Langit Genteng, Banyuwangi terasa teduh pada Jumat (26/9/2025) sore. Di Aula Panglima Besar Jenderal Soedirman SMK Muhammadiyah 2 (SMK Muda) Genteng, suasana Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Swasta mendadak hening. Semua mata tertuju pada seorang guru Bahasa Jawa, Siti Fatimah, yang tengah melantunkan ayat suci Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 135 dengan suara merdu nan menyentuh hati.
Siapa sangka, guru yang sehari-hari mengajar unggah-ungguh Jawa itu ternyata seorang qariah. Lantunan tilawahnya mengalun indah, memecah kesunyian ruangan dan membuat para hadirin tertegun.
Bakat ini bukan hal baru bagi Siti Fatimah. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 21 September 2025, ia juga memperdengarkan lantunan tilawahnya di hadapan para guru peserta workshop jurnalistik Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Kabupaten Banyuwangi.
Perempuan kelahiran 1996 itu mengaku bakatnya dipupuk sejak kecil. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga seniman religi yang akrab dengan seni suara.
“Saya hobi bernyanyi, suka menirukan nada-nada yang sulit dan nyeleneh. Nada yang membuat deep (dalam) mengena ke dalam hati,” ujarnya.
Fatimah, panggilan akrabnya, adalah anak keempat dari enam bersaudara. Selain menyanyi, ia juga sangat menyukai seni membaca Al-Qur’an. Menariknya, ia dan saudara-saudaranya memiliki jenis suara yang sama, bahkan bisa dibilang mirip.
Ia menceritakan masa lalunya bahwa almarhum bapaknya menginginkan dia menjadi penerusnya, yaitu sebagai kader Qur’ani atau qariah.
“Lama sekali, seingat saya waktu itu saya masih kelas 3 SD. Bapak mengajari saya seni tilawah. Hal pertama yang diajarkan adalah dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah,” kenangnya.
Perempuan yang tinggal di Karangsari Sempu itu juga pernah menjadi delegasi lomba Tilawah jenjang SD tingkat kecamatan. Untuk mempersiapkan lomba tersebut, ia belajar menggunakan panduan tilawah dan rutin mendengarkannya setiap sore di musala dekat rumahnya yang selalu memutar kaset tilawah H. Muammar ZA.
Fatimah mengaku sangat mengagumi Muammar ZA. “Saya cukup ngefans dengan qari satu ini karena setahu saya Muammar ZA mendapatkan kuota haji lewat juara lomba tilawah. Ia memiliki nafas panjang dan nada tinggi yang stabil tanpa suara putus,” ungkapnya.
Lebih lanjut Fatimah menceritakan bahwa ketika mengikuti perlombaan tilawah jenjang SD, dirinya sudah berani melakukan improvisasi lagu karena menurutnya tilawah berbeda dengan tartil. Berkat bakat dan keberaniannya tersebut, juri menobatkannya sebagai Juara I.
Saat duduk di bangku SMP, ia terus mengasah kemampuannya dengan mengikuti ekstrakurikuler tilawah. Ia pun terpilih menjadi delegasi lomba dan kembali meraih Juara I.
Pada saat prestasinya sedang menanjak, Fatimah sempat mengalami masa sulit karena kehilangan bapak tercintanya. Ditambah lagi, keluarganya menghadapi kesulitan ekonomi yang cukup berat sehingga ibu dan kakaknya menjadi tumpuan utama keluarga.
Meskipun demikian, Fatimah tetap mampu meraih Juara II lomba tilawah saat duduk di bangku SMA serta Juara Harapan II dalam Festival Anak Shalih Muhammadiyah.
Menyadari prestasi dan semangatnya menurun, Fatimah bingung dan berusaha mencari guru qari, namun tidak berhasil.
“Alhasil maqra (surat dalam quran) yang saya baca adalah surat yang itu-itu saja,” sambungnya.
Ia mengingat kembali motivasi dirinya untuk belajar tilawah, yakni berharap mendapatkan hadiah umrah. Semangatnya pun kembali bangkit.
Melalui jalur beasiswa Banyuwangi Cerdas, ia berhasil melanjutkan kuliah dan menjadi mahasiswa angkatan pertama dalam kerja sama antara ISI Surakarta dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Di sinilah ia mendapatkan pengalaman baru, semangat baru, serta wawasan yang lebih luas dengan mengambil Program Studi Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan.
Fatimah yang menyukai olah vokal itu memang sejak kecil senang menirukan gaya nada yang rumit dan menantang.
“Menurut saya itu keren, maka saya ambil jurusan karawitan ini,” tandasnya.
Pengalaman kuliahnya menunjukkan bahwa seni itu luas. Bukan hanya vokal religi, tetapi juga banyak vokal etnik seperti Banyuwangi, Bali, dan Sunda. Semua itu memiliki perbedaan sesuai karakternya masing-masing.
Semasa kuliah, Fatimah mendapat kesempatan mengikuti seleksi Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN). Ia berhasil terpilih sebagai salah satu dari tiga delegasi yang mewakili kampusnya.
Saat itu, ia merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari delegasi kampus dalam ajang MTQMN ke-XVI yang diselenggarakan di Provinsi Aceh pada tahun 2019.
“Bagi saya ini bukan hanya sekadar usaha, tapi juga keberuntungan rezeki dari Allah SWT. Toh saya pernah berdoa, kalau pun belum bisa ke Mekkah, semoga bisa sampai dulu ke Serambi Mekkah-nya Indonesia, yaitu Aceh,” katanya.
Meskipun begitu, ia mengakui bahwa dirinya belum bisa dibilang benar-benar mahir. Ia memang mudah memahami nada, namun untuk variasi nada tilawah yang lebih kompleks, ia merasa masih perlu banyak belajar dan berlatih secara giat.
Pada tahun itu, ia mengikuti ajang MTQMN bersamaan dengan salah satu peserta delegasi dari Universitas Indonesia, Syamsuri Firdaus, yang pernah meraih juara tilawah tingkat internasional.
Satu hal yang paling berkesan baginya adalah momen saat bertilawah atau mendengarkan lantunan tilawah. Ia mengaku sering merinding setiap kali mendengar ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan dengan indah.
Ke depannya, ia ingin terus berkarya, memulai dari hal-hal kecil, memberikan motivasi, serta menjadi pribadi yang lebih baik dan menginspirasi.
Pada Juli 2024, ia memutuskan untuk mengabdi sebagai seorang pendidik di SMK Muda Genteng. Selain mengajar, ia juga mendapat tugas tambahan sebagai Koordinator Ekstrakurikuler Seni Tari.
Ia selalu mengingat nasihat gurunya untuk terus belajar. Baginya, tidak mudah untuk tetap bersinar, maka talenta harus terus diasah seperti permata. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments