Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pancasila dan Tantangan Generasi Hari Ini

Iklan Landscape Smamda
Pancasila dan Tantangan Generasi Hari Ini
Sekretaris LBH Muhammadiyah Kab. Mojokerto, Mukhamad Zulvani. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Mukhammad Zulvani Sekretaris LBH Muhammadiyah Kab. Mojokerto

Fenomena lain yang dapat kita pelajari adalah semakin menurunnya daya tahan sebagian masyarakat dalam menghadapi kegagalan. Ketika harapan tidak sesuai kenyataan, sebagian memilih jalan pintas, menyalahkan keadaan, menyalahkan lingkungan, bahkan menyalahkan negara. Padahal tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan tuntutan.

Ada banyak masalah yang justru memerlukan pembenahan diri, peningkatan kapasitas, serta keberanian untuk memulai dari hal-hal kecil. Pancasila sesungguhnya mengajarkan keseimbangan antara kritik dan tanggung jawab. Kita boleh menuntut perubahan, tetapi kita juga harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Dari berbagai fenomena tersebut, saya melihat bahwa tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan hanya persoalan ekonomi, teknologi, atau politik, melainkan persoalan mentalitas dan karakter. Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh sumber daya alam yang melimpah atau kemajuan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas manusianya.

Ketika masyarakat kehilangan etos kerja, kehilangan kejujuran, kehilangan rasa tanggung jawab, dan lebih mencintai hasil daripada proses, maka nilai-nilai Pancasila perlahan hanya akan menjadi simbol tanpa makna.

Karena itu, Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan yang dipenuhi seremoni. Momentum ini harus menjadi ruang refleksi bersama untuk bertanya: apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar sudah hidup dalam diri kita? Apakah kita sudah menyeimbangkan hak dan kewajiban? Apakah kita sudah bekerja keras sebelum menuntut hasil? Apakah kita sudah membangun kapasitas diri sebelum menuntut kesempatan yang lebih besar? Sebab pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh arah kebijakan negara, tetapi juga oleh kualitas karakter warga negaranya. Dan dari sanalah Pancasila seharusnya kembali dimulai: dari diri sendiri.

Jika kita melihat beberapa negara yang berhasil membangun kualitas sumber daya manusianya, pelajaran yang dapat diambil sebenarnya cukup sederhana. Mereka tidak hanya membangun infrastruktur dan teknologi, tetapi juga membangun budaya disiplin, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap proses.

Anak-anak muda didorong untuk memahami bahwa keberhasilan bukanlah hak yang otomatis diterima, melainkan hasil dari kompetensi, integritas, dan kerja keras yang dibangun dalam waktu yang panjang. Negara hadir memberikan kesempatan, tetapi masyarakat juga dituntut untuk mempersiapkan diri agar mampu memanfaatkan kesempatan tersebut.

Di beberapa negara maju, kegagalan sering kali dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Seseorang dapat memulai dari bawah, berpindah pekerjaan, mencoba usaha yang gagal, lalu bangkit kembali tanpa kehilangan martabatnya.

Budaya seperti ini melahirkan masyarakat yang lebih tangguh menghadapi perubahan. Sebaliknya, ketika masyarakat terlalu takut gagal atau terlalu ingin berhasil secara instan, maka yang tumbuh bukan daya juang, melainkan kecenderungan mencari jalan pintas yang sering kali berakhir pada kekecewaan.

SMPM 5 Pucang SBY

Hal lain yang menarik adalah kuatnya sistem kontrol sosial yang dibangun. Kontrol tersebut tidak selalu berupa aturan yang keras, tetapi berupa budaya yang hidup di tengah masyarakat. Ketepatan waktu dihargai, komitmen dijaga, kejujuran menjadi kebiasaan, dan pelanggaran terhadap norma sosial memperoleh konsekuensi sosial yang jelas.

Akibatnya, masyarakat terbiasa untuk bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya. Dalam konteks Indonesia, kontrol sosial seperti ini sesungguhnya juga sejalan dengan semangat gotong royong dan nilai kekeluargaan yang terkandung dalam Pancasila.

Pancasila sejatinya tidak kalah dengan nilai-nilai yang dianut bangsa lain. Yang menjadi tantangan bukan terletak pada dasar negaranya, melainkan pada konsistensi kita dalam mengamalkannya.

Kita sering bangga menghafal lima sila, tetapi belum tentu membiasakan disiplin dalam pekerjaan, jujur dalam tindakan, atau menghormati hak orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Padahal kemajuan sebuah bangsa tidak lahir dari slogan yang diucapkan berulang-ulang, melainkan dari nilai yang dipraktikkan secara konsisten oleh warganya.

Karena itu, mungkin sudah saatnya generasi hari ini tidak hanya menjadikan Pancasila sebagai identitas kebangsaan, tetapi juga sebagai pedoman pengembangan diri. Jika ingin kehidupan yang lebih baik, maka tingkatkan ilmu. Jika ingin kesempatan yang lebih besar, maka bangun kompetensi. Jika ingin memperoleh hak yang lebih luas, maka tunaikan kewajiban dengan lebih baik. Dengan cara itulah Pancasila tidak berhenti sebagai teks yang dibacakan setiap tahun, tetapi benar-benar hidup dalam karakter dan perilaku masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya, Hari Lahir Pancasila bukan sekadar mengenang rumusan dasar negara. Ia adalah pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan negara, tetapi juga oleh karakter warga negaranya.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 01/06/2026 21:56
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu