Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KH Ahmad Dahlan di Mata Tokoh PKI Alimin

Iklan Landscape Smamda
KH Ahmad Dahlan di Mata Tokoh PKI Alimin
Alimin

Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan dikenal suka bergaul dengan banyak pihak. Bukan hanya yang berideologi Islam, bahkan juga mereka yang aktif di Partai Komunis Indonesia (PKI). Salah satunya adalah Alimin, yang punya kenangan tersendiri tentang karakter KH Ahmad Dahlan.

Untuk memperingati setengah abad usia Muhammadiyah, tahun 1962, Departemen Penerangan Republik Indonesia menerbitkan buku khusus. Judulnya “Makin Lama Makin Tjinta”, yang di antara isinya adalah pendapat para tokoh nasional tentang Muhammadiyah dan atau KH Ahmad Dahlan.

Salah satu tokoh yang dikutip adalah Alimin, salah satu tokoh PKI yang juga jebolan Sarekat Islam (SI). Dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan ideologi komunisme, sejak paham ini masuk pertama kali ke Indonesia pada akhir 1910-an. Harap dicatat, bahwa pelarangan PKI di Indonesia baru berlaku pada tahun 1966.

“K.H. Achmad Dachlan, orangnya djudjur dan saleh. Hidupnja sederhana dan tidak sombong, begitu pula tidak suka mentjela. Saja kenal sejak mudanja,” begitu kata Alimin. Kesaksian ini termaktub di halaman 216 buku “Makin Lama Makin Tjinta”.

Kesaksian itu tentu saja menjadi menarik. Bukan hanya karena menggambarkan karakter pendiri Muhammadiyah, tetapi juga nasasumbernya. Sebab, Alimin adalah seseorang yang kemudian memilih jalan ideologi yang sangat berbeda dengan Ahmad Dahlan.

Alimin tidak berbicara mengenai perdebatan ideologi. Melainkan mengenai watak pribadi Ahmad Dahlan. Menurutnya, pendiri Muhammadiyah ini identik dengan kejujuran, kesalehan, kesederhanaan, kerendahan hati, dan sikap yang tidak gemar mencela orang lain.

Kesaksian itu tentu saja memiliki nilai historis karena berasal dari pengalaman langsung. Bukan cerita turun-temurun. Salah satu perjumpaan Alimin dengan KH Ahmad Dahlan terjadi ketika dia tinggal nge-kost di rumah HOS Tjokroaminoto di Peneleh, Surabaya. Sekitar tahun 1916 hingga 1917-an.

Pada masa itu, Tjokroaminoto adalah Ketua Central Sarekat Islam (SI). Rumahnya menjadi salah satu pusat intelektual terpenting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Di rumah itulah berbagai tokoh muda berkumpul untuk berdiskusi mengenai kolonialisme, Islam, nasionalisme, hingga sosialisme. Mereka tidak selalu sepakat, tetapi berada dalam ruang dialog yang sama.

Alimin menjadi salah satu penghuni rumah tersebut. Melalui HOS Tjokroaminoto, ia mengenal langsung KH Ahmad Dahlan yang kerap datang dalam kapasitasnya sebagai penasihat bidang keagamaan CSI.

Hubungan KH Ahmad Dahlan dan HOS Tjokroaminoto memang cukup erat. Keduanya sama-sama memandang Islam sebagai sumber pembaruan masyarakat, meski memilih medan perjuangan yang berbeda.

SMPM 5 Pucang SBY

Sejarawan Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942 menjelaskan bahwa hubungan Muhammadiyah dan Sarekat Islam pada fase awal bersifat saling melengkapi. Tak heran jika sejak Kongres Sarekat Islam pada 1914, KH Ahmad Dahlan selalu diposisikan sebagai Penasehat dalam kepengurusan CSI.

Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, menggambarkan Sarekat Islam sebagai ruang pertemuan berbagai gagasan politik yang sedang tumbuh di Hindia Belanda. Di dalamnya terdapat kelompok Islam, nasionalis, hingga sosialis yang sama-sama menentang kolonialisme. Meski memiliki cita-cita politik yang berbeda.

Sejarawan Harry J. Benda dalam Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang menjelaskan, pembaruan Islam pada awal abad ke-20 tidak hanya bertujuan memurnikan ajaran agama. Tapi juga membangun masyarakat Muslim yang modern, rasional, dan berpendidikan.

“… maka abad ke-20 menyaksikan tampilnya sisi lain yang bersifat urban, reformis, dan dinamis,” tulis Harry J. Benda.

Dalam konteks inilah Muhammadiyah tampil sebagai kekuatan sosial yang berpengaruh. Pandangan itu juga menjelaskan kenapa KH Ahmad Dahlan lebih banyak dikenang melalui keteladanan hidup. Karakter itu pula yang tampaknya membekas dalam ingatan Alimin.

Ketika Sarekat Islam pecah akibat masuknya pengaruh sosialisme dan komunisme –yang berpuncak 1921–, jalan politik Alimin berpisah jauh dari KH Ahmad Dahlan. Alimin memilih bergabung dengan gerakan komunis, sedangkan Muhammadiyah tetap konsisten bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial.

Namun, perbedaan ideologi itu tidak menghapus penghormatan Alimin pada pribadi KH Ahmad Dahlan. Puluhan tahun setelah sang pendiri Muhammadiyah wafat pada 1923, Alimin pada 1962 masih mengingatnya sebagai sosok yang jujur, saleh, sederhana, rendah hati, dan tidak suka mencela orang lain.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 07/07/2026 11:31
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu