Sampah plastik tidak selalu berakhir di tempat sampah. Siswa kelas II SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman (SD Mumtaz) membuktikannya melalui pembelajaran STEM bertajuk “Eco Charm: Turning Plastic Waste into Precious Keychains”, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan secara rutin setiap Rabu ini mengajak siswa mengolah sampah plastik menjadi gantungan kunci. Melalui proyek tersebut, siswa belajar mengenali persoalan lingkungan sekaligus mencari solusi kreatif dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar.
Kegiatan diawali dengan mengamati kondisi lingkungan sekolah dan mengidentifikasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan sampah plastik. Siswa kemudian melakukan observasi serta menggali informasi melalui wawancara sederhana menggunakan pertanyaan 5W+1H kepada guru, petugas kebersihan, maupun warga sekolah.
Dari proses tersebut, siswa belajar memahami masalah lingkungan dan menyampaikan hasil pengamatan secara lisan maupun tertulis. Selanjutnya, mereka melakukan brainstorming untuk menemukan berbagai kemungkinan solusi.
Berbagai ide kemudian dipertimbangkan berdasarkan manfaat, fungsi, kemudahan pembuatan, dan ketersediaan bahan. Setelah berdiskusi, siswa memilih solusi berupa daur ulang sampah plastik menjadi gantungan kunci.
Dari Ide Menjadi Karya
Tahap berikutnya adalah prototype. Siswa membuat desain atau sketsa, menentukan alat dan bahan, kemudian mulai mewujudkan rancangan menjadi gantungan kunci. Setelah produk terbentuk, mereka melakukan finishing untuk memperbaiki kerapian dan fungsi karya.
Tidak berhenti pada proses pembuatan, siswa juga menguji hasil karya dengan memperhatikan fungsi, kerapian, dan manfaat produk. Mereka mendiskusikan kelebihan dan kekurangan karya, melakukan perbaikan berdasarkan hasil evaluasi, kemudian menyusun laporan sederhana mengenai proses dan pengalaman selama proyek.
Avina menjelaskan, pembelajaran STEM melalui proyek Eco Charm memberikan pengalaman belajar yang nyata bagi siswa.
“Anak-anak tidak hanya belajar tentang sampah dan lingkungan, tetapi juga belajar berpikir kreatif, bekerja sama, memecahkan masalah, dan menghasilkan sebuah karya dari apa yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Maryam. Ia senang dapat membuat benda baru dari bahan yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.
“Saya suka membuat gantungan kunci karena bisa berkreasi dan membuat bentuk yang saya inginkan. Ternyata sampah plastik bisa dibuat menjadi benda yang bagus,” ungkapnya.
Sementara Shanum mengaku mendapat pengalaman baru tentang pentingnya menjaga lingkungan.
“Saya jadi tahu kalau sampah plastik tidak selalu harus dibuang. Sampah bisa digunakan lagi menjadi barang yang bermanfaat. Saya juga senang karena bisa membuatnya bersama teman-teman,” katanya.
Pada tahap akhir, siswa mempersiapkan media presentasi, memaparkan proses dan hasil proyek, serta mengikuti gelar karya untuk mendapatkan umpan balik. Seluruh rangkaian mengikuti tahapan proyek STEM, mulai dari Empathize, Define, Ideate, Prototype, Test, hingga Communication.
Melalui Eco Charm, siswa belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana. Dari sampah menjadi karya, dari masalah menjadi solusi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments