Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muharam dan Transformasi Gerakan Pendidikan Semesta

Iklan Landscape Smamda
Muharam dan Transformasi Gerakan Pendidikan Semesta
Indar Cahyanto, M.Pd., guru SMAN 25 Jakarta, sekaligus Ketua Majelis Pustaka Informasi dan Hubungan Kelembagaan PCM Ciracas. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Indar Cahyanto, M.Pd. Ketua Majelis Pustaka Informasi dan Hubungan Kelembagaan PCM Ciracas

Bulan Muharam juga lekat dengan kajian sejarah perjuangan melawan penindasan (seperti kisah kemenangan Nabi Musa AS atas Fir’aun). Pendidikan semesta memegang prinsip pedagogi pembebasan. Seperti yang diutarakan oleh Paulo Freire bahwa pendidikan tidak boleh menjadi menara gading yang menjauhkan siswa dari realitas sosial. Serta pendidikan harus melahirkan individu yang peka terhadap ketimpangan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan di sekitarnya.

Awal tahun merupakan waktu terbaik bagi kita sebagai orang tua, guru ataupun sekolah untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah) dan menyusun resolusi strategi baru untuk menghadirkan Pendidikan yang bermutu. Seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa “Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, setiap momentum adalah pelajaran.”

Momentum Muharam melalui kacamata pendidikan berarti melihatnya sebagai panggilan jiwa untuk melakukan migrasi massal dari ketidaktahuan (kebodohan) menuju pencerdasan yang inklusif dan menyeluruh.

Dalam catatan sejarah, hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar pelarian fisik dari penindasan, melainkan sebuah strategi besar untuk membangun episentrum peradaban baru. Maka perlu adanya proses literasi dalam membantu memahami dan meningkatkan kualitas pengembangan diri

​Kata “Semesta” yang dipakai oleh pemerintah dalam memaknai hari Pendidikan nasional adalah (Universal/Holistik) menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh eksklusif atau tersekat oleh ruang-ruang kelas formal saja. Pendidikan semesta mencakup tiga pilar utama:

​Pertama, Pendidikan Holistik (Tarbiyah): Menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

Muharam mengingatkan kita bahwa ilmu tanpa karakter mulia (akhlak) hanya akan melahirkan kerusakan. Artinya bahwa pemahaman sains tanpa Spiritual akan menghasilkan teknologi yang destruktif dan eksploitatif terhadap bumi. Kemudian Spiritual tanpa Sains akan menghasilkan kepasifan dan ketertinggalan peradaban.

​Kedua, Pendidikan Inklusif (Insaniyah): Pendidikan semesta menuntut akses yang merata. Hijrah mengajarkan kesetaraan sebagaimana kaum Muhajirin dan Ansar dipersaudarakan tanpa memandang suku atau status sosial. mentransformasi diri menjadi gerakan sosial yang inklusif, menyediakan akses yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat,

​Ketiga, Pendidikan Berbasis Realitas (Alamiyah): Belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga membaca tanda-tanda zaman, menjaga kelestarian alam, dan merespons isu-isu global seperti perubahan iklim dan ketimpangan sosial.

Pendidikan Semesta adalah laboratorium terbesar untuk Belajar fisika, biologi, atau astronomi adalah cara membaca ayat-ayat Tuhan yang terhampar di alam (ayat kauniyah), sama pentingnya dengan membaca teks-teks suci (ayat qauliyah). Pendidikan semesta mendidik manusia untuk melihat keterhubungan antara dirinya, penciptanya, dan alam lingkungan.

SMPM 5 Pucang SBY

​Untuk mewujudkan transformasi ini, momentum Muharram dapat dijadikan batu loncatan bagi para pendidik, lembaga, dan pengambil kebijakan untuk mengambil langkah konkret:

​Pertama, perlu adanya rekonstruksi kurikulum kehidupan dengan maksud mengintegrasikan nilai-nilai perjuangan, resiliensi (daya tahan), dan visi masa depan yang menjadi makna darri nilai peristiwa Hijrah ke dalam materi pembelajaran sehari-hari.

​Kedua, Demokratisasi Pengetahuan dengan membuka akses sumber belajar seluas-luasnya melalui platform digital yang dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, mirip dengan konsep as-suffah (ruang belajar terbuka di Masjid Nabawi pada masa awal Madinah).

​Ketiga, Kolaborasi Lintas Sektor: Pendidikan semesta tidak bisa hanya dibebankan kepada guru di sekolah. Perlu ada sinergi “semesta” antara orang tua (rumah), pendidik (sekolah), industri, dan pemerintah.

Muharram bukan sekadar merayakan pergantian kalender, melainkan menyalakan kembali mesin Transformasi Gerakan Pendidikan Semesta. Ini adalah panggilan untuk berhijrah dari sistem pendidikan yang mekanistik menuju sistem pendidikan yang menghidupkan jiwa, membebaskan akal, dan merawat bumi.

Melalui transformasi ini, institusi pendidikan diharapkan mampu melahirkan manusia seutuhnya (Insan Kamil) yang siap memimpin peradaban dengan basis cinta kasih kepada seluruh semesta. Semangat Muharam adalah semangat untuk tidak meratapi masa lalu, melainkan mendesain masa depan.

Transformasi gerakan pendidikan semesta adalah kunci agar umat tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi menjadi penggerak utama peradaban.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 01/06/2026 22:15
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu