Perubahan iklim dan krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan menuntut peran aktif yang dapat dimulai dari lingkup keluarga. Merespons tantangan tersebut, dua dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggagas inovasi pengasuhan anak bernama eco-parenting yang diintegrasikan dengan nilai-nilai kearifan lokal Nusantara.
Gagasan tersebut dicetuskan Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., bersama Muhammad Fath Mashuri, S.Psi., M.A., dosen Psikologi UMM.
Kebaruan konsep penelitian dan pengabdian tersebut menjadi salah satu sorotan utama. Salis mengatakan, selama ini diskursus mengenai parenting atau pola asuh di masyarakat sering kali hanya berkutat pada isu penggunaan gawai (gadget), pendidikan akademik, karier, atau kesehatan fisik anak.

“Coba kalau kita bicara parenting, pasti bicaranya tentang gadget, pendidikan, atau kesehatan. Kita hampir tidak pernah berbicara bahwa pengasuhan itu juga sangat penting untuk mengajarkan tentang climate change (perubahan iklim) atau sustainability. Padahal, ini harus jadi pengetahuan mendasar orang tua, karena nanti yang akan hidup 50 tahun ke depan di bumi ini adalah anak-anak kita,” tegasnya.
Menariknya, materi eco-parenting tersebut tidak mengadopsi konsep-konsep Barat yang mainstream, tetapi digali langsung dari akar budaya Indonesia. Salis dan Fath mengombinasikan nilai-nilai kebudayaan dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, khususnya kearifan suku Bugis dan Makassar. Kombinasi lintas budaya ini menjadi salah satu kekuatan konsep tersebut, mengingat Fath berasal dari Sulawesi Selatan.
“Di Jawa misalnya, ada tradisi bersih desa atau bagaimana cara merawat tempat sumber air setiap tahunnya. Ada pula kearifan leluhur petani yang menyebar parutan kelapa ke sawah sebagai bagian dari pupuk alam. Kesadarannya adalah bagaimana kita kembali ke alam dan menghindari bahan kimiawi. Nilai-nilai inilah yang akan kami jadikan bekal materi budaya untuk disampaikan kepada para orang tua yang saat ini banyak yang mulai lupa dengan budaya kita,” urainya.

Inovasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keilmuan psikologi memiliki spektrum yang luas. Keterlibatan Fath Mashuri yang mengawal isu-isu psikologi sosial menunjukkan bahwa ranah psikologi dapat beririsan dengan isu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama di tengah ancaman pemanasan global dan cuaca ekstrem.
Gagasan tersebut mendapat dukungan melalui hibah internasional dari pemerintah Britania Raya (UK). Salis, yang merupakan alumnus program doktoral (S3) Newcastle University, Inggris, menjelaskan bahwa hibah kompetitif tersebut disediakan secara eksklusif bagi para alumni perguruan tinggi UK di seluruh dunia.
“Sifatnya kompetitif, tiap tahun yang dipilih hanya sekitar 15-an orang secara global. Saya sebenarnya sudah pernah mencoba dua tahun lalu, gagal tiga kali, dan baru tahun ini akhirnya masuk,” ungkapnya.
Proyek pengabdian tersebut rencananya mulai diimplementasikan pada November 2026. Setelah tahap penandatanganan kontrak pada Oktober 2026, seluruh rangkaian edukasi eco-parenting ditargetkan rampung sepenuhnya pada Juni 2027. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments