Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Smamita Siapkan Sekolah Model dan Smart Class Menuju Prestasi Nasional

Iklan Landscape Smamda
Smamita Siapkan Sekolah Model dan Smart Class Menuju Prestasi Nasional
Staf Kurikulum Smamita, Junaidi, S.Pd. sedang menyampaikan program kurikulum di ruang Demokrasi. Foto: Nashiiruddin/PWMU.CO
pwmu.co -

SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) menggelar rapat penyesuaian program yang melibatkan seluruh bidang kerja, mulai dari Kurikulum, Kesiswaan, ISMUBA, Humas, SDM, hingga Sarana dan Prasarana. Rapat tersebut berlangsung di Ruang Demokrasi lantai 2 Smamita, Kamis (9/7/2026).

Dalam rapat tersebut, Staf Kurikulum Smamita, Junaidi, S.Pd., menjelaskan bahwa Smamita telah ditunjuk sebagai sekolah model implementasi PM dan KKA. Penunjukan ini menjadi langkah strategis untuk menjadikan Smamita sebagai sekolah rujukan bagi sekolah-sekolah lain.

“Menjadi sekolah model bukan berarti harus menjadi sekolah yang sudah sempurna. Semua sekolah memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi sekolah model sesuai tahapan yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Menurut Junaidi, predikat sekolah model menuntut peningkatan kualitas di berbagai aspek, terutama pada proses pembelajaran. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi yang kuat antarseluruh bidang, mulai dari Kurikulum, Kesiswaan, Humas, SDM, Sarana dan Prasarana, hingga seluruh guru serta tenaga kependidikan.

“Keberhasilan sekolah model tidak bisa dicapai oleh satu bidang saja. Dibutuhkan kerja sama seluruh tim agar tujuan bersama dapat terwujud,” tambahnya.

Ia menjelaskan, Smamita diharapkan menjadi mini laboratorium pendidikan yang melahirkan berbagai inovasi pembelajaran dan praktik baik yang dapat direplikasi oleh sekolah lain.

Pengembangan sekolah model dilakukan melalui empat tahapan. Tahap pertama adalah prototipe, yakni penyusunan konsep dan uji coba perangkat pembelajaran. Tahap kedua adalah laboratorium, yaitu fase pematangan ketika sekolah menjadi ruang inovasi, penelitian praktik baik, serta penyempurnaan kurikulum.

Selanjutnya, tahap pusat rujukan, ketika sekolah menjadi acuan di tingkat daerah maupun nasional dalam penerapan otonomi belajar, etika digital, dan manajemen mutu. Tahap terakhir adalah pengimbasan, yakni fase ketika sekolah menyebarluaskan praktik baik kepada sekolah-sekolah lain.

Saat ini, Smamita masih berada pada kategori berkembang dan menargetkan naik ke level maju hingga unggul pada tahun ini.

“Menjadi sekolah model berarti membangun kebiasaan belajar yang baik, baik bagi guru maupun siswa. Proses pembelajaran harus mampu mendorong refleksi diri sehingga siswa memahami kebutuhan belajarnya, sementara guru terus melakukan perbaikan dalam proses mengajar,” jelasnya.

Smart Class Jadi Program Unggulan

Selain penguatan sekolah model, Smamita juga memperkenalkan Program Smart Class sebagai program unggulan untuk meningkatkan prestasi akademik siswa.

SMPM 5 Pucang SBY

Junaidi menegaskan bahwa Smart Class bukan program tandingan maupun program eksklusif, melainkan program milik Smamita yang memerlukan dukungan dan sinergi seluruh guru.

“Target Smart Class adalah membawa Smamita masuk 100 besar nasional berdasarkan capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT),” ungkapnya.

Ia menilai persaingan masuk perguruan tinggi negeri (PTN) semakin kompetitif. Oleh sebab itu, mutu sekolah kini tidak hanya diukur dari proses pembelajaran, tetapi juga dari capaian TKA, hasil SNBT, serta jumlah lulusan yang diterima di PTN unggulan.

Program Smart Class dirancang sebagai pembinaan akademik yang terstruktur, terukur, dan berbasis data, bukan sekadar penambahan jam belajar. Seluruh pelaksanaannya tetap berlandaskan budaya RESPECT (Religious, Smart, Positive, Creative).

Dalam implementasinya, Smart Class dibagi menjadi dua kategori.

Pertama, Outstanding Academic Class (OAC) yang diperuntukkan bagi siswa dengan capaian akademik tertinggi. Kelas ini diproyeksikan mampu meraih skor UTBK sekitar 700 dan nilai TKA minimal 80. OAC terdiri atas dua kelas besar dengan kapasitas maksimal 50 siswa setiap kelas yang dipersiapkan untuk bersaing masuk PTN unggulan.

Kedua, Potential Academic Class (PAC) yang ditujukan bagi siswa berpotensi tinggi dengan growth mindset yang kuat. Peserta PAC diproyeksikan mencapai skor UTBK sekitar 640 dan nilai TKA minimal 70. Program ini terdiri atas tiga kelas besar dengan kapasitas maksimal 50 siswa di setiap kelas. Siswa PAC juga berkesempatan dipromosikan ke OAC setiap semester berdasarkan perkembangan prestasi akademiknya.

Melalui penguatan sekolah model dan implementasi Smart Class, Smamita berharap mampu meningkatkan mutu pendidikan sekaligus melahirkan lulusan yang unggul, berkarakter, dan siap bersaing di perguruan tinggi terbaik di Indonesia. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 09/07/2026 11:09
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu