Di tengah ledakan data digital, persoalan terbesar perusahaan bukan lagi sekadar bagaimana mengumpulkan data, melainkan bagaimana memastikan data benar-benar menghasilkan keputusan bisnis yang tepat.
Para eksekutif puncak kini berhadapan dengan volume data yang terus membesar, tetapi pemanfaatannya belum sebanding. Studi lintas industri menunjukkan, organisasi rata-rata hanya menggunakan kurang dari separuh data terstrukturnya untuk pengambilan keputusan. Sementara itu, data tidak terstruktur—seperti teks, gambar, dokumen, dan berbagai arsip digital—hampir tidak pernah dianalisis secara optimal.
Masalahnya tidak berhenti di sana. Lebih dari 70 persen karyawan memiliki akses terhadap data yang sebenarnya tidak perlu mereka akses. Di sisi lain, analis menghabiskan sekitar 80 persen waktu kerjanya hanya untuk mencari dan menyiapkan data sebelum melakukan analisis.
Situasi tersebut ikut menjelaskan mengapa posisi Chief Data Officer (CDO) kerap menghadapi tekanan besar. Rata-rata masa jabatan CDO hanya sekitar 2,4 tahun.
Gambaran itu memperlihatkan satu hal penting: tata kelola data tidak lagi bisa diperlakukan sebagai urusan teknis departemen teknologi informasi semata. Data telah menjadi persoalan strategis C-suite dan harus berada dalam radar Chief Executive Officer (CEO).
Data Defense dan Data Offense
Leandro DalleMule dan Thomas H. Davenport menawarkan kerangka yang menarik untuk memahami persoalan tersebut. Mereka membagi strategi data perusahaan ke dalam dua orientasi utama: data defense dan data offense.
Data defense berfokus pada upaya mengendalikan risiko dan mencegah kerugian. Orientasi ini mencakup kepatuhan terhadap regulasi privasi, menjaga integritas laporan keuangan, mencegah fraud, serta memastikan perusahaan memiliki sumber data yang konsisten dan dapat dipercaya.
Sementara itu, data offense diarahkan untuk menciptakan nilai bisnis. Tujuannya lebih agresif: meningkatkan pendapatan, memperbesar profitabilitas, memperbaiki pengalaman pelanggan, serta menemukan peluang baru melalui analisis prediktif, pemodelan, dan berbagai perangkat analitik.
Dengan kata lain, data defense bertanya bagaimana perusahaan melindungi aset datanya, sedangkan data offense bertanya bagaimana data tersebut dapat digunakan untuk memenangkan persaingan.
Keduanya bukan pilihan yang harus saling meniadakan. Tantangan C-suite justru terletak pada bagaimana menemukan titik keseimbangan yang sesuai dengan karakter bisnis.
Keseimbangan tersebut membutuhkan fondasi yang kuat. Salah satu kuncinya adalah membedakan arsitektur data dan arsitektur informasi.
Peter Drucker pernah mendefinisikan informasi sebagai “data yang diberi relevansi dan tujuan”. Pengertian ini penting karena data dalam jumlah besar tidak otomatis menghasilkan keputusan yang berkualitas.
Arsitektur data berurusan dengan bagaimana data dikumpulkan, disimpan, dikelola, dan didistribusikan. Sementara arsitektur informasi berfokus pada bagaimana data tersebut diolah sehingga memiliki konteks dan dapat digunakan untuk mendukung keputusan.
Di sinilah konsep single source of truth (SSOT) menjadi penting. SSOT menyediakan sumber data induk yang tepercaya dengan definisi yang konsisten di seluruh organisasi.
Dengan fondasi tersebut, perusahaan dapat mengurangi perbedaan data antardivisi sekaligus menghindari pemborosan akibat pengelolaan sumber data yang tumpang tindih. Dampaknya bahkan dapat diukur secara finansial.
Sebuah lembaga keuangan global, misalnya, mengonsolidasikan hampir 130 sumber data utama ke dalam SSOT. Langkah tersebut membantu memangkas biaya teknologi informasi dan menghasilkan return on investment (ROI) sebesar 190 persen dalam dua tahun melalui otomatisasi.
Di sektor manufaktur, perusahaan lain mampu menghemat sekitar 75 juta dolar AS pada tahun pertama setelah menggunakan kecerdasan buatan untuk mengonsolidasikan data pemasok yang sebelumnya tersebar ke dalam SSOT.
Pesannya jelas: data yang tertata bukan sekadar aset administratif, tetapi dapat menjadi sumber efisiensi dan keuntungan.
SSOT sebagai Fondasi, MVOT sebagai Ruang Gerak
Namun, perusahaan tidak bisa berhenti pada SSOT. Organisasi juga membutuhkan fleksibilitas agar setiap unit bisnis dapat menggunakan data sesuai kebutuhan spesifiknya.
Di sinilah konsep multiple versions of the truth (MVOTs) menjadi relevan.
MVOTs memungkinkan unit bisnis mengolah data yang bersumber dari SSOT menjadi informasi yang sesuai dengan kebutuhan operasional mereka. Artinya, satu perusahaan dapat memiliki berbagai cara melihat data tanpa harus kehilangan sumber data induk yang sama.
Bayangkan sebuah perusahaan manajemen aset. Divisi pemasaran dapat mencatat biaya iklan televisi ketika iklan ditayangkan karena ingin mengukur efektivitas kampanye. Divisi keuangan, sebaliknya, mencatat biaya yang sama ketika faktur dibayarkan karena fokusnya adalah mengelola arus kas.
Angka yang muncul dalam kedua laporan bisa berbeda. Namun, perbedaan itu tidak serta-merta berarti salah. Keduanya dapat benar karena digunakan untuk tujuan bisnis yang berbeda dan tetap berangkat dari SSOT yang sama. Prinsipnya sederhana: satu sumber data tidak harus berarti satu cara membaca data.
Guy Peri di Procter & Gamble (P&G), misalnya, memberikan ruang kepada unit bisnis untuk membuat transformasi data yang terkontrol tetapi tetap terhubung dengan SSOT. Sementara Jose Ribau di Canadian Imperial Bank of Commerce (CIBC) menerapkan sinkronisasi otomatis harian antara SSOT dan MVOTs.
Perkembangan teknologi semakin memudahkan pendekatan tersebut. Platform data lake, yang dirancang untuk menampung data terstruktur maupun tidak terstruktur dalam volume besar, dapat menjadi salah satu fondasi penyimpanan bagi ekosistem data modern.
Dengan fondasi yang terpusat dan pemanfaatan yang fleksibel, perusahaan dapat menghindari dua ekstrem: data yang terlalu bebas hingga sulit dikendalikan, atau data yang terlalu dikontrol hingga menghambat inovasi.
Tidak Ada Formula Tunggal
Persoalan berikutnya adalah menentukan seberapa besar perhatian perusahaan terhadap data defense dan data offense.
Jawabannya tidak sama untuk setiap organisasi.
Karakter industri, tingkat regulasi, risiko bisnis, serta intensitas kompetisi akan menentukan posisi perusahaan dalam spektrum tersebut.
Perusahaan asuransi seperti AIG, misalnya, memiliki alasan kuat untuk menempatkan data defense sebagai prioritas karena beroperasi dalam lingkungan regulasi yang ketat.
CIBC mengambil pendekatan berbeda. Pada 18 bulan pertama, perusahaan mencurahkan sekitar 90 persen perhatian pada data defense untuk membangun fondasi tata kelola. Setelah sistem dan tata kelola dinilai cukup kuat, perhatian kemudian diarahkan menuju keseimbangan 50:50 antara pertahanan dan pemanfaatan data.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa keseimbangan data bukan angka yang bersifat permanen. Prioritas dapat berubah sesuai tahap perkembangan organisasi.
Perusahaan yang baru membangun fondasi data mungkin perlu lebih defensif. Sebaliknya, organisasi dengan tata kelola yang sudah matang dapat meningkatkan keberanian dalam mengeksploitasi data untuk inovasi, efisiensi, dan pertumbuhan.
Pilihan antara data defense dan data offense pada akhirnya juga memengaruhi struktur organisasi.
Strategi yang lebih defensif cenderung membutuhkan tata kelola terpusat di bawah enterprise CDO. Pendekatan ini penting untuk memastikan standar, definisi, keamanan, dan kebijakan data diterapkan secara konsisten di seluruh perusahaan.
Sebaliknya, orientasi data offense membutuhkan ruang gerak yang lebih besar bagi unit bisnis. Struktur yang lebih terdesentralisasi, termasuk keberadaan fungsi data di masing-masing divisi, memungkinkan analisis dan inovasi berlangsung lebih cepat serta dekat dengan kebutuhan pasar.
Namun, desentralisasi tanpa kendali dapat melahirkan persoalan baru: munculnya silo data, definisi yang berbeda-beda, hingga konflik angka antarunit.
Karena itu, tantangan C-suite bukan memilih antara sentralisasi dan desentralisasi secara mutlak. Tantangannya adalah menentukan apa yang harus dikendalikan dari pusat dan apa yang harus diberikan kepada unit bisnis.
Pada titik inilah peran CEO menjadi penting. Strategi data tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada CDO karena keputusan tentang data pada akhirnya menyangkut strategi perusahaan secara keseluruhan.
CEO bersama jajaran C-suite perlu memastikan bahwa investasi data tidak hanya menghasilkan sistem yang aman, tetapi juga menciptakan nilai bisnis.
Sebab, perusahaan yang hanya sibuk mempertahankan data berisiko kehilangan peluang. Sebaliknya, perusahaan yang terlalu agresif mengeksploitasi data tanpa tata kelola yang kuat dapat menghadapi risiko keamanan, kepatuhan, dan reputasi.
Data defense menjaga perusahaan agar tidak jatuh. Data offense mendorong perusahaan untuk melaju. Keunggulan kompetitif lahir ketika keduanya mampu berjalan dalam keseimbangan.
Pada akhirnya, pertanyaan strategis bagi C-suite bukan lagi sekadar, “Berapa banyak data yang kita miliki?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: data mana yang harus kita lindungi, data mana yang harus kita manfaatkan, dan bagaimana keduanya dapat bekerja bersama untuk memenangkan persaingan? (*)





0 Tanggapan
Empty Comments