:
– Menggunakan nama Allah untuk menamai sesembahan lain atau berhala (seperti mengambil kata Al-Lata dari Allah, atau Al-‘Uzza dari Al-‘Aziz).
– Menambah nama-nama baru bagi Allah yang tidak pernah diajarkan oleh Al-Qur’an maupun Hadits.
– Mengingkari atau meniadakan sifat-sifat luhur yang terkandung di dalam nama-nama tersebut.
– Menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk (tasybih/tamtsil) atau menafsirkannya secara serampangan.






0 Tanggapan
Empty Comments