Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muharam dan Transformasi Gerakan Pendidikan Semesta

Iklan Landscape Smamda
Muharam dan Transformasi Gerakan Pendidikan Semesta
Indar Cahyanto, M.Pd., guru SMAN 25 Jakarta, sekaligus Ketua Majelis Pustaka Informasi dan Hubungan Kelembagaan PCM Ciracas. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Indar Cahyanto, M.Pd. Ketua Majelis Pustaka Informasi dan Hubungan Kelembagaan PCM Ciracas

Muharam dan Transformasi Peran Pendidikan Semesta dapat membawa kita pada sebuah refleksi mendalam mengenai pergantian tahun dalam kalender Hijriah.

Pergantian bulan Muharam bukan sekadar penanda perubahan angka pada kalender, melainkan sebuah momentum kultural dan spiritual yang sarat akan makna akan suatu gerakan transformasi, migrasi kesadaran (hijrah), dan pembaruan sistem hidup, termasuk di dalamnya dunia pendidikan.

Proses transformasi diupayakan dan didorong agar terjadi suatu proses perbaikan secara meluas dalam lapisan masyarakat.

Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimulaikan dari 12 bulan Hijriah dalam sistem penanggalan Islam. Di bulan ini bagian dari kerangka di mana umat Islam tidak diperkenankan untuk melakukan keburukan atau peperangan.

Dalam arti lain di bulan ini, umat Islam sangat dilarang untuk berbuat zalim dan dianjurkan melipatgandakan amal saleh, karena nilai pahala dan dosanya dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam surat at-Taubah Ayat 36: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa”.

Dalam penjelasan Tafsir Al-Quran Kemenag Allah SWT. menetapkan periode orbit bumi mengitari matahari selama setahun yang setara dengan dua belas bulan, yaitu dua belas kali ketampakan bulan sabit akibat bulan mengitari bumi.

Keteraturan periode waktu inilah yang menjadi patokan untuk perhitungan waktu. Di antara bulan-bulan yang dua belas itu ada empat bulan yang ditetapkan sebagai bulan haram yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab.

Proses perhitungan waktu inilah yang kemudian dijadikan sebagai patokan bagaimana perubahan itu harus dilakukan. Ketika pada masa Nabi Muhammad SAW konteks perpindahan ini dikenal dengan Hijrah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam bentuk nominal hijrah diartikan dengan perpindahan Nabi Muhammad SAW. bersama sebagian pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy, Makkah.

Dalam bentuk verbal, berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya)..

Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah merupakan fondasi dari penanggalan Hijriah. Kemudian dalam konteks pendidikan semesta, “hijrah” harus dimaknai sebagai perpindahan paradigma dari seorang menuju fase kehidupan yang lebih baik.

SMPM 5 Pucang SBY

Ada dua pola yang perlu kita pahami dari sebuah perubahan paradigma Pertama Fase Pola Lama. Pendidikan yang ditampilkan sering kali terjebak pada sekadar transfer pengetahuan semata (knowledge) hanya transfer hafalan dan materi demi sebuah nilai angka yang ada di atas kertas.

Pendidikan semesta menuntut transfer of value (nilai) dan transformation of soul (jiwa). Pendidikan harus berpindah dari sekadar membuat anak “tahu” menjadi membuat anak “bijaksana” dan peduli terhadap lingkungannya. Mengupayakan Pendidikan Akhlak yang lebih domininat dalam membentuk pribadinya.

Makna hijrah harus dimaknai sebagai transformasi paradigma Dari Menghafal ke Menalar: Berpindah dari sistem pendidikan yang sekadar menuntut hafalan tekstual menuju pendidikan yang menumbuhkan daya kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah (problem-solving).

Dari Menolak Perubahan ke Adaptif

Dunia pendidikan harus berhijrah dari zona nyaman metode konvensional menuju pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) secara bijak, tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Sedangkan makna hijrah pendidikan merupakan proses pembelajaran yang tidak hanya disekat oleh dinding-dinding kelas, melainkan pendidikan yang menyatu dengan realitas alam, kemanusiaan, dan spiritualitas peserta didik. Pendidikan yang mampu menghadirkan perjuangan kemerdekaan diri.

Gerakan pendidikan semesta seperti yang dicanangkan pemerintah bahwa upaya kolektif membangun manusia seutuhnya melalui pendidikan yang inklusif, humanis, dan berkelanjutan. Pendidikan dipandang sebagai proses membentuk karakter, memperkuat kesadaran sosial, meningkatkan kecerdasan intelektual, serta menanamkan nilai spiritual dan kebangsaan.

Gerakan ini menempatkan: keluarga sebagai sekolah pertama, sekolah sebagai pusat pengembangan ilmu dan karakter, masyarakat sebagai ruang praktik sosial, serta teknologi sebagai sarana penguatan literasi dan kreativitas.

Momentum bulan Muharam yang di dalamnya ada semangat hijrah dalam konteks Pendidikan berarti proses pendidikan ini dilakukan secara inklusif dan berjamaah berkolaborasi menyediakan akses pendidikan yang adil dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, serta melatih peserta didik untuk peka terhadap isu-isu kemanusiaan, kemiskinan, dan krisis iklim.

Pelibatan secara aktif peserta didik dalam membiasakan diri dalam unjuk kerja dan unjuk kebiasaan dalam pengembangan dirinya.

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 01/06/2026 22:15
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu