Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat apresiasi dari Dewan Energi Nasional (DEN) atas komitmennya dalam mengembangkan energi baru terbarukan (EBT). Pengakuan tersebut disampaikan dalam Diskusi Publik bertajuk “Arah Kebijakan Energi Menuju Net Zero Emission Melalui Pembangkit Energi Baru Terbarukan” yang digelar di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (25/6/2026).
Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., menilai UMM menjadi salah satu perguruan tinggi yang telah menunjukkan komitmen nyata dalam pengembangan energi terbarukan sejak 2007.
“Di satu sisi, UMM sudah melakukan praktik-praktik energi baru terbarukan, yaitu dengan adanya PLTMH di kampus UMM maupun PLTS. Ini memberikan kontribusi nyata. Selain pembelajaran di ruang kelas yang sesuai dengan kurikulum, hal-hal yang berkaitan dengan praktik bidang energi baru terbarukan sudah benar-benar dilaksanakan sebagai laboratorium hidup,” tegasnya.
Menurut Numberi, kunjungan DEN ke UMM dilatarbelakangi kebutuhan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah menurunnya produksi minyak bumi dan meningkatnya impor minyak mentah serta bahan bakar minyak (BBM).
Di sisi lain, pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia masih tergolong rendah sehingga diperlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, dalam mempercepat transisi energi.
Pemerintah sendiri menargetkan puncak emisi karbon pada 2035 serta pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2060 melalui dekarbonisasi sebesar 129 juta ton CO2e. Untuk mewujudkan target tersebut, bauran energi primer dari EBT ditargetkan mencapai 70 hingga 72 persen pada tahun 2060.
Dalam kesempatan itu, Numberi juga mengapresiasi berbagai inovasi yang dikembangkan sivitas akademika UMM, salah satunya teknologi desalinasi air laut menjadi air bersih di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memanfaatkan energi surya sebagai sumber pembangkit.
Menurutnya, inovasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana penelitian kampus mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama di wilayah dengan rasio elektrifikasi yang masih terbatas.
“Tadi dari hasil presentasi, saya lihat beberapa kegiatan sudah dilakukan oleh teman-teman di UMM. Misalnya, desalinasi air laut menjadi air tawar (air bersih) di NTT dengan memanfaatkan energi surya untuk pembangkitnya. Ini adalah wujud pengabdian dan penelitian yang bagus, yang diterapkan langsung ke masyarakat,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi, UMM diharapkan terus berkontribusi dalam pengembangan riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat guna mendukung transisi energi hijau serta mewujudkan kemandirian energi nasional menuju target Net Zero Emission 2060.





0 Tanggapan
Empty Comments