Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pancasila dan Tantangan Generasi Hari Ini

Iklan Landscape Smamda
Pancasila dan Tantangan Generasi Hari Ini
Sekretaris LBH Muhammadiyah Kab. Mojokerto, Mukhamad Zulvani. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Mukhammad Zulvani Sekretaris LBH Muhammadiyah Kab. Mojokerto

Di Hari Lahir Pancasila tahun 2026, saya justru melihat sebuah pertanyaan besar: apakah nilai-nilai Pancasila masih benar-benar hidup dalam keseharian kita?

Saya melihat banyak anak muda yang menginginkan kehidupan yang layak, pekerjaan yang baik, penghasilan yang tinggi, dan masa depan yang cerah. Keinginan itu tentu wajar. Namun, tidak sedikit yang lupa bahwa setiap harapan memerlukan bekal dan perjuangan. Kita ingin hasil yang besar, tetapi enggan memperbesar kapasitas diri.

Kita ingin dihargai, tetapi kurang membangun kompetensi. Kita menuntut hak, tetapi sering kali lupa bahwa ada kewajiban yang harus ditunaikan terlebih dahulu.

Di era media sosial, standar kehidupan sering kali dibentuk oleh apa yang tampak di layar. Kesuksesan terlihat instan, kemewahan terlihat mudah diraih, dan pencapaian orang lain seolah menjadi ukuran keberhasilan hidup kita sendiri. Akibatnya, sebagian orang lebih sibuk membandingkan diri daripada mempersiapkan diri.

Padahal kehidupan nyata tidak berjalan seperti linimasa media sosial. Kehidupan nyata menuntut ilmu, keterampilan, disiplin, dan kesediaan untuk berproses.

Realitas juga menunjukkan bahwa tidak semua orang lahir dengan kesempatan yang sama. Ada yang mendapatkan fasilitas pendidikan terbaik, dukungan finansial yang kuat, dan lingkungan yang menunjang. Ada pula yang harus memulai dengan keterbatasan. Namun, justru dalam kondisi itulah nilai perjuangan menjadi penting. Keterbatasan memang bukan pilihan, tetapi bagaimana seseorang merespons keterbatasan adalah pilihan.

Bagi saya, makna Pancasila hari ini bukan hanya berbicara tentang persatuan atau simbol kenegaraan. Pancasila juga mengajarkan tanggung jawab pribadi. Keadilan sosial tidak berarti semua orang memperoleh hasil yang sama tanpa usaha yang sama. Keadilan sosial juga menuntut adanya kesungguhan untuk berkembang, bekerja, belajar, dan berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.

Karena itu, tantangan terbesar generasi saat ini mungkin bukan kurangnya kesempatan, melainkan bagaimana membangun karakter yang kuat di tengah budaya serba instan. Pancasila akan tetap relevan selama kita menjadikannya pedoman untuk bekerja keras, menghormati proses, menyeimbangkan antara hak dan kewajiban, serta tidak berhenti memperbaiki diri meskipun memulai dari keadaan yang sederhana.

Ada pula fenomena lain yang semakin sering kita jumpai, yaitu ketika harapan tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuan untuk mewujudkannya. Banyak orang membayangkan kehidupan ideal dengan penghasilan besar, pekerjaan yang nyaman, rumah yang layak, dan pengakuan sosial yang tinggi.

Namun, pada saat yang sama, mereka belum sepenuhnya memahami proses panjang yang harus dilalui untuk mencapai semua itu. Akibatnya, ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi, yang muncul bukan semangat untuk memperbaiki diri, melainkan kekecewaan, menyalahkan keadaan, atau bahkan menyalahkan pihak lain.

Kita hidup di masa ketika keberhasilan orang lain dapat dilihat hanya dalam hitungan detik melalui media sosial. Sayangnya, yang terlihat sering kali hanya hasil akhirnya, bukan prosesnya. Yang terlihat adalah gelar, jabatan, kendaraan, atau pencapaian, sementara tahun-tahun perjuangan, kegagalan, dan pengorbanan jarang diperlihatkan.

Hal ini melahirkan anomali sosial, yaitu keinginan untuk menikmati hasil tanpa kesediaan menjalani proses yang setara. Padahal, kehidupan tidak dibangun oleh ekspektasi, melainkan oleh kapasitas dan usaha yang terus ditingkatkan.

SMPM 5 Pucang SBY

Dalam konteks ini, nilai-nilai Pancasila sesungguhnya menawarkan jalan yang sangat relevan. Sila kedua mengajarkan manusia untuk berpikir dan bertindak secara beradab, termasuk bersikap jujur terhadap kemampuan diri sendiri. Sila keempat mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, bukan sekadar mengikuti tren atau dorongan sesaat. Sedangkan sila kelima mengingatkan bahwa keadilan tidak lahir dari tuntutan semata, melainkan dari keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara harapan dan usaha yang dilakukan.

Oleh karena itu, salah satu ikhtiar yang perlu dibangun oleh generasi muda adalah kemampuan untuk berdamai dengan proses. Bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan memahami posisi diri secara objektif, mengenali kekurangan yang harus diperbaiki, dan menyusun langkah yang realistis untuk berkembang.

Harapan yang tinggi bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika harapan tersebut tidak diiringi peningkatan ilmu, keterampilan, etos kerja, dan kedisiplinan. Mimpi yang besar membutuhkan fondasi yang besar pula.

Pada akhirnya, makna Hari Lahir Pancasila bagi saya bukan hanya tentang mengenang sejarah lahirnya dasar negara, tetapi juga tentang mengembalikan kesadaran bahwa bangsa ini dibangun oleh manusia-manusia yang memahami realitas sekaligus memiliki cita-cita.

Mereka tidak berhenti bermimpi, tetapi mereka juga tidak mengabaikan kerja keras. Mereka memahami hak yang layak diperjuangkan, namun tidak melupakan kewajiban yang harus ditunaikan. Barangkali itulah tantangan terbesar kita hari ini: membangun generasi yang berani bercita-cita setinggi langit, tetapi tetap berpijak kuat pada bumi tempat ia berdiri.

Jika melihat Indonesia dalam lima tahun terakhir, kita juga dihadapkan pada berbagai anomali sosial yang semakin memperlihatkan adanya krisis karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Salah satu yang paling terasa adalah maraknya judi online yang menjangkiti berbagai lapisan masyarakat, termasuk anak muda. Bahkan berbagai laporan menunjukkan bahwa kelompok usia produktif menjadi salah satu yang paling banyak terlibat, dan fenomena ini sering beririsan dengan pinjaman online serta masalah ekonomi keluarga.

Banyak orang berharap mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat, namun justru terjebak pada lingkaran kerugian yang semakin dalam. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana budaya instan perlahan menggeser nilai kerja keras yang selama ini menjadi fondasi kemajuan masyarakat.

Selain itu, perkembangan teknologi yang seharusnya menjadi alat peningkatan kualitas hidup juga sering kali berubah menjadi ruang pembentukan ilusi. Tidak sedikit individu yang mengukur keberhasilan berdasarkan validasi media sosial, jumlah pengikut, gaya hidup yang ditampilkan, atau pencapaian yang terlihat di permukaan.

Akibatnya, muncul tekanan sosial yang tidak sehat. Banyak orang berlomba terlihat berhasil sebelum benar-benar membangun kemampuan yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan tersebut. Kita menjadi generasi yang sangat cepat membandingkan hasil, tetapi sering kali kurang sabar memahami proses.

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 01/06/2026 21:56
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu