Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan menghasilkan karya. Di tengah perubahan itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus naik kelas menjadi produser yang mampu menciptakan karya dan solusi.
Pesan tersebut disampaikan Ismail Fahmi, Ph.D, pendiri Media Kernels Indonesia sekaligus pengembang Drone Emprit, dalam Stadium General Pesmaba Fakultas Teknik Gen 26 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), di Hall Dome UMM, Rabu (9/9/2026).
Ismail yang juga Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengatakan, perkembangan AI yang sangat cepat harus diikuti dengan perubahan cara belajar mahasiswa.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar pengguna. Selain jadi pengguna, kita harus jadi produser,” ujarnya.
Menurut Fahmi, mahasiswa perlu belajar menciptakan sesuatu dengan bantuan AI. Bukan hanya gambar, tetapi juga perangkat lunak hingga sistem yang mampu memberikan solusi terhadap persoalan nyata.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa mulai membangun portofolio karya sejak di bangku kuliah. Karya tersebut tidak harus selalu besar.
“Yang penting, ada proses berpikir, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya.
Jangan Habiskan Waktu untuk Scrolling
Fahmi juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam kebiasaan menghabiskan waktu di media sosial.
Scrolling berjam-jam, menurut dia, menjadi persoalan ketika tidak menghasilkan pengetahuan, gagasan, atau karya baru.
Algoritma media sosial juga cenderung menyodorkan konten yang mirip dengan apa yang sebelumnya dikonsumsi pengguna. Jika tidak kritis, mahasiswa akhirnya hanya berputar dalam lingkaran informasi yang sama.
“Kalau Anda tidak gunakan otak, hasilnya akan jelek. AI itu tetap butuh manusia,” katanya.
Karena itu, kemampuan membaca, berpikir, dan menulis tetap penting di tengah kemajuan AI. Menulis, kata Fahmi, bukan sekadar kemampuan menghasilkan teks.
Menulis melatih seseorang menyusun gagasan secara runtut dan membantu berkomunikasi secara lebih baik dengan teknologi AI.
Memasuki dunia kerja, Fahmi mengingatkan bahwa ukuran kompetensi mahasiswa tidak berhenti pada nilai akademik.
Portofolio, pengalaman mengerjakan proyek, kemampuan bekerja dalam tim, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan persoalan menjadi modal penting.
“Contohnya proyek yang benar-benar diterapkan dan memberikan dampak kepada masyarakat. Karya semacam itu dapat menjadi bukti konkret atas kemampuan seorang mahasiswa,” papar dia.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memiliki lembar transkrip nilai, tetapi juga memiliki jejak karya yang menunjukkan apa yang mampu mereka kerjakan.
“Artificial intelligence itu bisa membuat kita jauh lebih bagus, bukan hanya nilai-nilai saja,” tuturnya.
Namun, Fahmi mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan AI sebagai jalan pintas dalam mengerjakan tugas akademik.
Penggunaan AI tetap harus disertai kemampuan memahami dan menjelaskan hasil pekerjaan. Mahasiswa harus mampu mempertanggungjawabkan isi presentasi maupun karya yang dibuat dengan bantuan AI.
“Jika mahasiswa tidak mampu mempertanggungjawabkan isi presentasi atau karya yang dibuat dengan bantuan AI, karya tersebut tidak lagi menunjukkan kemampuan personal mahasiswa,” tegasnya.
Teknologi Harus Berjalan dengan Etika
Selain kemampuan teknis, Fahmi menempatkan etika sebagai kompetensi yang tidak boleh ditinggalkan.
Mahasiswa Fakultas Teknik, menurut dia, tidak hanya dituntut mampu menemukan dan menyelesaikan persoalan melalui teknologi. Mereka juga harus memahami konsekuensi dari setiap teknologi dan keputusan yang dihasilkan.
“Sebab, teknologi pada akhirnya dibuat untuk manusia,” cetus Fahmi.
Karena itu, kemampuan menggunakan AI harus berjalan bersama kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, menghasilkan karya, dan mengambil keputusan secara etis.
Fahmi berharap mahasiswa Fakultas Teknik UMM tidak menjadi penonton ketika perubahan teknologi berlangsung begitu cepat.
Sebaliknya, mereka harus mengambil peran sebagai pencipta. Menghasilkan karya. Membuat sistem. Memecahkan persoalan. Dan menghadirkan teknologi yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Di era AI, mahasiswa bukan lagi sekadar ditanya apa yang mereka ketahui, tetapi apa yang mampu mereka ciptakan,” tutupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments