Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir MSi mengajak seluruh keluarga besar Muhammadiyah menjadikan amal usaha sebagai sarana melayani dan membantu sesama.
Pesan tersebut disampaikan saat meresmikan Gedung Darussyfa dan Darunnajah Rumah Sakit Islam Aisyiyah (RSIA) Malang, Minggu (1/11/2026).
Menurutnya, keberhasilan Muhammadiyah bukan hanya dilihat dari banyaknya lembaga atau megahnya bangunan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk ikut mencerdaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan manusia” terangnya.
“Karena itu, keberadaan rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai amal usaha lainnya harus benar-benar menjadi jalan untuk mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari” tambah Haedar.
Muhammadiyah, lanjutnya, memiliki cita-cita besar untuk menghadirkan kemajuan bagi seluruh umat manusia. Cita-cita tersebut tidak cukup disampaikan melalui dakwah lisan, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Malang, para pemimpin daerah terdahulu, serta masyarakat yang telah mendukung pengembangan RSIA Malang.
Ia berharap kehadiran dua gedung baru tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan Muhammadiyah dan Aisyiyah, tetapi juga memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
Al-Ma’un Mengajarkan Kepedulian, Bukan Sekadar Kata-Kata
Haedar mengingatkan bahwa salah satu kekuatan gerakan Muhammadiyah terletak pada teologi Al-Ma’un.
Ajaran ini mengingatkan umat Islam agar tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Nilai tersebut telah ditunjukkan para pendiri Muhammadiyah melalui berbagai gerakan sosial. Mulai dari mendirikan rumah sakit hingga panti asuhan. Semangat yang sama harus terus dijaga dan dikembangkan oleh generasi sekarang.
“Amal usaha Muhammadiyah tidak cukup hanya tumbuh secara jumlah dan ukuran. Setiap lembaga harus mampu memberikan pelayanan yang berkualitas, dikelola secara profesional, serta benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat” pesannya.
Ia juga mendorong penguatan gerakan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM). Amal usaha yang sudah maju diharapkan dapat membantu lembaga lain yang masih berkembang.
Dengan begitu, kemajuan Muhammadiyah tidak hanya dirasakan oleh lembaga tertentu, tetapi tumbuh bersama secara lebih merata.
Saat ini, Muhammadiyah memiliki jaringan 165 perguruan tinggi, 130 rumah sakit, serta lebih dari 300 klinik dan balai kesehatan. Jaringan tersebut merupakan kekuatan besar untuk memperluas pelayanan pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Ikhlas dalam Pengabdian, Amanah dalam Pelayanan
Selain penguatan kelembagaan, Haedar menekankan pentingnya menjaga keikhlasan dan amanah dalam mengelola amal usaha.
Keikhlasan menjadi dasar seseorang untuk mengabdi, sedangkan amanah menjadi pegangan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
Ia mengingatkan bahwa setiap bantuan, dana, dan sumber daya organisasi harus dikelola secara bertanggung jawab. Pengelolaan yang profesional, transparan, serta didukung pengawasan dan audit yang baik diperlukan agar setiap sumber daya benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Kedisiplinan juga tidak boleh diabaikan. Menurutnya, semangat pengabdian harus berjalan beriringan dengan etos kerja, tanggung jawab, dan tata kelola yang baik.
Dengan demikian, amal usaha Muhammadiyah tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga unggul dalam kualitas pelayanan.
Haedar juga mengingatkan bahwa dakwah Muhammadiyah harus terbuka untuk semua orang. Pelayanan tidak boleh dibatasi oleh perbedaan agama, suku, maupun golongan.
Prinsip Rahmatan lil Alamin harus tercermin dalam tindakan nyata, termasuk ketika Muhammadiyah memberikan layanan pendidikan dan kesehatan kepada masyarakat di berbagai daerah.
Salah satu gambaran keterbukaan tersebut terlihat di Papua melalui fenomena Kristen Muhammadiyah (Krismuha).
Hal ini menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan dan pelayanan Muhammadiyah dapat diterima serta memberikan manfaat bagi masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Hadirkan Pimpinan Muhammadiyah hingga Pemda
Peresmian Gedung Darussyfa dan Darunnajah dihadiri sejumlah tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah, pimpinan amal usaha, serta unsur pemerintah daerah.
Hadir Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr H Haedar Nashir MSi, PP Muhammadiyah Dr Saad Ibrahim MA, Ketua PWM Jawa Timur Prof Dr dr Sukadiono, serta Ketua PWA Jawa Timur Drs Rukmini Amar.
Selain itu, hadir pula Ketua PDM Kota Malang Prof Abdul Haris, Ketua PDA Kota Malang Drs Herawati, Ketua PDM Kabupaten Malang Dr Nurul Humaidi, dan Ketua PDM Kota Batu Dr Salis.
Kemudian Prof Thohir Luth, seluruh direktur rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Jawa Timur, serta pimpinan cabang Muhammadiyah (PCM) dan pimpinan cabang Aisyiyah (PCA) se-Kota Malang.
Dari unsur pemerintahan dan masyarakat, hadir Wali Kota Malang beserta Wakil Wali Kota Malang, Ketua DPRD Kota Malang, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik, serta mantan Wali Kota Malang Sutiaji dan Mochammad Anton.
Peresmian Gedung Darussyfa dan Darunnajah menjadi langkah penting bagi RSIA Malang dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan kesehatan.
Namun, lebih dari sekadar penambahan fasilitas, pembangunan ini membawa tanggung jawab untuk memberikan pelayanan yang semakin baik, ramah, dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Pesan Haedar menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan sebuah amal usaha bukan semata-mata kemegahan gedung atau besarnya institusi.
Hal yang lebih utama adalah kehadirannya ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Di situlah dakwah Muhammadiyah menemukan maknanya: menghadirkan kepedulian melalui pelayanan dan memberikan manfaat bagi sesama.






0 Tanggapan
Empty Comments