Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kemendikdasmen Salurkan Bantuan Laboratorium IPA untuk 100 SMA

Iklan Landscape Smamda
Kemendikdasmen Salurkan Bantuan Laboratorium IPA untuk 100 SMA
Kemendikdasmen Salurkan Bantuan Laboratorium IPA untuk 100 SMA
pwmu.co -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat SMA menyalurkan Bantuan Pemerintah Sarana Laboratorium IPA kepada 100 SMA terpilih di Indonesia. Program ini bertujuan memperkuat budaya sains, keterampilan eksperimen, serta pembelajaran berbasis praktik di sekolah.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa bantuan laboratorium IPA tidak hanya dipandang sebagai penyediaan fasilitas fisik, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong peserta didik memahami, menguji, dan menggunakan pengetahuan secara kritis.

“Sekolah tanpa laboratorium tidak punya makna pembelajaran. Dia hanya sekolah, hanya schooling, bukan learning. Bantuan ini sebenarnya upaya untuk memperkuat ekosistem pembelajaran anak-anak kita,” ujar Fajar saat membuka Bimbingan Teknis Bantuan Pemerintah Sarana Laboratorium IPA Jenjang SMA di Tangerang Selatan, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, laboratorium memiliki peran strategis dalam menumbuhkan literasi sains di kalangan peserta didik. Literasi sains tidak hanya sebatas memahami teori, tetapi kemampuan menggunakan pengetahuan untuk menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar.

“Literasi sains itu dipahami ketika anak mampu menggunakan informasi atau pengetahuan yang dia miliki untuk melihat fenomena yang terjadi di lingkungannya. Bukan sekadar dia mengerti, tetapi dia tahu bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk melihat fenomena yang berkembang tadi,” katanya.

Fajar menjelaskan bahwa aktivitas praktikum di laboratorium juga selaras dengan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang saat ini didorong Kemendikdasmen.

Melalui kegiatan eksperimen, siswa tidak hanya menerima teori di ruang kelas, tetapi juga menguji dan membuktikan konsep-konsep tersebut secara langsung.

“Praktikum di laboratorium dan proses bekerja sains di laboratorium itu mencerminkan praktik pembelajaran mendalam. Ketika di kelas anak diberi teori, di laboratorium anak diminta untuk menguji teori,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh sekolah penerima bantuan untuk menjadikan laboratorium sebagai ruang pembentukan budaya berpikir ilmiah, rasa ingin tahu, serta keberanian bertanya.

“Yang harus kita bangun adalah budaya berpikir ilmiah. Murid kita tidak hanya menjadi konsumen teori atau konsumen informasi. Dia harus didorong untuk bisa mengalami pengetahuan itu. Jadi kata kuncinya, pengetahuan itu harus dialami, bukan hanya diketahui,” tegasnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Sementara itu, Direktur SMA Kemendikdasmen, Yuli Haryanto, menyampaikan bahwa program bantuan laboratorium IPA tahun 2026 menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sains di sekolah.

Selain menyediakan sarana praktikum, program ini juga disertai bimbingan teknis agar sekolah mampu mengelola, memanfaatkan, dan merawat laboratorium secara tepat dan aman.

Menurut Yuli, minat sekolah terhadap program ini sangat tinggi. Dalam waktu sekitar satu minggu masa pengusulan, sebanyak 1.834 SMA mengajukan permohonan bantuan melalui Sistem Informasi Manajemen Sarana dan Prasarana (Simaspras).

Namun karena kuota yang tersedia hanya 100 paket bantuan, proses seleksi dilakukan secara ketat berdasarkan sejumlah kriteria prioritas.

“Prioritas diberikan kepada sekolah penerima revitalisasi, sekolah terdampak bencana, wilayah 3T, serta sekolah yang menjadi model pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial,” jelas Yuli.

Ia berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kegiatan praktikum yang relevan dengan kurikulum sekaligus meningkatkan kemampuan eksperimen peserta didik.

“Kami ingin meningkatkan kapasitas sekolah dalam merancang kegiatan pembelajaran praktikum yang bermakna, relevan dengan kurikulum, dan mendorong keterampilan eksperimen siswa,” ujarnya.

Melalui program ini, Kemendikdasmen berharap laboratorium IPA tidak hanya menjadi fasilitas pelengkap sekolah, tetapi menjadi pusat pembelajaran yang mampu menumbuhkan budaya sains, berpikir kritis, dan kemampuan memecahkan masalah di kalangan generasi muda Indonesia.

Revisi Oleh:
  • Satria - 23/06/2026 16:05
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu