Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

I Love Me: Mengubah Kritik Menjadi Apresiasi Diri

Iklan Landscape Smamda
I Love Me: Mengubah Kritik Menjadi Apresiasi Diri
Belakangan ini juga muncul anggapan bahwa menyalahkan diri sendiri adalah bagian dari evaluasi diri. (Risti Nurul Azizah/PWMU.CO).

Oleh: Risti Nurul Azizah

Mahasiswa universitas Muhammadiyah Ponorogo

Di era sekarang, rasanya semakin mudah menemukan orang yang begitu keras terhadap dirinya sendiri. Sedikit melakukan kesalahan, langsung merasa gagal.

Ada target yang tidak tercapai, langsung menyalahkan diri berlebihan. Bahkan, tidak sedikit yang sering berdebat dengan dirinya sendiri, mempertanyakan setiap keputusan yang telah diambil, lalu menghakimi diri seolah menjadi hakim paling kejam dalam hidupnya.

Ironisnya, perlakuan yang tidak akan mereka berikan kepada orang lain justru sering mereka berikan kepada diri mereka sendiri.

Menyalahkan Diri dan Evaluasi

Belakangan ini juga muncul anggapan bahwa menyalahkan diri sendiri adalah bagian dari evaluasi diri. Memang benar, mengakui kesalahan dan melakukan refleksi merupakan hal yang wajar. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika evaluasi berubah menjadi penghukuman tanpa henti.

Alih-alih belajar dari kesalahan, seseorang justru terus-menerus terjebak dalam rasa bersalah. Akibatnya, kesalahan yang seharusnya menjadi bahan pembelajaran malah berubah menjadi beban yang terus dibawa ke mana-mana.

Fenomena ini semakin sering ditemui pada generasi saat ini yang akrab dengan overthinking dan memiliki standar yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri.

Mereka ingin selalu tampil baik, berhasil, dan memenuhi ekspektasi yang kadang bahkan tidak realistis. Ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan, mereka cenderung fokus pada kekurangan daripada usaha yang telah dilakukan.

Padahal, kesalahan merupakan bagian alami dari proses bertumbuh. Tidak ada manusia yang belajar tanpa pernah gagal. Sayangnya, sebagian orang menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri, hingga lupa bahwa mereka telah berusaha sebaik mungkin dengan kemampuan yang dimiliki saat itu.

SMPM 5 Pucang SBY

Kebanyakan orang saat ini memiliki standar yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri. Mereka ingin selalu berhasil, selalu tampil baik, dan selalu memenuhi ekspektasi yang telah mereka tetapkan.

Di sisi lain, banyak pula yang tanpa sadar memiliki keinginan untuk menjadi seperti orang lain yang dianggap lebih sukses, lebih menarik, atau lebih bahagia. Fenomena ini semakin diperkuat oleh perkembangan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.

Platform-platform tersebut sering kali dipenuhi oleh potongan-potongan kehidupan terbaik seseorang, mulai dari pencapaian, kebahagiaan, hingga berbagai keberhasilan yang diraih.

Sementara itu, kegagalan, kesedihan, dan perjuangan yang mereka alami jarang ditampilkan secara utuh. Akibatnya, banyak orang mulai membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang sebenarnya hanya mereka lihat dari layar.

Pintu Masalah Psikologis

Perbandingan yang terus-menerus dilakukan akhirnya melahirkan berbagai masalah psikologis, seperti overthinking, perfeksionisme, dan ketakutan berlebihan terhadap kegagalan. Seseorang menjadi merasa bahwa dirinya tertinggal, kurang berbakat, atau tidak cukup baik dibandingkan orang lain.

Ketika target yang mereka pasang tidak tercapai, mereka mulai menghakimi diri sendiri dengan sangat keras. Kesalahan kecil dianggap sebagai bukti ketidakmampuan, sementara keberhasilan yang telah diraih sering kali diabaikan begitu saja.

Padahal, tidak ada manusia yang mampu memenuhi standar kesempurnaan setiap saat. Sayangnya, banyak orang justru menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk merendahkan dirinya sendiri, bukan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 02/06/2026 17:18
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu