Menulis buku sejarah bukan lagi hal baru bagi PDM Surabaya dan Ketua Majelis Pustaka Informasi dan Digitalisasi (MPID), Drs Andi Hariyadi MPdI.
Buktinya, nyaris setiap kegiatan Milad maupun Kajian Ramadan, selalu ada peluncuran buku dari Muhammadiyah Surabaya.
Hal tersebut disampaikan pada Akademi Sejarah Muhammadiyah 2026 oleh MPI PP Muhammadiyah di Hotel Dafam Pacific Caesar Surabaya.
Pada materi ketiga agenda tersebut, Andi menyampaikan tema “Best practice Gerakan Penulisan Sejarah Muhammadiyah di PWM Jatim”.
Yang menarik, sebelum menyampaikan materi, Andi turut membagikan salah satu buku karya PDM Surabaya berjudul “Jejak Langkah Tokoh Muhammadiyah Surabaya”.
Buku ini memuat sejumlah profil Tokoh Muhammadiyah di Surabaya era 1921 hingga 2025.
Selain kiprahnya di Surabaya, Andi juga menuturkan bahwa kebiasaan menulis tersebut ia bawa hingga ke tingkah wilayah.
Di Jawa Timur tersebut, Andi mengingat bahwa Mantan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Almarhum Nadjib Hamid kerap memberikan dorongan hingga mendampingi dirinya dan rekan-rekannya.
Atas gemblengan tersebut, tak heran jika kini PWM Jawa Timur menjadi wilayah yang menghasilkan karya sejarah terbanyak dengan 33 buku. “Di setiap event, selalu ada yang dipersembahkan” tuturnya.
Meskipun demikian, Andi menuturkan bahwa membangun tim penulis tersebut bukan tanpa halangan. Minimnya minat pada penulisan sejarah membuatnya harus memutar otak, sehingga mengutamakan kualitas dibanding kuantitas. “Minoritas tapi berkualitas” tegasnya.
Adapun untuk memotivasi penulis agar gemar menulis, Andi menyampaikan bahwa dirinya seringkali menyertakan guru-guru, terutama guru Kemuhammadiyahan.
“Kemudian guru sejarah, namun tetap perlu dibekali dengan materi Muhammadiyah” terang Andi.
Selanjutnya, Andi juga membuatkan kisi-kisi materi penulisan sejarah, kemudian menjelaskannya dengan detail kepada anggota tim penulis.
Lebih lanjut, Andi juga membuka sejumlah cerita sejarah yang pernah terjadi di Surabaya. Salah satunya interaksi dr Soetomo dengan Ketua PP Muhammadiyah 1937-1942, KH Mas Mansyur.
“dr Soetomo belum sempat bertemu KH Ahmad Dahlan. Tapi sempat berinteraksi dengan KH Mas Mansyur” ujarnya.
Tepat pada 14 September 1924, beroperasi rumah sakit Muhammadiyah di Surabaya yang kini bernama RS PKU Muhammadiyah.
“(dr Soetomo) yang menginisiasi berdirinya berbagai poliklinik di Surabaya. Rumahnya di simpang dukuh, sering dijadikan tempat pengobatan gratis untuk masyarakat” ujar Andi.





0 Tanggapan
Empty Comments