Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hindari Sindrom Sarjana Kertas, J.S. Khairen Ajak Mahasiswa UMM Perkaya Keterampilan

Iklan Landscape Smamda
Hindari Sindrom Sarjana Kertas, J.S. Khairen Ajak Mahasiswa UMM Perkaya Keterampilan
pwmu.co -

Menjawab keresahan tentang lulusan perguruan tinggi yang minim keterampilan praktis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan penulis novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas, J.S. Khairen, dalam kegiatan bincang santai bertajuk Nyore Sastra.

Kegiatan yang digelar secara outdoor di area Helipad UMM, Kamis (9/7/2026), tersebut mengupas fenomena “sarjana kertas” sekaligus membagikan kiat menulis buku yang menarik dan bermakna kepada mahasiswa.

Dalam pemaparannya, J.S. Khairen menyoroti tekanan yang dialami mahasiswa akibat tingginya ekspektasi orang tua maupun lingkungan pendidikan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat melahirkan lulusan yang hanya memiliki ijazah, tetapi belum memiliki arah dan kesiapan menghadapi dunia nyata.

“Ekosistem yang menekan dari ekspektasi orang tua hingga mahasiswa yang tersesat memilih jurusan, pada akhirnya hanya akan melahirkan satu generasi represif yang sekadar menjadi sarjana kertas,” ungkapnya.

Untuk menghindari kondisi tersebut, ia mengajak mahasiswa terus mengembangkan berbagai keterampilan di luar bidang studi utama, salah satunya melalui peningkatan literasi.

Khairen juga membagikan berbagai tips menulis bagi pemula, mulai dari membangun kebiasaan membaca setiap hari, memperkaya pengalaman, hingga menyusun karakter dalam cerita secara matang.

“Pemberian nama tokoh harus sesuai dengan sifat, pesan, atau makna yang dibawa oleh karakter tersebut, sehingga pembaca bisa langsung menangkap esensi cerita dengan kuat,” urainya.

Selain membahas teknik menulis, Khairen mengingatkan para penulis pemula agar tidak terburu-buru menjadikan profesi menulis sebagai sumber penghasilan utama.

SMPM 5 Pucang SBY

Menurutnya, seorang penulis perlu memiliki kondisi finansial yang stabil dan pengalaman hidup yang cukup agar karya yang dihasilkan memiliki kedalaman makna.

Antusiasme mahasiswa terlihat pada akhir kegiatan. Para peserta diminta menuliskan harapan serta definisi mereka tentang “Bukan Sarjana Kertas” di selembar kertas yang kemudian ditempelkan pada papan styrofoam sebagai simbol komitmen membangun kualitas diri.

Penanggung jawab kegiatan sekaligus pakar sosiolinguistik, Dr. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa gelar sarjana harus diiringi kompetensi yang nyata.

Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Modern (BSI Modern) UMM itu berharap kegiatan Nyore Sastra mampu menumbuhkan kesadaran mahasiswa bahwa ijazah harus dibarengi kualitas, pengalaman, dan keterampilan.

“Sarjana itu tidak cukup, harus memiliki pengalaman, harus memiliki skill, harus ditopang dengan keberanian dan kemampuan yang lain. Jadi tidak cukup sebatas diwisuda dan punya kertas ijazahnya,” pesannya.

Melalui kegiatan edukatif tersebut, mahasiswa diingatkan bahwa perkuliahan bukan sekadar mengejar nilai akademik atau memperoleh ijazah. Mereka juga perlu mengembangkan minat, memperluas jejaring, dan mengasah keterampilan praktis agar mampu beradaptasi, berinovasi, serta siap menghadapi persaingan di dunia kerja.

Revisi Oleh:
  • Satria - 10/07/2026 21:34
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu