Kebiasaan duduk terlalu lama, minim bergerak, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk atau berbaring bukan sekadar persoalan gaya hidup. Jika berlangsung terus-menerus, pola hidup sedentari dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.
Pakar kedokteran okupasi sekaligus Dosen Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Rubayat Indradi, MOH., mengingatkan masyarakat untuk mulai mengevaluasi aktivitas fisik sehari-hari. Menurutnya, kemudahan teknologi dan perubahan pola kerja membuat banyak orang semakin jarang bergerak.
Gaya hidup sedentari merupakan pola hidup dengan aktivitas fisik yang sangat minim. Seseorang lebih banyak duduk, berbaring, atau melakukan aktivitas dengan pengeluaran energi yang rendah dalam waktu lama.
Rubayat mengatakan kebiasaan tersebut kini mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik pada pekerja maupun pelajar. Aktivitas di depan komputer, penggunaan gawai, hingga kebiasaan mengandalkan kendaraan untuk jarak dekat membuat tubuh semakin jarang bergerak.
“Silakan menganalisis diri sendiri per 24 jam, berapa jam Anda duduk di ruangan atau rebahan. Itu contoh nyata sedentary work yang berisiko memunculkan obesitas, diabetes, hingga hipertensi,” ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Perkembangan teknologi digital, kata Rubayat, memang memberikan banyak kemudahan. Namun, kemudahan tersebut juga dapat membuat masyarakat semakin bergantung pada layanan yang mengurangi kebutuhan untuk bergerak.
Dia mencontohkan kebiasaan menggunakan layanan pesan-antar untuk berbagai keperluan, termasuk ketika sebenarnya seseorang dapat berjalan kaki atau melakukan aktivitas fisik ringan.
“Kecanggihan teknologi sekarang itu bikin kita jadi malas, apa-apa delivery, ya mager. Kenapa tidak diubah habit-nya itu? Cobalah jalan kaki dan jangan takut berkeringat,” jelasnya.
Menurut Rubayat, aktivitas fisik tidak selalu harus berupa olahraga berat. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi waktu tubuh berada dalam kondisi pasif.
Ia mendorong masyarakat membangun kebiasaan bergerak di sela-sela aktivitas sehari-hari. Salah satunya dengan melakukan peregangan secara berkala atau berjalan kaki.
“Itulah pentingnya kalian punya hobi fisik. Jangan jempolnya saja yang olahraga, hanya jempolnya saja yang sehat. Mulailah dari hal-hal kecil seperti stretching setiap dua jam sekali atau berjalan kaki,” tegasnya.
Bergerak untuk Menjaga Kualitas Hidup
Bagi Rubayat, aktivitas fisik tidak hanya berkaitan dengan kebugaran tubuh. Kebiasaan bergerak juga penting untuk membantu menjaga kesehatan mental dan mengelola stres yang muncul akibat tekanan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari.
Karena itu, masyarakat perlu mulai menyadari berapa banyak waktu yang dihabiskan dalam posisi duduk atau berbaring. Kesadaran tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengubah pola hidup yang terlalu pasif.
Mengurangi waktu di depan layar, memperbanyak berjalan kaki, serta melakukan peregangan secara berkala merupakan kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan di rumah, sekolah, maupun tempat kerja.
Rubayat mengajak masyarakat tidak menjadikan teknologi dan kenyamanan sebagai alasan untuk semakin jarang bergerak. Tubuh tetap membutuhkan aktivitas fisik meski berbagai kebutuhan sehari-hari kini dapat dipenuhi hanya melalui layar ponsel.
Pada akhirnya, menjaga tubuh tetap aktif merupakan bagian penting dari upaya membangun kehidupan yang sehat dan produktif. Kebiasaan kecil seperti berjalan kaki dan melakukan peregangan dapat menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas hidup. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments