Dalam politik, “kata” tidak selalu dimaksudkan untuk menjelaskan. Kadang hanya untuk mengganggu konsentrasi, memancing reaksi, membuka posisi lawan, dan menciptakan ruang bagi langkah ke depan. Karena itu, tidak semua “salah ucap” seorang pemimpin layak dibaca sebagai kesalahan.
Dalam perspektif perang, sebagian dapat ditempatkan sebagai feint attack: serangan tipu melalui bahasa yang sengaja dirancang agar publik melihat ke satu arah, padahal targetnya berada di tempat lain.
Beberapa pernyataan Presiden Prabowo memberi ruang untuk pembacaan semacam itu. Publik pernah gaduh ketika hitungan “8 + 8” berakhir pada angka 17; ketika keuntungan usaha penggilingan padi disebut dapat mencapai sekitar triliunan per bulan; dan ketika upah mengupas bawang disebut Rp700 ribu per kilogram.
Ketiganya segera menjadi bahan koreksi, satire, meme, dan serangan politik. Di permukaan, semuanya tampak sebagai salah ucap. Namun dalam logika strategi, justru karena tampak sederhana, mudah dipahami, dan mudah dipersoalkan, sebuah “kesalahan” bisa memiliki daya ledak komunikasi.
Dalam militer, feint attack merupakan tindakan yang sengaja dirancang untuk membuat lawan mempercayai bahwa suatu serangan akan dilakukan pada satu titik tertentu, sehingga perhatian dan sumber daya lawan tertarik ke sana.
Tujuan utamanya bukan memenangkan pertempuran di titik semu tersebut, melainkan membuat medan lain menjadi lebih terbuka. Feint bekerja melalui penciptaan persepsi palsu, misdirection, timing, dan kemampuan membaca reaksi lawan.
Dengan kata lain, serangan tipu tidak menyerang tubuh lawan, melainkan cara lawan membaca keadaan.
Salah Ucap sebagai Umpan Persepsi Politik
Prinsip ini bisa diterapkan dalam komunikasi politik. Bedanya, jika dalam perang konvensional umpan berupa gerakan pasukan, tank palsu, atau sinyal radio, dalam perang persepsi politik umpan dapat berupa kata, angka, humor, hiperbola, bahkan salah ucap yang disengaja.
Tujuannya untuk mengganggu konsentrasi lawan, menciptakan ketidakpastian, serta memperoleh keuntungan taktis.
Dalam kasus “8 + 8 = 17”, bukan lagi sekadar persoalan matematika. Ia menjadi umpan atensi. Dalam beberapa jam, publik terbagi menjadi kelompok yang menertawakan, membela, mengoreksi, menyerang, dan mencoba menjelaskan.
Sesungguhnya, pada saat itulah fungsi pertama verbal feint bekerja: membaca medan sosial-politik.
Di zaman digital, seorang pemimpin bahkan tidak memerlukan unit intelijen untuk mengetahui secara kasar siapa yang berada di sisi mana. Satu pernyataan kontroversial dapat membongkar seperti sonar yang dipancarkan ke lautan opini; yang penting bukan bunyinya, melainkan pantulannya.
Pernyataan kontroversial adalah sonar yang dapat memperlihatkan siapa yang marah, siapa yang membela, siapa yang memilih diam, serta bagaimana arus opini publik terbentuk.
Inilah manfaat sosial-politik pertama: opinion mapping. Respons masyarakat menjadi data. Media mana yang paling agresif, kelompok politik mana yang paling cepat menyerang, influencer mana yang menjadi amplifier, isu apa yang mudah membangkitkan kemarahan, bahkan bahasa seperti apa yang paling efektif menembus masyarakat; semuanya dapat terlihat melalui pola reaksi.
Manfaat kedua adalah agenda diversion. Dalam perang, feint digunakan untuk menarik pasukan lawan menjauh dari sasaran utama. Dalam politik, verbal feint dapat menarik energi publik menuju isu yang sebenarnya tidak strategis.
Ketika jutaan orang sibuk memperdebatkan apakah “8 + 8” adalah 16 atau 17, kapasitas perhatian publik terserap oleh kontroversi tersebut. Padahal perhatian merupakan sumber daya politik.
Siapa yang mampu menentukan apa yang diperdebatkan masyarakat, pada tingkat tertentu, telah menguasai medan.
Membaca Reaksi, Menguji Lawan, dan Menguasai Medan
Strategi pengalihan semacam ini merupakan jantung dari feint attack. Manipulasi persepsi dapat membuat lawan memberikan respons terlalu cepat, mengalokasikan sumber dayanya ke arah yang salah, dan terlambat membaca sasaran sebenarnya.
Dalam arena politik, sumber daya tersebut bukan pasukan dan amunisi, melainkan waktu, perhatian, narasi, energi media, dan modal emosional masyarakat.
Manfaat ketiga adalah reaction testing. Salah ucap yang disengaja dapat menjadi semacam trial balloon. Pemerintah memperoleh kesempatan melihat bagaimana masyarakat bereaksi terhadap isu pangan, pendapatan, pekerjaan, biaya hidup, atau kebijakan tertentu tanpa terlebih dahulu mengeluarkan keputusan formal.
Misalnya, kontroversi mengenai penggilingan padi yang menghasilkan angka triliunan tidak berhenti pada perdebatan angka.
Secara tidak langsung, publik diajak membicarakan struktur industri beras, margin penggilingan, rantai distribusi, dominasi pelaku besar, dan siapa sesungguhnya yang menikmati nilai tambah sektor pangan.
Demikian pula pernyataan mengenai Rp700 ribu untuk mengupas bawang dapat memindahkan percakapan menuju persoalan produktivitas, lapangan kerja, pendapatan masyarakat, serta betapa jauhnya jarak antara angka ekonomi makro dan pengalaman ekonomi sehari-hari.
Dengan demikian, angka yang salah dapat membuka percakapan yang benar.
Manfaat keempat adalah mendorong lawan membuka posisi terlalu dini. Inilah salah satu keuntungan klasik feint attack. Seorang petinju melakukan gerakan pukulan palsu bukan karena berharap pukulan itu mengenai lawan, tetapi agar lawan menaikkan tangannya.
Ketika tangan naik, bagian tubuh lain terbuka.
Dalam politik pun demikian. Sebuah kalimat provokatif dapat membuat lawan bereaksi spontan. Ketika seseorang bereaksi terlalu cepat, ia sering mengungkap lebih banyak daripada yang semestinya: preferensi politiknya, kemarahannya, jejaringnya, bahkan argumentasi yang kelak dapat dipatahkan.
Feint attack memang bekerja dengan mengeksploitasi kecenderungan psikologis manusia untuk mengantisipasi dan bereaksi terhadap stimulus yang dianggap penting. Respons spontan itulah yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh pelaku strategi.
Manfaat kelima adalah political unpredictability. Dalam strategi, pemimpin yang seluruh gerakannya dapat ditebak adalah pemimpin yang mudah dikalahkan. Sebaliknya, sedikit ketidakpastian memaksa lawan menyediakan banyak skenario.
Ia tidak pernah benar-benar yakin apakah sebuah pernyataan harus ditanggapi serius, dibiarkan, atau justru sedang menjadi umpan.
Presiden Prabowo datang dari tradisi militer yang sangat mengenal pentingnya surprise, deception, reconnaissance, dan economy of force. Dalam konteks inilah gaya komunikasinya dapat dibaca bukan semata-mata sebagai komunikasi administratif seorang kepala pemerintahan, tetapi juga sebagai komunikasi seorang ahli strategi.
Kadang keras, kadang humoris, kadang hiperbolis, dan sesekali membiarkan “kesalahan” menjadi bola liar yang bergerak sendiri di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, feint attack mengajarkan bahwa dalam perang maupun politik, tidak semua yang terlihat sebagai kelemahan merupakan kelemahan.
Ada kalanya seorang jenderal mundur beberapa langkah justru agar lawan maju terlalu jauh. Ada kalanya seorang petinju membuka pertahanan untuk mengundang pukulan.
Dan mungkin, ada kalanya seorang pemimpin “salah bicara” justru agar semua orang lain mulai berbicara.***





0 Tanggapan
Empty Comments