Perjuangan membangun perubahan sosial tidak cukup hanya dilakukan melalui gerakan di lapangan.
Pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik juga perlu ditulis, didokumentasikan, serta disebarluaskan agar dapat menjadi rujukan yang lebih luas.
Semangat inilah yang mendorong Yayasan Bali Sruti memperkuat kiprahnya melalui publikasi ilmiah.
Yayasan Bali Sruti, yang selama ini dikenal melalui kerja-kerja pemberdayaan perempuan berbasis komunitas di Bali, kini terus memperkuat ekosistem pengetahuannya melalui Penerbit Bali Sruti.
Untuk mendukung langkah tersebut, Dosen Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Husamah SPd MPd, turut mendampingi pengembangan penerbitan dan jurnal ilmiah yang dikelola Bali Sruti.
Modal Penting Kembangkan Pengetahuan
Ketua Yayasan Bali Sruti, Dr Luh Riniti Rahayu, merupakan praktisi sekaligus pejuang pemberdayaan perempuan berbasis komunitas di Bali.
Pengalaman panjang Yayasan Bali Sruti dalam mendampingi masyarakat, khususnya dalam isu perempuan, anak, kesetaraan, inklusi sosial, kebijakan, dan perubahan sosial, menjadi modal penting untuk dikembangkan menjadi pengetahuan yang terdokumentasi dan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Dr Luh Riniti Rahayu menjelaskan bahwa gerakan yang dilakukan Bali Sruti selama ini memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan yang penting untuk dibagikan.
“Selama ini kami banyak bekerja bersama masyarakat. Ada pengalaman, pembelajaran, dan pengetahuan yang lahir dari proses tersebut. Kami ingin pengalaman itu tidak berhenti sebagai kegiatan, tetapi juga dapat ditulis, diterbitkan, dan menjadi pengetahuan yang bisa dimanfaatkan oleh lebih banyak orang” ujarnya.
Menurutnya, penguatan publikasi merupakan bagian dari upaya Bali Sruti untuk memperluas dampak perjuangan yang selama ini dilakukan.
Karena itu, keberadaan Penerbit Bali Sruti tidak hanya diarahkan untuk menerbitkan buku, tetapi juga dikembangkan sebagai rumah bagi berbagai karya ilmiah.
Penerbit Bali Sruti sendiri berfokus pada pengembangan pengetahuan di bidang literasi akademik, sosial, budaya, perempuan dan anak, bahasa, kesehatan, desain, serta kebijakan publik dengan menggabungkan kearifan lokal dan perspektif global.
Penerbit tersebut juga menaungi penerbitan buku akademik dan referensi, jurnal ilmiah dan pengabdian kepada masyarakat, prosiding, book chapter, serta kajian budaya dan kebijakan.
Penguatan dengan Jurnal Ilmiah
Salah satu perhatian utama dalam pendampingan tersebut adalah penguatan jurnal ilmiah. Saat ini Penerbit Bali Sruti telah mengembangkan sejumlah jurnal dengan bidang kajian yang beragam.
Antara lain Journal of Gender, Policy, and Social Inclusion (JOGEPSI), Journal of Discourse, Innovation, and Empowerment in Gender (JODIEG), Journal of Heritage, Tourism, and Sustainability (JOHTAS), Journal of Civil, Architecture, and Environment (CivArchEnviro), serta Journal of Social and Humanities Empowerment (SHE).
Dr Husamah mengatakan bahwa Bali Sruti mempunyai modal yang sangat kuat untuk membangun penerbitan ilmiah karena memiliki pengalaman lapangan dan isu-isu strategis yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
“Bali Sruti memiliki kekuatan yang sangat khas. Mereka memiliki pengalaman nyata dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan, serta memiliki isu yang kuat dalam bidang gender, kebijakan, inklusi sosial, budaya, pemberdayaan, dan keberlanjutan. Ini adalah modal yang sangat baik untuk membangun publikasi ilmiah yang berkualitas” kata Dr Husamah.
