Muhammadiyah melalui Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) menjajaki kerja sama kemanusiaan dengan King Hussein Cancer Foundation and Center (KHCC), Yordania, untuk mendukung layanan kesehatan bagi pasien kanker asal Palestina.
Penjajakan tersebut mengemuka dalam pertemuan Lazismu dengan delegasi KHCC di Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (4/8/2026). Pertemuan menjadi langkah awal untuk memperkuat dukungan bagi pasien kanker asal Gaza yang kini menjalani perawatan di Yordania.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menerima delegasi KHCC bersama perwakilan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Muhammadiyah AID.
Rais mengatakan, KHCC selama ini menjadi salah satu lembaga yang memberikan layanan bagi pasien kanker, termasuk warga Palestina yang harus menjalani pengobatan di Yordania karena fasilitas kesehatan di Gaza mengalami kerusakan parah akibat konflik.
“Hari ini kami menerima kunjungan dua orang delegasi dari King Hussein Cancer Foundation and Center di Amman, Yordania. Mereka datang untuk bersilaturahmi sekaligus membuka kemungkinan kolaborasi dengan Muhammadiyah, khususnya Lazismu, dalam mendukung pelayanan bagi pasien kanker asal Palestina,” ujar Rais.
Menurut Rais, persoalan layanan kesehatan bagi pengungsi Palestina sebenarnya telah berlangsung sebelum eskalasi konflik semakin memburuk. Kondisi tersebut kini semakin berat karena kebutuhan pasien meningkat, sementara dukungan dan donasi yang diterima lembaga kemanusiaan juga mengalami penurunan.
“Mereka menyampaikan bahwa donasi yang diterima semakin menurun. Karena itu, mereka berharap dapat membangun kerja sama dengan Lazismu agar kebutuhan para pasien tetap dapat terpenuhi,” tambah Rais.
Ratusan Pasien Kanker Palestina Dirawat di Yordania
Dalam pertemuan tersebut, delegasi KHCC menyampaikan bahwa saat ini sekitar 492 pasien kanker tengah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Jumlah itu diperkirakan meningkat menjadi sekitar 520 pasien pada 2027.
Sebagian besar pasien merupakan pengungsi Palestina asal Gaza yang datang ke Yordania bersama anggota keluarga untuk mendapatkan layanan medis. Mereka tidak hanya menghadapi persoalan biaya pengobatan, tetapi juga tantangan panjang dalam proses keluar dari Gaza dan memperoleh akses layanan kesehatan.
Rais mengungkapkan, proses pemeriksaan keamanan yang ketat membuat sebagian pasien anak bahkan harus menjalani pengobatan tanpa didampingi orang tua kandung.
“Ada anak yang menderita kanker, tetapi ayah atau ibunya tidak diizinkan masuk mendampingi. Akhirnya justru tetangga atau orang yang tidak dikenal yang menemani mereka selama pengobatan. Ini tentu menjadi kondisi yang sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian kita semua,” ungkapnya.
Kebutuhan pasien, lanjut Rais, juga tidak berhenti pada pembiayaan pengobatan. Pasien dan keluarga membutuhkan dukungan untuk transportasi, akomodasi, hingga alat kesehatan.
Lazismu akan memetakan kebutuhan tersebut sebelum menentukan bentuk kolaborasi yang paling efektif. Koordinasi lanjutan akan dilakukan untuk memastikan bantuan yang dihimpun benar-benar menjawab kebutuhan paling mendesak.
“Kami akan melihat kebutuhan yang paling mendesak, apakah untuk transportasi, akomodasi, pengobatan, maupun alat kesehatan. Setelah itu kami akan mengajak Lazismu di seluruh Indonesia untuk bersama-sama menghimpun bantuan yang dipusatkan melalui Lazismu sebelum disalurkan kepada King Hussein Cancer Foundation,” jelas Rais.
Salurkan Bantuan Melalui Yordania
Kondisi keamanan membuat penyaluran bantuan langsung ke Gaza masih menghadapi tantangan besar. Karena itu, dukungan melalui lembaga kesehatan di Yordania yang menangani pasien Palestina menjadi salah satu opsi yang dinilai realistis.
“Kami berdiskusi bahwa situasi di Gaza saat ini sangat berat sehingga bantuan langsung ke sana hampir tidak memungkinkan. Karena itu, dukungan melalui rumah sakit yang merawat para penyintas menjadi salah satu solusi yang bisa dilakukan,” katanya.
Lazismu bukan kali pertama menjalankan misi kemanusiaan di Yordania. Dalam dua misi sebelumnya, Lazismu menyalurkan bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya bagi pengungsi Palestina yang tinggal di sejumlah kamp pengungsian di negara tersebut.
Rais mengatakan, komunikasi dengan KHCC sebenarnya mulai diketahui sejak kunjungan Lazismu ke Yordania tahun lalu. Namun, saat itu belum tersedia jalur komunikasi yang memungkinkan kerja sama secara lebih spesifik.
“Tahun lalu ketika kami berkunjung ke Yordania sebenarnya sudah mendengar tentang lembaga ini. Namun saat itu kami belum memiliki jalur komunikasi yang tepat. Alhamdulillah, melalui pertemuan hari ini terbuka peluang untuk bekerja sama secara lebih spesifik, khususnya dalam mendukung pasien kanker asal Palestina,” ujarnya.
Penjajakan kerja sama tersebut diharapkan menjadi bagian dari langkah Muhammadiyah memperkuat kerja kemanusiaan lintas negara. Bagi Lazismu, dukungan terhadap pasien kanker Palestina juga menjadi wujud solidaritas kemanusiaan terhadap masyarakat yang terdampak konflik.
Rais berharap kolaborasi dengan KHCC dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi pasien Palestina yang sedang menjalani pengobatan di Yordania.
“Harapannya, kerja sama ini menjadi bagian dari solidaritas kemanusiaan global sekaligus proses internasionalisasi Muhammadiyah. Semoga kolaborasi ini dapat berjalan dengan baik, efektif, dan benar-benar memberi manfaat bagi para penyintas Palestina, khususnya mereka yang sedang berjuang melawan penyakit kanker,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments