Tim Program Kreativitas Mahasiswa skema Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menguji keandalan Needle Crusher Integrated System (NECIS) di tiga fasilitas kesehatan.
Inovasi penghancur limbah jarum suntik berbasis internet of things (IoT) ini diuji secara langsung untuk memastikan kesiapan teknologi dalam mendukung pengelolaan limbah medis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) infeksius.
Uji keandalan NECIS dilakukan di tiga fasilitas kesehatan dengan skala pelayanan berbeda, yakni Rumah Sakit (RS) UMS A.R. Fachruddin, Muhammadiyah Medical Center (MMC) UMS, dan Praktik Mandiri Bidan Diah Wahyu Adi, Polokarto.
Pemilihan tiga lokasi tersebut bertujuan memvalidasi kinerja dan efektivitas NECIS pada berbagai tingkat layanan kesehatan, mulai dari rumah sakit, klinik utama, hingga praktik mandiri.
Selama pengujian lapangan, seluruh anggota tim PKM-KC UMS turun langsung memastikan setiap tahapan berjalan dengan baik. Tim tersebut terdiri dari Daffa Satria Nugraha, Mahmudah Mufidatul Hasanah, Hengky Boyyanza, Safaila Mefia Zahra, dan Evandra Ardhy Pratama.
Ketua Tim PKM-KC UMS Daffa Satria Nugraha mengatakan, uji coba tersebut merupakan tindak lanjut dari purwarupa NECIS yang dikembangkan bersama dosen pembimbing, Ir. Dedi Ary Prasetya, S.T., M.Eng.
“Melalui pengujian langsung ini, kami bisa mengevaluasi seluruh proses terintegrasi pada NECIS. Mulai dari kecepatan penghancuran (rotary shredder) dalam 30 detik, sterilisasi patogen dengan sinar UV-C, pemisahan otomatis serpihan logam dan plastik, hingga fitur pemantauan kapasitas limbah real-time via dashboard IoT,” jelas Daffa, Selasa (8/9/2026).
Pengujian di RS UMS A.R. Fachruddin pada 10 Agustus 2026 mendapat respons positif dari pihak rumah sakit. Perwakilan rumah sakit, dr. Denny Setyawan, menilai desain NECIS cukup compact dan praktis karena ukurannya memungkinkan alat ditempatkan di atas troli medis.
Daffa mengatakan, pihak rumah sakit juga mengapresiasi hasil cacahan limbah jarum yang dinilai bagus dan halus.
“Fitur monitor dasbor juga dinilai memudahkan petugas dalam memantau kondisi limbah,” tegasnya.
Respons positif juga disampaikan perwakilan MMC UMS, dr. Vita Fauziah Noer Hidayah dan dr. Ida Ayu Esti Widiantari.
Keduanya menilai performa NECIS sudah baik, terutama karena alat tersebut mampu menghancurkan jarum suntik secara keseluruhan hingga tuntas.
“Ukuran NECIS yang portabel menjadi keunggulan karena memungkinkan alat ditempatkan di berbagai ruang pelayanan,” ujar Ida.
Sementara itu, Bidan Diah Wahyu Adi, pengelola Praktik Mandiri Bidan Diah Wahyu Adi di Polokarto, menilai NECIS sesuai untuk digunakan pada fasilitas pelayanan kesehatan berskala praktik mandiri. Ia juga menyatakan puas terhadap kinerja alat tersebut.
Pengujian di tiga fasilitas kesehatan dengan karakteristik pelayanan berbeda ini memberikan gambaran mengenai kemampuan NECIS untuk digunakan pada berbagai kebutuhan pengelolaan limbah jarum suntik.
Tidak hanya berfungsi menghancurkan jarum suntik, NECIS mengintegrasikan sejumlah proses dalam satu sistem, mulai dari penghancuran, sterilisasi, pemisahan material, hingga pemantauan kapasitas limbah secara real-time melalui dashboard IoT.
Implementasi NECIS di tiga fasilitas kesehatan tersebut juga menunjukkan potensi alat dalam mengurangi risiko needle stick injury (NSI) atau insiden tertusuk jarum suntik bekas pada tenaga kesehatan.
Ke depan, hasil evaluasi dari uji keandalan di tiga fasilitas kesehatan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan NECIS.
Tim berharap inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut dan diimplementasikan secara luas untuk mendukung keselamatan tenaga kesehatan sekaligus pengelolaan limbah medis yang lebih aman dan ramah lingkungan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments