Membawa Adab Santri ke Ruang Digital
Pada zaman sekarang, ujian terhadap nilai kesantrian tidak hanya berlangsung di pesantren, masjid, sekolah, atau tempat kerja. Ruang digital juga menjadi medan penting untuk mengukur konsistensi akhlak seseorang.
Media sosial memungkinkan siapa pun menyampaikan pendapat, menyebarkan informasi, dan berinteraksi dengan banyak orang. Namun, kemudahan tersebut juga dapat memicu penyebaran fitnah, penghinaan, dan penghakiman tanpa dasar yang jelas.
Al-Qur’an mengajarkan prinsip tabayyun, yakni memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hujurat ayat 6.
Karena itu, kesantunan tidak boleh berhenti ketika seseorang berhadapan langsung dengan guru atau orang yang dihormati. Sikap yang sama harus ditunjukkan saat menulis komentar, membagikan berita, atau menyampaikan kritik di media sosial.
Adab tidak mengenal ruang. Di dunia nyata maupun digital, akhlak tetap menjadi ukuran.
Pada saat yang sama, teknologi tidak perlu ditakuti atau ditolak. Internet dan media sosial dapat menjadi sarana belajar, berdakwah, mengembangkan usaha, serta menyebarkan pengetahuan yang bermanfaat.
Santri masa kini perlu memiliki kecakapan digital. Mereka dapat membuat konten edukasi, membagikan kajian yang tepercaya, mencari referensi ilmu, dan mengembangkan kegiatan ekonomi melalui platform digital.
Namun, kemajuan teknologi harus tetap disertai kendali diri. Jangan sampai gawai menyita waktu ibadah, membuat seseorang larut dalam aktivitas tanpa manfaat, atau mendorongnya menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Teknologi adalah sarana. Nilai agama dan akhlak tetap menjadi kompasnya.
Menghormati Guru, Menjaga Ibadah, dan Memegang Amanah
Nilai kesantrian juga tercermin dalam hubungan dengan orang tua dan guru. Al-Qur’an memerintahkan manusia berbuat baik kepada kedua orang tua serta bertutur kata mulia kepada mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra’ ayat 23.
Menghormati guru dan orang tua bukan berarti menutup ruang untuk bertanya atau berbeda pendapat. Sikap kritis tetap diperlukan dalam proses belajar. Namun, perbedaan pandangan harus disampaikan dengan santun, tanpa merendahkan orang yang telah membimbing kita.
Ilmu semestinya melahirkan kebijaksanaan, bukan kesombongan.
Hal lain yang tidak kalah penting ialah menjaga ibadah di tengah kesibukan. Pekerjaan, sekolah, bisnis, dan aktivitas digital sering kali menyita perhatian. Karena itu, menjaga salat lima waktu, membaca Al-Qur’an, berdoa, berkata jujur, dan menepati janji perlu menjadi kebiasaan yang terus dirawat.
Perbaikan diri tidak harus menunggu seseorang menjadi alim. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru menjadi fondasi pembentukan karakter.
Nilai kesantrian juga harus tampak dalam urusan pekerjaan dan kehidupan ekonomi. QS. An-Nisa’ ayat 58 memerintahkan manusia menyampaikan amanah kepada yang berhak dan menetapkan keputusan secara adil.
Santri yang menjadi pedagang harus jujur kepada pembeli. Mereka yang bekerja sebagai pegawai harus bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Adapun mereka yang mendapat amanah sebagai pemimpin harus berlaku adil dan tidak menyalahgunakan kewenangan.
Akan terasa ironis jika seseorang fasih berbicara tentang agama, tetapi tidak jujur dalam pekerjaan. Demikian pula jika penampilan religius tidak sejalan dengan tanggung jawab yang dijalankan.
Kesalehan tidak cukup dinilai dari apa yang diucapkan. Ia harus terlihat dalam tindakan.
Sederhana, Peduli, dan Bermanfaat bagi Sesama
Di tengah budaya konsumsi dan gaya hidup yang kerap dipamerkan di media sosial, kesederhanaan menjadi nilai kesantrian yang penting untuk dipertahankan.
Hidup sederhana bukan berarti menolak kesuksesan atau tidak boleh memiliki harta. Kesederhanaan berarti mampu menempatkan sesuatu secara wajar, tidak berlebihan, dan tidak menjadikan materi sebagai ukuran utama kebahagiaan.
QS. Al-Furqan ayat 67 memuji orang-orang yang membelanjakan hartanya secara seimbang, tidak berlebihan dan tidak pula kikir.
Santri boleh menjadi pengusaha, menduduki jabatan penting, meraih prestasi, dan hidup berkecukupan. Namun, keberhasilan itu perlu disertai rasa syukur, kepedulian, dan kesediaan berbagi.
Sebab, kebermanfaatan merupakan bagian penting dari kesalehan.
Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ath-Thabrani).
Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: membantu tetangga, mengajar mengaji, mengikuti kegiatan sosial, menjaga kebersihan lingkungan, dan ikut menyelesaikan persoalan masyarakat.
Tidak semua santri harus menjadi kiai atau ustaz. Mereka dapat berkiprah dalam pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemerintahan, teknologi, dan dunia usaha.
Pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, serta berbagai lembaga sosial yang tumbuh di lingkungan organisasi Islam menunjukkan bahwa nilai kesantrian dapat diwujudkan dalam beragam bentuk pengabdian.
Apa pun profesinya, santri tetap dapat membawa nilai agama ke ruang publik melalui kejujuran, profesionalitas, kepedulian, dan kerja nyata.





0 Tanggapan
Empty Comments