Pendampingan Berkelanjutan
Dosen Pendidikan Biologi FPSH UMM tersebut menegaskan bahwa dirinya akan mendampingi Penerbit Bali Sruti secara berkelanjutan.
Pendampingan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menerbitkan artikel, tetapi mencakup pembangunan ekosistem jurnal secara utuh.
Mulai dari tata kelola, manajemen editorial, kualitas naskah, reviewer, etika publikasi, konsistensi penerbitan, hingga strategi pengembangan jejaring akademik.
“Jurnal yang baik tidak dibangun hanya dengan menerbitkan artikel. Ada tata kelola, editor, reviewer, etika publikasi, kualitas artikel, konsistensi terbit, sampai bagaimana jurnal itu dikenal dan dipercaya oleh komunitas akademik. Semua aspek tersebut harus dibangun secara bertahap dan konsisten” jelasnya.
Penerbit Bali Sruti sendiri telah menyatakan komitmen menjaga integritas akademik dan kualitas publikasi ilmiah dengan mengacu pada prinsip-prinsip etika publikasi internasional serta pedoman Committee on Publication Ethics (COPE).
Dr Husamah menargetkan pendampingan tersebut dapat membawa jurnal-jurnal Bali Sruti menuju standar nasional dan internasional.
“Target kita jelas. Kita ingin jurnal-jurnal Bali Sruti semakin kuat secara tata kelola dan kualitas, kemudian mampu memperoleh akreditasi SINTA. Setelah fondasinya kuat, kita dorong secara bertahap menuju pengindeksan dan reputasi internasional” ungkapnya.
Yang Terpenting pada Reputasi Jurnal
Ia menekankan bahwa target tersebut harus ditempuh melalui proses yang serius dan tidak instan. Menurutnya, reputasi jurnal dibangun melalui konsistensi, kualitas, integritas, dan kepercayaan komunitas akademik.
“Jangan berpikir bahwa internasional itu hanya soal bahasa Inggris atau indeksasi. Yang paling penting adalah kualitas dan integritas” tutur Husamah.
“Kalau fondasinya kuat, tata kelolanya baik, artikelnya berkualitas, dan jejaring akademiknya berkembang, maka peluang menuju jurnal bereputasi internasional akan semakin besar” tambahnya.
Bagi Yayasan Bali Sruti, penguatan Penerbit Bali Sruti menjadi bagian dari perjuangan yang lebih besar. Jika selama ini gerakan dilakukan dengan mendampingi masyarakat secara langsung, maka publikasi menjadi sarana untuk memperluas suara dan pengalaman tersebut ke ruang akademik.
“Kami ingin Bali Sruti tidak hanya dikenal karena kegiatan pemberdayaan yang kami lakukan, tetapi juga karena pengetahuan yang kami hasilkan. Publikasi adalah salah satu cara untuk memperluas perjuangan kami,” tutur Dr Luh Riniti Rahayu.
Kolaborasi antara Yayasan Bali Sruti dan Dr Husamah tersebut mempertemukan pengalaman panjang gerakan sosial berbasis komunitas dengan pengalaman akademik dalam dunia publikasi.
Keduanya diharapkan dapat memperkuat Penerbit Bali Sruti sebagai ruang produksi pengetahuan yang berintegritas, relevan, dan berdampak.
Pada akhirnya, perjuangan Bali Sruti bukan hanya tentang menghasilkan publikasi, tetapi tentang memastikan pengalaman dan pengetahuan yang lahir dari masyarakat dapat memiliki suara yang lebih luas.
“Berjuang lewat publikasi. Itu yang ingin kita bangun bersama. Pengalaman masyarakat harus menjadi pengetahuan, pengetahuan harus ditulis dengan baik, dan tulisan yang baik harus bisa memberikan dampak” pungkas Dr Husamah.





0 Tanggapan
Empty Comments