Tidak semua ujian datang dalam bentuk kemiskinan, kegagalan, atau kesedihan. Ada ujian yang jauh lebih halus. Datang bak air mata. Bahkan sering kali disambut dengan senyum, tepuk tangan, dan ucapan selamat. Ujian itu bernama kedekatan dengan kekuasaan.
Tidak sedikit orang yang sejak muda bercita-cita menjadi orang yang berpengaruh. Ada yang ingin menjadi pejabat, pimpinan, anggota dewan, direktur, atau berada di lingkaran orang-orang penting.
Semua itu bukanlah sesuatu yang keliru. Islam tidak pernah melarang seseorang memiliki jabatan, pengaruh, maupun kekuasaan selama diperoleh dengan cara yang benar dan digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Namun, semakin dekat seseorang dengan kekuasaan, semakin besar pula ujian yang menantinya.
Ujian itu bukan semata-mata godaan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ujian yang lebih berbahaya justru ketika hati mulai berubah tanpa disadari.
Dulu harus mengantre. Kini pintu terbuka sebelum sempat mengetuk. Dulu harus memperkenalkan diri. Kini banyak orang berebut ingin mengenal.
Dulu mencari nomor telepon orang penting. Kini justru orang-orang yang berlomba menyimpan nomor telepon kita.
Dulu perjalanan dilakukan dengan kendaraan biasa. Kini tersedia mobil dinas, ruang VIP, pengawalan, atau berbagai fasilitas yang memudahkan.
Semua itu bisa menjadi konsekuensi dari amanah yang diemban. Tidak ada yang salah dengan fasilitas yang melekat pada jabatan.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika fasilitas itu perlahan mengubah cara kita memandang diri sendiri.
Awalnya merasa bersyukur. Lalu merasa terbiasa. Kemudian merasa pantas. Akhirnya merasa berhak. Di sinilah bahaya itu bermula.
***
Al-Qur’an telah mengingatkan, kelapangan hidup sama besarnya dengan kesempitan hidup sebagai ujian dari Allah.
Firman-Nya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)
Ayat ini mengajarkan bahwa kemudahan bukan selalu tanda kemuliaan. Sebaliknya, kesulitan pun bukan bukti kehinaan. Keduanya adalah ujian.
Begitu pula jabatan. Begitu pula pengaruh. Begitu pula privilege yang datang bersamanya. Sering kali yang berubah bukan diri kita lebih dahulu, melainkan cara orang memperlakukan kita.
Orang berdiri ketika kita datang. Orang tertawa pada candaan yang biasa saja. Orang memuji setiap keputusan kita. Orang segan mengkritik meskipun kita keliru.
Bila tidak memiliki hati yang terjaga, kita akan mengira semua penghormatan itu lahir karena kehebatan pribadi. Padahal sebagian besarnya muncul karena jabatan yang sedang kita sandang.
Hari ini dihormati. Belum tentu besok. Sebab manusia sering kali menghormati kursinya, bukan pemilik kursinya.
Karena itu Rasulullah saw memberikan peringatan yang sangat mendalam mengenai amanah kepemimpinan. Beliau bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengubah cara pandang kita terhadap kekuasaan. Jabatan bukan hadiah. Jabatan adalah pertanggungjawaban.
Bukan kehormatan yang akan ditanya. Melainkan amanah yang telah dijalankan. Ironisnya, ketika seseorang kelewat lama berada dalam kenyamanan kekuasaan, dia mulai kehilangan kemampuan untuk melihat realitas.
Lupa bagaimana rasanya mengantre. Lupa bagaimana rasanya ditolak. Lupa bagaimana rasanya menunggu. Lupa bagaimana rasanya hidup tanpa akses. Padahal di luar sana masih banyak orang yang setiap hari bergelut dengan kesulitan.
Karena itu, salah satu bentuk introspeksi yang paling penting adalah menjaga empati. Jangan sampai fasilitas membuat kita jauh dari denyut kehidupan masyarakat.
Seorang pemimpin yang baik tidak hidup di balik tembok protokoler. Dia tetap mendengar suara orang kecil. Merasakan kesulitan mereka, dan membuka pintu bagi kritik.
Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata, “Seandainya seekor keledai tersandung di Irak karena jalan yang rusak, aku khawatir Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadaku.”
Ungkapan ini bukan sekadar kalimat indah. Ia menunjukkan betapa besarnya rasa takut seorang pemimpin kepada Allah. Semakin luas kekuasaan, semakin besar rasa tanggung jawabnya.
Bandingkan dengan keadaan ketika seseorang justru merasa semakin tinggi jabatan, semakin layak untuk dilayani.
Padahal Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di bumi dan tidak berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 83)
***
Kesombongan tidak selalu tampak dalam ucapan. Kadang ia muncul dalam kebiasaan. Merasa harus didahulukan. Merasa harus dihormati. Merasa tidak pantas dikritik. Merasa pendapatnya selalu benar.
Semua itu adalah penyakit hati yang tumbuh perlahan. Tidak terasa. Tidak terdengar. Namun dampaknya sangat besar.
Rasulullah saw bahkan mengingatkan: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Karena itulah, orang yang dekat dengan kekuasaan membutuhkan muhasabah lebih sering dibandingkan orang lain.
Setiap selesai menghadiri acara, bertanyalah kepada diri sendiri. Apakah saya masih mudah menerima kritik?
Apakah saya masih menghargai orang yang tidak memiliki jabatan? Apakah saya masih mendengarkan bawahan dengan sungguh-sungguh?
Apakah saya masih mau meminta maaf ketika salah? Apakah saya masih mengingat bagaimana perjuangan saya sebelum berada di posisi ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berharga daripada seribu pujian yang kita terima.
Kita juga perlu belajar dari Nabi Yusuf as. Ketika Allah memberikan kepadanya kedudukan yang tinggi di Mesir, beliau tidak larut dalam kemegahan istana. Di penghujung kisahnya, doa yang dipanjatkan justru menunjukkan kerendahan hati:
“Ya Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan mengajarkan kepadaku tafsir mimpi. … Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101)
Perhatikan doa itu. Yang diminta bukan tambahan kekuasaan. Bukan umur panjang dalam jabatan. Bukan semakin luas pengaruh. Melainkan akhir kehidupan yang baik.
Inilah pelajaran terbesar. Semakin tinggi seseorang di mata manusia, seharusnya semakin rendah hatinya di hadapan Allah. Sebab jabatan hanyalah pakaian.
Suatu hari akan dilepas. Fasilitas hanyalah titipan. Suatu hari akan dikembalikan. Pengaruh hanyalah amanah. Suatu hari akan dimintai pertanggungjawaban.
Yang akan menemani kita ke alam kubur bukan mobil dinas, ruang VIP, ajudan, ataupun berbagai kemudahan yang pernah kita nikmati.
Yang ikut hanyalah amal, kejujuran, dan bagaimana kita memperlakukan manusia ketika memiliki kesempatan untuk berkuasa.
Maka, setiap kali hidup terasa semakin mudah karena kedekatan dengan kekuasaan, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai tanda kemuliaan.
Bisa jadi Allah sedang menguji sejauh mana kita mampu menjaga hati. Sebab yang paling berbahaya dari kekuasaan bukanlah ketika seseorang menjadi terkenal. Melainkan ketika ia tidak lagi menyadari bahwa dirinya sedang berubah.
Semoga setiap amanah yang Allah titipkan kepada kita menjadikan hati semakin lembut. Langkah semakin adil. Dan, rasa takut kepada-Nya semakin besar.
Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih. Tapi, seberapa bersih hati yang berhasil dijaga ketika berada di puncak kekuasaan.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments