Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Apakah Sekolah Masih Tempat yang Menyenangkan?

Iklan Landscape Smamda
Apakah Sekolah Masih Tempat yang Menyenangkan?
Oleh : Eko Budi Agus Priatna Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF – PCM Sidoarjo

Setiap pagi, jutaan anak Indonesia berangkat ke sekolah dengan langkah yang hampir sama. Di punggung mereka tergantung tas berisi buku pelajaran, alat tulis, bekal makan, dan harapan orang tua.

Sebagian melangkah dengan riang, sebagian lagi berjalan sambil menguap karena semalam masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah. Di gerbang sekolah mereka berbaris, memasuki kelas, membuka buku, lalu memulai rutinitas yang nyaris sama setiap hari.

Namun, pernahkah kita bertanya, apa sebenarnya yang mereka bawa pulang? Barangkali sebagian akan pulang membawa nilai yang baik. Sebagian lain membawa catatan tugas yang harus segera diselesaikan.

Ada yang pulang dengan cerita tentang guru yang menyenangkan, ada pula yang pulang dengan wajah murung karena merasa gagal menjawab soal ulangan. Tetapi ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita: apakah hari itu membuat mereka semakin mencintai belajar?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun, justru di situlah letak persoalannya. Pendidikan kita terlalu sering bertanya tentang hasil, sementara lupa bertanya tentang pengalaman.

Kita begitu sibuk mengukur apa yang diketahui anak, tetapi jarang berhenti untuk memahami bagaimana mereka belajar. Padahal, setiap anak lahir dengan rasa ingin tahu yang nyaris tak berbatas.

Lihatlah seorang balita ketika menemukan dunia di sekelilingnya. Ia bertanya tanpa lelah: mengapa langit berwarna biru? Mengapa hujan turun? Mengapa semut berjalan berbaris? Dunia adalah ruang penuh keajaiban yang ingin ia pahami.

Tidak ada yang menyuruhnya belajar, tidak ada nilai, tidak ada hadiah ataupun hukuman. Rasa ingin tahu itulah yang menggerakkannya.

Ironisnya, seiring bertambahnya usia, pertanyaan-pertanyaan itu justru semakin berkurang. Di sekolah, anak mulai belajar bahwa jawaban yang benar lebih penting daripada pertanyaan yang baik.

Mereka terbiasa menunggu penjelasan guru, menghafal isi buku, dan berusaha menjawab sesuai kunci jawaban. Perlahan-lahan, keberanian untuk bertanya digantikan oleh kecemasan untuk tidak salah.

Tentu saja sekolah tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Guru bekerja di tengah tuntutan kurikulum, administrasi, asesmen, dan berbagai target yang harus dipenuhi.

Orang tua pun hidup dalam kegelisahan yang sama—menginginkan masa depan terbaik bagi anak di tengah persaingan ketat, hingga nilai rapor dianggap sebagai penentu segalanya.

Tanpa disadari, pendidikan berubah menjadi perlombaan panjang: belajar agar naik kelas, lulus ujian, masuk sekolah favorit, dan mendapat pekerjaan. Semua tujuan itu penting, tetapi ada satu hal yang kian langka: apakah anak masih menikmati prosesnya?

Menemukan Kembali Arah Melalui Para Pembaru

Pertanyaan tersebut bukanlah hal baru. Lebih dari seabad yang lalu, para pembaru pendidikan di berbagai belahan dunia merumuskan kegelisahan yang sama.

Mereka menawarkan jalan berbeda, namun berpijak pada satu keyakinan: sekolah seharusnya membantu anak bertumbuh sebagai manusia, bukan sekadar mencetak angka-angka statistik.

Di Italia, seorang dokter muda bernama Maria Montessori mengamati bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan lebih banyak instruksi. Mereka berkembang pesat ketika diberi kebebasan untuk mencoba, memilih, mengulang, dan melakukan kesalahan.

Montessori memulai bukan dengan merombak kurikulum, melainkan dengan mengubah cara memandang anak. Guru ditempatkan sebagai pendamping yang peka, dan ruang kelas diatur agar anak dapat belajar dari pengalaman langsung.

Menariknya, dalam sejarah Indonesia, kita menemukan semangat yang seirama. Pada awal abad ke-20, KH Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta, merenungkan makna pendidikan di tengah bayang-bayang penjajahan.

Baginya, sekolah tidak cukup hanya melahirkan orang pandai, melainkan manusia yang menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

SMPM 5 Pucang SBY

Kisah ketulusan beliau saat mengajarkan Surah Al-Ma’un berulang-ulang kepada murid-muridnya—hingga mereka bertanya mengapa diulang terus—menghadirkan jawaban yang menohok: “Apakah kalian sudah mengamalkannya?”

Di titik itulah pelajaran berubah menjadi kehidupan. Ilmu tidak berhenti sebagai hafalan, melainkan menjelma menjadi kepedulian nyata terhadap fakir miskin dan kaum dhuafa.

Ketika kita menyandingkan gagasan Montessori dan KH Ahmad Dahlan, kita melihat benang merah yang kuat: keduanya tidak sedang merancang metode teknis semata, melainkan mengajarkan cara memandang manusia.

Montessori membantu kita memahami bagaimana anak belajar, sementara Ahmad Dahlan mengingatkan mengapa mereka harus belajar. Yang satu mengawal proses, yang lain menjaga arah.

Tantangan Zaman: Ketika Mesin Mengambil Alih Ingatan

Mengapa pesan-pesan ini menjadi sangat krusial di era modern hari ini? Kita sedang hidup di era yang serba cepat.

Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) hadir di ruang-ruang kelas, dan informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Anak-anak dapat meminta AI menjelaskan rumus atau menyusun karangan dalam sekejap.

Jika sekolah hari ini hanya berfungsi mengajarkan hal-hal yang juga bisa dilakukan oleh mesin, maka sekolah cepat atau lambat akan kehilangan esensinya.

Ada ranah-ranah kemanusiaan yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi: kemampuan berempati, bekerja sama, mengambil keputusan bermoral, serta menghadirkan kasih sayang.

Di sinilah ujian terbesar bagi para pengambil kebijakan daerah, kepala sekolah, dan guru. Kita sering tergoda mencari aplikasi paling canggih atau metode paling mutakhir, padahal akar persoalannya sering kali bermula dari ruang kelas yang gagal memberi ruang bagi rasa ingin tahu anak.

Kisah seorang guru SD yang membiarkan muridnya yang “sulit diam” keluar kelas untuk mengamati daun dan semut membuktikan satu hal: anak-anak bukanlah orang dewasa dalam skala kecil.

Ketika diberi ruang untuk menyentuh, mengamati, dan bertanya, belajar bertransformasi menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan.

Menghidupkan Kembali Esensi Pendidikan

Pada akhirnya, kita tidak sedang diminta memilih antara Montessori atau KH Ahmad Dahlan. Yang sedang kita pertaruhkan adalah cara kita memperlakukan anak-anak kita.

Apakah mereka akan terus dilihat sebagai deretan angka di atas lembar ujian, atau sebagai tunas bangsa yang bertumbuh dengan keunikan dan nurani?

Di tengah dunia yang kian digital, sekolah harus tetap menjadi tempat suci di mana anak-anak belajar menjadi manusia seutuhnya:

  • Belajar mendengarkan dan menghargai perbedaan.
  • Belajar bekerja sama tanpa sekat.
  • Belajar gagal tanpa kehilangan harapan.
  • Belajar berhasil tanpa kehilangan kerendahan hati.

Kelak, bertahun-tahun setelah mereka menanggalkan seragam sekolah, rumus-rumus rumit mungkin akan terlupa.

Namun, mereka akan selalu mengenang guru yang memantik keberanian mereka untuk bertanya, sekolah yang menumbuhkan rasa percaya diri, dan nilai-nilai yang menuntun mereka memperlakukan sesama dengan belas kasih.

Sebab, tugas paling abadi dari pendidikan tidak pernah berubah: bukan sekadar mencerdaskan pikiran, melainkan memanusiakan manusia.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 07/08/2026 23:10
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu