Gerak zaman tidak pernah berkompromi dengan kemapanan. Tantangan riilnya adalah bagaimana ideologi berkemajuan itu mampu dikawal. Dibela, dan diwujudkan di tengah masyarakat yang terus berubah. Di sinilah ada tuntutan untuk melakukan revitalitasi taji salah satu organisasi otonom paling strategis di bawah Pemuda Muhammadiyah. Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah, KOKAM.
KOKAM lahir dari kancah pergolakan sejarah bangsa pada tahun 1965. Ia seringkali dipandang secara reduktif hanya sebatas pasukan pengamanan fisik atau barisan baris-berbaris. Padahal, eksistensinya jauh melampaui itu. KOKAM adalah manifestasi benteng ideologis persyarikatan yang bergerak dalam koridor dakwah amar makruf nahi mungkar.
Ada alasan mendalam mengapa setiap kader KOKAM selalu menggemakan motto “Perkasa”. Kalimat tersebut bukan sekadar cerminan ketangguhan fisik di bawah terik matahari. Melainkan sebuah ikrar teologis, Pertahankan Kalimat Syahadat.
Melalui motto ini, KOKAM menegaskan bahwa basis utama gerakannya adalah tauhid yang murni. Dari sanalah lahir Tri Matra KOKAM: Kemanusiaan, Kebencanaan, dan Keamanan/Pengawalan. Ketika kekuatan fisik yang terlatih berpadu dengan ketajaman spiritual, maka yang lahir di lapangan adalah aksi kemanusiaan yang terukur, santun, dan sarat dengan nilai kesalehan. Ini adalah modal sosial terbesar KOKAM dalam menjaga marwah persyarikatan.
Dalam perspektif ideologis Muhammadiyah, Indonesia dipandang sebagai Darul Ahdi wa Syahadah. Yaitu negara kesepakatan sekaligus medan pembuktian kesalehan kolektif. Berpijak pada teologi Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 104 dan 110, Muhammadiyah tidak ingin membiarkan dakwah berhenti sebagai wacana ruang seminar. Melainkan juga lewat ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang sosial, pendidikan, hingga kesehatan. Persyarikatan ini terus mengejar satu cita-cita konstitusional, mewujudkan Masyarakat Utama.
Masyarakat Utama adalah sebuah tatanan yang maju, adil, makmur, serta diliputi ampunan dan keridaan Allah Swt. Atau baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. KOKAM mengambil peran krusial sebagai pengawal ekosistem dakwah ini. Memastikan bahwa setiap derap langkah AUM dan gerakan dakwah warga persyarikatan dapat berjalan tanpa hambatan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan kemajuan umat Islam.
Jika abad lalu KOKAM diuji oleh konflik fisik dan ideologi komunal, maka abad kedua Muhammadiyah menyuguhkan medan pertempuran baru. Ia jauh lebih senyap, namun mematikan. KOKAM tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu.
Ada empat area kunci yang harus segera direvitalisasi. Pertama, Siber dan Literasi Digital. “Kemungkaran” gaya baru hari ini berwujud hoaks, pembunuhan karakter, adu domba, dan infiltrasi radikalisme digital. KOKAM harus melahirkan “kader siber” yang cakap teknologi untuk mengawal narasi Islam berkemajuan di ruang publik digital.
Kedua, Intelektualitas Kader. Otot harus dipandu oleh otak. Citra KOKAM yang lekat dengan ketangguhan fisik wajib di-upgrade dengan kedalaman pemahaman keagamaan (tajdid). Juga kemampuan negosiasi, serta pemahaman regulasi hukum yang matang.
Ketiga, Konsistensi Khitah Politik. Menjelang momentum politik, godaan menarik KOKAM ke dalam pusaran politik praktis sangat besar. Di sinilah KOKAM harus tegak lurus pada Khitah Ujung Pandang 1971. Menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik dan mengedepankan politik adiluhung demi maslahatan bangsa.
Keempat, Manajemen Modern Berskala Makro. Administrasi, manajemen logistik, dan pengelolaan database anggota harus dikelola secara modern dan taktis. Harus berbasis data riil agar instruksi organisasi berjalan efektif.
Meskipun tantangan internal-eksternal membentang luas, sumbangsih KOKAM bagi bangsa ini tetap nyata. Bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), KOKAM selalu menjadi entitas pertama yang hadir di lokasi bencana alam untuk melakukan evakuasi dan pemulihan kemanusiaan.
Di sisi lain, di tengah maraknya polarisasi ideologi, KOKAM berdiri kokoh sebagai benteng penjaga moderasi beragama (wasatiah). KOKAM membentengi generasi muda dari tarikan ekstrem kiri (komunisme) maupun ekstrem kanan (radikalisme), sejalan dengan manhaj tarjih Muhammadiyah.
KOKAM adalah permata persyarikatan yang tidak boleh dibiarkan redup atau sekadar menjadi pelengkap ornamen organisasi. Dengan terus merawat spirit Fastabiqul Khairat dan menjiwai motto Perkasa, gerakan revitalisasi KOKAM adalah agenda yang mendesak dan mutlak dilakukan.
Melalui tetesan keringat keikhlasan para kadernya di lapangan, ikhtiar kolektif mewujudkan Indonesia sebagai Masyarakat Utama yang adil, makmur, dan diridhai Allah Swt. Nashrun Minallahi wa Fathun Qarib.





0 Tanggapan
Empty Comments