Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Puti Guntur: Bung Karno Sangat Mengidolakan KH Ahmad Dahlan Sejak Muda

Iklan Landscape Smamda
Puti Guntur: Bung Karno Sangat Mengidolakan KH Ahmad Dahlan Sejak Muda
Puti Guntur Soekarno saat berpidato dalam peluncuran buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo di Balai Budaya,Kamis (25/6/2026). Foto: Istimewa
pwmu.co -

Cucu Presiden pertama Republik Indonesia, Puti Guntur Soekarno, mengungkapkan bahwa Bung Karno sangat mengidolakan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Menurutnya, KH Ahmad Dahlan menjadi salah satu tokoh yang memberi pengaruh penting dalam pembentukan karakter dan spiritualitas Soekarno muda saat tumbuh di Surabaya.

Hal itu disampaikan Puti saat memberikan pidato pada peluncuran buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo di Balai Budaya Kompleks Balai Pemuda Surabaya, Kamis (25/6/2026).

Acara tersebut dihadiri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, serta Prof. Purnawan Basundoro yang memimpin tim penyusun buku.

Dalam pidatonya yang disampaikan tanpa teks, Puti menegaskan bahwa Surabaya bukan sekadar kota tempat Bung Karno dilahirkan, melainkan ruang sejarah yang membentuk kepribadian, pemikiran, dan nasionalismenya.

“Beliau sangat gandrung, sangat mengidolakan KH Ahmad Dahlan, tokoh Muhammadiyah,” ujar Puti.

Ia menuturkan, setiap kali KH Ahmad Dahlan berkunjung ke Surabaya, Soekarno muda selalu berusaha mengikuti dan mendengarkan dakwah serta pemikiran sang ulama pembaru.

Dari situlah, kata Puti, tumbuh fondasi spiritual Islam yang kelak menyatu dengan gagasan kebangsaan Bung Karno.

“Jiwa spiritualitas Islam Bung Karno ditempa di Surabaya. Setiap KH Ahmad Dahlan datang ke Surabaya, Soekarno muda selalu mengikutinya,” ungkapnya.

Surabaya Tempat Bung Karno Digembleng

Puti juga mengisahkan bagaimana perjalanan hidup Bung Karno tidak bisa dilepaskan dari Surabaya dan lingkungan yang membesarkannya. Menurutnya, ada alasan historis yang sangat penting mengapa Soekarno muda dititipkan kepada HOS Tjokroaminoto di Surabaya.

“Allah memiliki rahasia mengapa Bung Karno dilahirkan di Surabaya dan dititipkan kepada HOS Tjokroaminoto, bukan di Jakarta atau Semarang,” katanya.

Di rumah Tjokroaminoto, Soekarno muda bertemu dengan beragam pemikir dan aktivis pergerakan. Kota Surabaya yang multikultural dan menjadi tempat berkumpulnya tokoh-tokoh pergerakan nasional membuat wawasan kebangsaan Bung Karno semakin terasah.

Ia menyaksikan secara langsung ketimpangan akibat kolonialisme dan imperialisme. Pengalaman itu menumbuhkan kebencian terhadap penjajahan sekaligus membakar semangat perjuangannya.

“Jiwanya terbakar di rumah HOS Tjokroaminoto. Di situlah nasionalismenya tumbuh semakin kuat,” ujarnya.

Puti menegaskan bahwa pemimpin besar tidak lahir secara instan. Mereka dibentuk oleh lingkungan, proses panjang, dan tempaan sejarah.

“Tidak ada pemimpin instan. Bung Karno melalui proses gemblengan yang panjang hingga menjadi sosok yang kita kenal hari ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Puti juga mengulas salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Indonesia, yakni lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945.

Ia mengisahkan, ketika Ketua BPUPKI Radjiman Wedyodiningrat mempertanyakan dasar yang akan digunakan oleh negara Indonesia merdeka, Bung Karno menjawab bahwa bangsa ini harus memiliki landasan ideologis yang kokoh sebelum merdeka.

Pada 1 Juni 1945, Bung Karno kemudian menyampaikan pidato monumental di hadapan sidang BPUPKI yang merumuskan lima prinsip dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

Menurut Puti, tidak banyak pemimpin dunia yang bukan hanya menjadi kepala negara, tetapi juga mampu melahirkan ideologi bagi bangsanya.

SMPM 5 Pucang SBY

“Kita harus bangga memiliki presiden seperti Bung Karno. Banyak presiden besar dan terkenal di dunia, tetapi menjadi seorang ideolog, seorang pemikir yang meletakkan dasar ideologi bagi bangsanya, hanya sedikit yang mampu melakukannya. Salah satunya adalah Bung Karno,” tegasnya.

Ia menyayangkan masih adanya kerancuan narasi sejarah yang membuat sebagian masyarakat enggan mengakui peran Bung Karno sebagai penggali Pancasila.

“Kalau bangsa lain bangga mengakui para ideolognya, mengapa kita seakan malu mengakui Bung Karno sebagai penggali Pancasila?” katanya.

Melawan De-Soekarnoisasi Melalui Buku

Puti menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Surabaya atas terbitnya buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo.

Menurutnya, karya tersebut tidak hanya menjadi referensi sejarah yang komprehensif, tetapi juga upaya penting untuk meluruskan narasi sejarah tentang Bung Karno.

“Bagi saya, buku ini bukan sekadar referensi tentang Bung Karno. Buku ini adalah salah satu cara untuk mendobrak De-Soekarnoisasi yang sejak lama menutupi ide, gagasan, dan pemikiran Bung Karno,” ujar Anggota Komisi X DPR RI ini.

Ia meyakini Surabaya akan terus menjaga api sejarah Bung Karno sebagai kota yang melahirkan, membesarkan, dan menggembleng salah satu tokoh terbesar bangsa Indonesia.

“Surabaya adalah kota nasionalis, kota pahlawan, kota para pemikir bangsa. Di sinilah Bung Karno ditempa. Saya yakin Surabaya akan terus membawa api sejarah Bung Karno,” kata Puti.

Puti mengapresiasi terbitnya buku komprehensif tersebut. “Mewakili keluarga besar Bung Karno, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para penulis dan Cak Eri,” katanya.

Ia menilai buku itu mendobrak De-Soekarnoisasi yang menutupi sejarah kelam dan gagasan Bung Karno.”Buat saya buku ini adalah salah satu cara untuk mendobrak De-Soekarnoisasi yang sekian lama ditutupi,” ujarnya.

Puti berharap buku membantu generasi muda memahami perjalanan sejarah Bung Karno di Surabaya.

“Buku ini menjadi salah satu jalan bagaimana generasi muda dapat merasakan perjalanan sejarah Bung Karno,” katanya.

Ia menyebut buku disusun berbasis riset akademik dari arsip di Indonesia dan Belanda. “Ini didasari atas riset yang tidak hanya di arsip Indonesia tetapi juga di luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu, Prof Purnawan Basundoro dari Unair, menjelaskan riset berangkat dari otobiografi Bung Karno. “Di dalam buku otobiografi yang ditulis Cindy Adams, beliau jelas menyebutkan bahwa lahir di Surabaya,” katanya.

Tim penulis melakukan riset lama untuk membuktikan tempat kelahiran Bung Karno di Surabaya.

“Kami melakukan riset yang cukup lama untuk membuktikan bahwa Bung Karno memang betul lahir di Kota Surabaya,” ujarnya.

Menurut Prof Basundoro, berbagai dokumen tertulis hampir semua menyatakan Bung Karno lahir di Surabaya. “Di buku itu kami cantumkan bukti yang menyatakan bahwa Bung Karno memang lahir di Kota Surabaya,” paparnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 25/06/2026 18:25
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu