Penulis bersama Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara di Domande, Kabupaten Merauke, Papua-Selatan. Foto: Dok/Pri
Oleh : Prof. Imam Robandi Guru Besar ITS, Ketua Tim Ekspedisi Patriot (TEP) di Kawasan Transmigrasi (KT) Salor, Papua Selatan 2025 dan KT Oransbari, Papua Barat 2026
Tidak ada guntur tidak ada kilat, tiba-tiba saya disuruh mengikut rombongan Menteri Transmigrasi (Mentrans) ke pedalaman Papua Selatan di Distrik Malind. Acaranya adalah sangat langka, yaitu peresmian perumahan transmigrasi.
Transmigrasi lokal, perpindahan penduduk dari daerah sekitar itu. Acaranya adalah sangat ramai, karena ada panjat pinang dan juga tarik tambang, mungkin karena masih dekat dengan Agustusan.
Warga yang datang adalah sangat banyak dari berbagai umur. Acaranya adalah sangat meriah, karena di situ ada Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari IPB yang bertempat di Distrik Kurik. Yang paling heboh karena Mentrans menjadi peserta tarik tambang, dan timnya menang, walaupun hampir kalah.
Ternyata tarik tambang adalah bukan olah-raga ringan, semua ‘ngos-ngosan’, walapun waktu yang dibutuhkan tidak mencapai satu menit untuk sekali tarik, tetapi energi transient sangat besar dalam tubuh meledak sesaat. Sorak gegap gempita dan tepuk tangan bergemuruh, semua wajah terlihat gembira.
Tempatnya di Kampung Domande, Distrik Malind, Papua Selatan, yang berjarak 123 km dari pusat Kota Merauke.
Memang, secara geografi dari sisi lintang, Malind sejajar dengan Kota Merauke, tetapi terhalang muara Kali Kumbe yang sangat lebar. Ini adalah tidak sederhana, karena untuk menuju ke Domande harus berputar seperti huruf U.
Yang memang satu-satunya jalan hanya itu, tidak ada pilihan kecuali harus melewati laut atau menyeberang Kali Kumbe. Dari Tengah Kota Merauke, menuju Distrik Tanah Miring, Distrik Kurik, Kampung Rawasari, Kampung Kumbe, dan berakhir di Malind. Perjalanan sangat asyik, dan tidak menghitung berapa jam.
Penulis bersama warga Kampung Domande, Distrik Malind, Papua Selatan. Foto: Dok/Pri
Sebuah Perjalanan
Perjalanan ke Tanah Papua selalu spesial dengan penuh tantangan. Ini iklim yang baik, walaupun tikungan dan seribu lubang untuk mencapai ke sana tidak dapat dihindari, tetapi saya katakan beruntung.
Tidak dapat dibayangkan saat musim tiba, beberapa jalan akan menjadi kubangan lumpur yang dalam, apalagi saat banyak kendaraan truk yang lewat.
Hamparan yang sangat luas, dan jauh dari peruhaman penduduk. Saya sempat membayangkan jika malam hari, roda kendaraan menancap di tanah lihat, sedangkan tidak ada signal. Tentu ini harus menunggu pagi, atau berharap semoga ada orang yang lewat.
Semangat mengalahkan itu semua, mereka Masyarakat Domande dan sekitarnya adalah masyarakat yang gigih dan penuh optimisme.
Semboyan mereka adalah ‘Izakod Bekai, Izakod Kae’, satu hati satu tujuan. Ini telah membuat segalanya menjadi optimistis dan ringan jika dikerjakan bersama-sama.
Peresmian 100 rumah transmigran oleh Mentrans RI, Iftitah Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, adalah babak baru dalam pengelolaan kawasan transmigrasi menuju masa depan.
Program transmigrasi adalah bukan sekadar memindahkan masyarakat dari satu tempat ke tempat lain, tetapi membuka kesempatan agar ada pusat pertumbuhan ekonomi baru menuju ke titik kemakmuran.
Memang keberhasilan tidak akan datang tiba-tiba, tetapi minimal dipersiapkan jauh sebelumnya. Ini yang sekarang secara serius sedang diikhtiarkan oleh Kementrans RI.
Kemeriahan Agustusan di Kampung Domande, Distrik Malind, Papua Selatan. Foto: Dok/Pri
Sebuah Harapan
Tanah Papua Selatan adalah salah satu harapan untuk Indonesia Emas. Luas persawahan sejauh memandang adalah tidak mudah ditemukan di daerah lain, benar-benar sangat luas.
Kita dapat melihat di Distrik Tanah Miring, Distrik Kurik, dan Distrik Semangga yang di sana terlihat ribuan hektar sawah dan sangat subur.
Sejauh mata memandang, kanan-kiri hanya terlihat pemandangan persawahan dan tanaman kebun yang hijau.
Kali Maro yang menyuguhkan limpahan air yang sangat luas, dan juga Kali Kumbe yang tidak pernah kekurangan air. Ini adalah sungai-sungai yang menjadi penyangga kehidupan Papua Selatan.
Kedatangan Mentrans di Domande adalah bukan sekadar memenuhi makna acara secara simbolik, tetapi komunikasi antara sesama komponen bangsa menjadi sangat penting yang ‘mengayomi dan mengayemi’.
Sering kita temui di banyak tempat, misi tidak tercapai karena kelemahan dalam berkomunikasi. Di sini Kementerian Transmigrasi memang menjadi pelopor, yang tentu menemui banyak tikungan, sandungan, dan jeglongan, atau tidak lancar-lancar saja. Ini adalah sangat wajar, karena Kawasan Transmigrasi di tanah air adalah sangat luas dengan berbagai dinamika.
Panjat pinang dan tarik tambang di mana-mana ada, tetapi saat diselenggarakan di Kampung Domande menjadi sangat bersejarah.
Interaksi antara TEP yang ikut meramaikan di situ juga sangat menghangatkan suasana. Antusias warga datang dengan keceriaan dan tertawa canda yang sangat menghangatkan acara siang itu menjadi sangat meriah dan seolah-olah tidak ingin selesai dan bubar seketika.
Obrolan saya dengan warga dengan topik ringan-ringan saja telah membuat saya semakin memahami bahwa Indonesia mempuyai banyak sekali budaya dan potensi. Rumah-rumah baru dan gereja baru juga berada di tengah-tangah kampung transmigran lokal.
Sambutan Kepala Kampung Domande yang sangat optimistis dengan kemajuan Domande adalah saya catat sebagai ‘petuah penting masa depan anak bangsa’ untuk terus membangun Tanah Air dan optimisme dengan penuh semangat. Ini adalah sebuah potret bahwa masyarakat di tingkat bawah ‘sudah gumregah nyawiji ing karya’’. Ini adalah ciri khas bangsa kita yang selalu mengedepankan paguyuban.
Saya menjadi terharu, saat melihat wajah Pak Anselmus Ndiken yang penuh semangat, rumahnya yang nomor 55 diresmikan secara simbolik sebagai perumahan transmigran. Ada dua kamar, satu ruang tamu, satu ruang makan, satu ruang dapur, dan kamar mandi.
Saya masuk ke rumah itu, dan saya ikut merasakan situasinya yang ‘ayem dan tentrem’. Saya sebentar duduk di lantainya, dan seperti saya sedang merasakan sebagai warga transmigrasi. Rasa ini muncul tiba-tiba, dan baru pertama kali ini yang memojokkan otak kanan saya bahwa kehidupan di kampung sangat menyejukkan pikiran.
Foto: Dok/Pri
Rumah baru transmigran, dan hati saya ikut merasakan sudut-sudut nilsi ‘yang sumusup ing rasa jati’. Itu kalau di Kebumen sana, rumah baru pasti ada tumpengan dan bonus ingkung ayam, dan langsung jagongan sambil mendengarkan radio RRI Purwokerto sampai tengah malam.
Wajah Pak Ndiken penuh dengan senyuman, saat saya ajak mengobrol sebentar, dia ternyata orang yang sangat ramah.
Perjalanan pulang, di perjalanan ada yang ingin bersilaturahim. Pak Sutamto Kepala Kampung Harapan Makmur, Mas Aris Kepala Kampung Candra Jaya, dan Mas Boyadi Kepala Kampung Salor Indah ingin bertemu dan mengobrol sebentar di Kedai Suci di Harapan Makmur. Bercerita ringan-ringan, apalagi ada suguhan eskrim dicampur rujak yang rasanya yang membuat kemepyar dipikiran.
Seperti biasa, bercerita tentang sawah, koperasi, masa panen, dan yang lain. Memang tiga kepala kampung itu sudah menjadi saudara baru saya, walaupun hanya sesingkat sak klebat kami bercakap, tetapi telah mengobati kerindukan saya pada Kawasan Transmigrasi Salor yang pernah menjadi sejarah masa lalu saya.
Seperti baru saja kemarin, saat saya dijemput oleh beberapa kawan di Bandara Mopah, ternyata sudah harus kembali. Menunggu lama di kedai bubur saat itu, yang akhirnya saya beri nama kedai bubur sabar, karena ‘harus sabar menunggu’.
Bertemu dengan tukang pembuat kapal di Pantai Lampu Satu, Mas Abdul Malik dari Bulukumba juga seperti baru kemarin. Saat dia menghaluskan kayu untuk membuat tiang kapal, di telinga saya hari ini juga masih ada bekas-bekas bunyinya.
Papeda dengan kuah kuning malam hari, juga masih menjadi kenangan yang semakin membuat saya ingin kembali lagi ke Merauke. (*)
0 Tanggapan
Empty Comments