Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Guru Besar Ilmu Sejarah Unair Bagikan Tips Menulis Biografi Tokoh Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Guru Besar Ilmu Sejarah Unair Bagikan Tips Menulis Biografi Tokoh Muhammadiyah
Prof Dr Purnawan Basundoro SS MHum (tengah) dalam Sang Maestro: Jatim Historical Leadership Program oleh PWM Jatim, Minggu (05/07/2026). (Istimewa/PWMU.CO).
pwmu.co -

Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Purnawan Basundoro SS MHum membagikan tips untuk menulis biografi Tokoh Muhammadiyah.

Momentum tersebut berlangsung pada hari kedua agenda Sang Maestro: Jatim Historical Leadership Program 2026 di SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya, Minggu (05/07/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut bertujuan mendorong lahirnya penulis sejarah Muhammadiyah sekaligus mendokumentasikan kiprah para tokoh Muhammadiyah di berbagai daerah di Jawa Timur.

Tercatat, agenda ini terhadiri oleh sekitar 30 peserta yang berasal dari berbagai penjuru Jawa Timur, antara lain Banyuwangi, Malang, Nganjuk, Tulungagung, Gresik, hingga Surabaya.

Sebagai informasi, kegiatan ini merupakan kolaborasi Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) bersama Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.

Tips Menulis Tokoh Muhammadiyah

Sebagai pembuka, Mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga ini menjelaskan secara singkat makna dari biografi. “Biografi biasanya mengisahkan perjalanan hidup tokoh penting, pahlawan, atau seseorang yang memiliki pengaruh besar” terangnya.

Secara umum, lanjutnya, biografi dibuat dalam bentuk catatan tertulis. Berbeda dari autobiografi, biografi umumnya mengunakan nada yang lebih formal dan juga lebih objektif.

Dalam kaitannya dengan Tokoh Muhammadiyah, Prof Purnawan menyebut jika ruang lingkup kehidupan tokoh dapat mencakup beberapa hal. Antara lain detail tempat kelahiran, lingkungan keluarga, latar belakang pendidikan, riwayat pekerjaan, hingga kiprah dalam persyarikatan.

“Kita juga bisa menulis biografi tidak secara lengkap, melainkan hanya periode tertentu saja dari tokoh yang akan diceritakan” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof Purnawan turut menerangkan prinsip dalam menulis biografi, yaitu:

Pertama, penulisan biografi haruslah berdasarkan Fakta (Fact-Based). “Segala hal yang dicertakan merupakan kisah nyata dari tokoh, sehingga harus rasional” tegas Prof Purnawan.

Kemudian yang kedua adalah menggunakan sumber yang kredibel. Semua informasi harus berasal dari sumber yang dapat dipercaya dan diverifikasi. “Semakin dekat sumber dengan peristiwa yang diteliti, semakin tinggi nilai sejarahnya” tuturnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketiga adalah bersifat objektif. Menurut Prof Purnawan, penulisan sejarah harus menghindari keberpihakan yang berlebihan. Kendati demikian, ia juga menjelaskan bahw objektivitas absolut sulit dicapai, sebab setiap sejarawan memiliki perspektif tertentu.

Adapun keempat yaitu kenggunakan bahasa ilmiah yang jelas. Menurutnya, bahasa dalam penulisan biografi hendaknya lugas, sistematis, objektif, mudah dipahami, dan menghindari kalimat provokatif.

“Kalimat yang baik menjelaskan fakta dan analisis secara tepat tanpa berlebihan” tambah Prof Purnawan. Di samping itu, ia juga menyarankan agar menghindari penggunaan kalimat-kalimat asing yang jarang diketahui masyarakat.

Apresiasi Ketua MPKSDI

Di sisi lain, Ketua MPKSDI PWM Jawa Timur, Dr Phil M Rokib MA menyampaikan bahwa acara ini berlangsung dengan sangat spesial.

Hal tersebut tak lepas dari keaktifan peserta yang seolah tiada henti-hentinya. Dalam sejumlah kesempatan, tampak peserta membanjiri forum dengan pertanyaan maupun membagikan wawasan penting hingga durasi materi berakhir.

Berbeda dengan kegiatan pelatihan lainnya yang membutuhkan pemantik supaya peserta dapat aktif bertanya.

Di samping itu, Pria asal Lamongan tersebut juga mendorong agar agenda ini tak berhenti usai penutupan. Melainkan terus berlanjut dengan penerbitan buku maupun pembentukan komunitas sejarawan.

“Sejarah Muhammadiyah juga penting untuk dituliskan. Kisah para tokoh di tingkat grassroot perlu didokumentasikan agar peran mereka dalam mendakwahkan Muhammadiyah dapat diketahui oleh generasi berikutnya” ujarnya.

“Kisah para tokoh di tingkat grassroot akan menunjukkan bahwa gerakan dakwah Muhammadiyah bukan hanya lahir dari kalangan elite, tetapi juga tumbuh dari masyarakat yang dekat dengan kehidupan umat,” jelas Rokib.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 05/07/2026 20:16
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu