Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jihad Ekonomi ‘Aisyiyah: Saat Perempuan Menjadi Penggerak Kemandirian Umat

Iklan Landscape Smamda
Jihad Ekonomi ‘Aisyiyah: Saat Perempuan Menjadi Penggerak Kemandirian Umat
Jihad Ekonomi ‘Aisyiyah: Saat Perempuan Menjadi Penggerak Kemandirian Umat
Oleh : Baroya Mila Shanty, S.E., M.M Dosen Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang

Di era Industri 4.0 dan Society 5.0, tantangan ekonomi tidak lagi hanya berkisar pada persoalan modal dan pasar. Tantangan terbesarnya adalah mampukah kita beradaptasi dengan arus digitalisasi tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan?

Selama ini, Muhammadiyah dan ’Aisyiyah dikenal luas melalui tiga pilar utamanya: Pendidikan, Kesehatan, dan Sosial.

Semua lapisan masyarakat sudah mengetahui hal itu dari banyaknya lembaga pendidikan yang dikelola, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.

Begitu pula di sektor kesehatan dengan berdirinya berbagai klinik, Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), serta rumah sakit umum.

Di bidang sosial, pengabdian tersebut mewujud nyata melalui jaringan Panti Asuhan, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), LazisMu, hingga lembaga resiliensi bencana seperti MDMC.

Namun, gerakan ini tidak berhenti di sana. Sejak Muktamar di Makassar, ekonomi secara resmi dicanangkan sebagai pilar gerakan Muhammadiyah selanjutnya yang harus dikelola secara serius.

Saat ini, kita sudah menyaksikan bermunculannya perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh persyarikatan.

Mulai dari pembangunan pabrik infus di kota Malang, PT Syarikat Surya Ecomining, PT Mentari Swadaya, perbankan syariah, jaringan perhotelan, lini penerbitan dan media, SPBU, hingga biro perjalanan haji dan umrah.

Di sinilah “Jihad Ekonomi” dijalankan, dan ’Aisyiyah menjawab tantangan zaman tersebut bukan sekadar lewat slogan, melainkan sebagai sebuah keniscayaan.

1. Perintah Agama yang Menjadi Tuntutan Zaman

Jihad secara syar’i adalah berjuang, berusaha, dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan din Allah. Rasulullah SAW sendiri telah mencontohkan cetak biru jihad ekonomi: mulai dari berniaga, membangun pasar Madinah, hingga mengentaskan kemiskinan.

Jika kemiskinan didekatkan oleh Nabi dengan peringatan “hampir mendekati kekufuran”, maka membiarkan umat berada dalam jerat kemiskinan hari ini sama artinya dengan membuka lebar pintu kemaksiatan dan ketergantungan.

’Aisyiyah memahami realitas ini secara mendalam. Oleh karena itu, penguatan ekonomi bukanlah sebuah pilihan opsional, melainkan kewajiban kolektif.

Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi perempuan dan keluarga Muhammadiyah yang terjebak di dalam lingkaran kemiskinan struktural.

2. Kemandirian Ekonomi Sbg Kunci “Perempuan Berkemajuan”

Visi ’Aisyiyah Abad Kedua dengan tegas menegaskan tiga pilar utama: Islam Berkemajuan, Gerakan Pencerahan, dan Perempuan Berkemajuan.

Namun, mari kita berefleksi secara jujur: bagaimana kaum hawa bisa disebut “berkemajuan” jika mayoritas UMKM dikelola perempuan, tetapi pertumbuhannya tertahan akibat keterbatasan akses modal, pasar, dan ekosistem digital?

Apakah mereka mampu “mencerahkan” jika masih harus bergantung secara finansial? Serta mungkinkah menjadi “pelaku perubahan” jika usaha binaan masih jalan di tempat?

SMPM 5 Pucang SBY

Menjawab persoalan tersebut, ’Aisyiyah melalui Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan meluncurkan program kerja yang konkret, sistematis, dan terukur. Jaringan pemberdayaan ini digerakkan secara berjenjang dari hulu ke hilir:

  • Pengajian Ekonomi ’Aisyiyah (PEA): Langkah awal untuk menumbuhkan kesadaran kolektif agar perempuan Islam berkemajuan bangkit, mandiri, produktif, dan membawa rahmat bagi semesta.
  • Usaha BUEKA (UBUEKA): Gerakan Bina Usaha Ekonomi Keluarga ’Aisyiyah yang menjadi stimulan kerja bersama agar kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat sekitar tumbuh lebih sinergis dan kolaboratif.
  • Sekolah Wirausaha ’Aisyiyah (SWA): Pusat pelatihan terstruktur untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan, manajemen bisnis, dan keterampilan para pelaku usaha.
  • Klinik Usaha Keluarga ’Aisyiyah (KUKA): Wadah pendampingan, konsultasi, dan fasilitasi agar kelompok-kelompok usaha ekonomi keluarga ’Aisyiyah dapat terus bertumbuh serta berkembang.
  • Koperasi: Instrumen strategis untuk mendukung pertumbuhan usaha melalui penguatan akses permodalan dan peningkatan literasi keuangan keluarga.
  • Lumbung Hidup ’Aisyiyah (LHA): Aksi nyata pemenuhan ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan usaha produktif di sektor pertanian.
  • Ikatan Saudagar dan Wirausaha ’Aisyiyah (ISWARA): Wadah perikatan para saudagar dan wirausaha ’Aisyiyah untuk meningkatkan kualitas diri di bawah pembinaan Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan.
  • Pemberdayaan Kelompok Rentan: Serangkaian program pendampingan untuk memandirikan kelompok pekerja informal (pekerja rumahan, perempuan kepala rumah tangga, buruh tani, nelayan) serta pekerja migran Indonesia beserta keluarganya.

Program-program di atas adalah bentuk jihad yang nyata di lapangan, bukan sekadar wacana di atas kertas.

3. Digitalisasi Soal Hidup dan Mati UMKM

Argumen seperti “tidak perlu digitalisasi, yang penting jualan laku” sudah kedaluwarsa. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ekonomi digital membuat aktivitas bisnis jauh lebih efisien, ramah inovasi, dan mendorong inklusi keuangan secara luas.

Digitalisasi telah terbukti menjadi penopang utama perekonomian, terutama saat menghadapi masa-masa krisis.

Namun, kita juga harus bersikap kritis. Pemanfaatan teknologi informasi pada semua kegiatan ekonomi masih memerlukan perhatian serius.

Belum semua wilayah di Indonesia memiliki kualitas infrastruktur internet yang memadai, dan kemampuan teknis UMKM kita belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan industri.

’Aisyiyah telah bergerak menumbuhkan pasar-pasar digital secara mandiri dari, oleh, dan untuk warga ’Aisyiyah. Namun, langkah internal ini belum cukup.

Diperlukan kolaborasi strategis dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur, sekaligus mendorong digitalisasi keuangan melalui Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan koperasi.

Fokus utama yang paling krusial adalah pendampingan yang intensif. Tujuannya agar ibu-ibu pelaku UMKM tidak hanya sekadar “memiliki akun di marketplace”, tetapi benar-benar mampu berjualan secara efektif, mengelola arus kas keuangan, dan naik kelas.

4. Jihad Ekonomi Adalah Jihad Peradaban

Apa yang sedang dijalankan ’Aisyiyah saat ini adalah jihad abad ke-21. Ini adalah gerakan terpadu melawan kemiskinan struktural dan memangkas kesenjangan digital. Sebuah komitmen besar untuk mencetak perempuan yang tidak hanya saleha secara spiritual, tetapi juga produktif, mandiri, dan berdaulat secara ekonomi.

Jika visi “Perempuan Berkemajuan” ingin diwujudkan secara utuh, maka penguatan ekonomi harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Rumus peradabannya sangat jelas: Perempuan kuat secara ekonomi = Keluarga kuat = Umat kuat = Bangsa kuat.

Menolak penguatan ekonomi perempuan sama saja dengan menghambat kemajuan bangsa itu sendiri. Melalui manhaj Islam Berkemajuan, ’Aisyiyah telah menentukan arah langkahnya: bergerak, berjuang, dan tidak sekadar menunggu perubahan.

Wallahu a’lam bishawab.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 07/08/2026 22:35
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu