Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis Alternate Universe (AU) Folklore sebagai media edukasi pencegahan perundungan (bullying) dan pelecehan seksual sekaligus penguatan ruang aman bagi anak di sekolah dasar.
Tim yang diketuai Lilik Binti Mirnawati dengan anggota Sri Lestari dan Holy Ichda Wahyuni tersebut mengembangkan program melalui pendanaan Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026. Inovasi ini telah diterapkan di SD Muhammadiyah 2 Surabaya.
Cerita Rakyat Dikemas dengan Konflik Kekinian
Inovasi tersebut dilakukan dengan merekonstruksi cerita rakyat Nusantara ke dalam konteks kehidupan anak masa kini. Tokoh dan nilai moral dari cerita asli tetap dipertahankan, tetapi konflik di dalamnya disesuaikan dengan situasi yang lebih dekat dengan keseharian peserta didik.
Beberapa cerita yang dikembangkan antara lain Timun Mas, Bawang Putih, Keong Mas, Kleting Kuning, dan Malin Kundang. Cerita-cerita tersebut dikemas dengan isu seperti bahaya berinteraksi dengan orang asing (stranger danger), cyberbullying, body shaming, pemaksaan kontak fisik, dan perundungan.
Holy Ichda Wahyuni, salah satu anggota tim sekaligus penggagas buku cerita, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dirancang agar anak dapat belajar mengenali situasi yang berisiko melalui cerita yang menarik dan dekat dengan dunia mereka.
“Melalui cerita digital, ilustrasi, media interaktif, dan panduan guru, peserta didik diajak mengenali situasi berisiko, memahami emosi, mengembangkan empati, serta belajar mengambil keputusan yang aman,” ujar Holy.
Menggunakan Model STORY
Pembelajaran dikembangkan melalui Model STORY, yang merupakan akronim dari See the Story, Think Together, Observe Feelings, Respond Wisely, dan Your Commitment.
Melalui model tersebut, peserta didik tidak hanya membaca cerita, tetapi juga diajak memahami konflik dan mendiskusikan berbagai pilihan tindakan.
“Dalam pembelajaran ini, anak tidak sekadar membaca cerita, tetapi diajak memahami konflik, berdiskusi, mengenali perasaan tokoh, mempertimbangkan pilihan tindakan, hingga membangun komitmen untuk menciptakan lingkungan yang saling menghargai,” jelas Holy.
Pendekatan tersebut juga dapat diintegrasikan ke dalam sejumlah mata pelajaran, seperti Bahasa Indonesia, IPAS, dan Pendidikan Pancasila. Dengan demikian, edukasi mengenai perlindungan anak dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran sehari-hari, bukan sekadar materi tambahan.
Padukan Budaya Lokal dan Pendidikan Perlindungan Anak
Penerapan program di SD Muhammadiyah 2 Surabaya menjadi upaya untuk mempertemukan budaya lokal, literasi, teknologi digital, pembelajaran sosial-emosional, dan pendidikan perlindungan anak dalam satu pendekatan pembelajaran.
Melalui transformasi tersebut, cerita rakyat tidak hanya ditempatkan sebagai warisan budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi muda. Cerita juga menjadi media bagi peserta didik untuk memahami batas diri, menghargai orang lain, mengenali situasi yang tidak aman, serta berani mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.
Tim berharap inovasi AU Folklore dan Model STORY tidak berhenti diterapkan di satu sekolah. Pengembangan program tersebut diharapkan dapat direplikasi di sekolah dasar lainnya sehingga edukasi pencegahan bullying, pelecehan seksual, dan penguatan ruang aman bagi anak dapat diterapkan secara lebih luas.
Dengan memanfaatkan cerita yang dekat dengan budaya dan kehidupan anak, pembelajaran diharapkan tidak hanya meningkatkan literasi, tetapi juga membantu membentuk peserta didik yang lebih peka, berempati, mampu mengambil keputusan secara bijak, serta berani menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak.





0 Tanggapan
Empty Comments