Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Cara Allah Mengajarkan Manusia melalui Serangga

Iklan Landscape Smamda
Cara Allah Mengajarkan Manusia melalui Serangga
Al-Qur'an telah memberikan petunjuk bahwa semua serangga di bumi menjadi pelajaran bagi manusia. Apakah yang memberi maslahat atau yang mengganggu mereka. (Muhsin MK/PWMU.CO).

Serangga bagi manusia sungguh diperlukan, apalagi yang bermaslahat. Namun ada pula yang perlu dihindari dari gangguannya.

Al-Qur’an telah memberikan petunjuk bahwa semua serangga di bumi menjadi pelajaran bagi manusia. Apakah yang memberi maslahat atau yang mengganggu mereka.

Jenis serangga yang disebutkan Al-Qur’an beberapa saja. Itupun yang diabadikan sebagai nama surat. Seperti surat An-Naml, semut; An Nahl, lebah dan Al Ankabut, laba-laba. Nama serangga lainnya disebutkan dalam beberapa ayat Nya.

Allah Maha Pencipta berbagai macam serangga dengan maslahat dan kisah yang berbeda-beda. Sebagaimana diuraikan di bawah ini.

Pertama, maslahat lebah (An-Naml) dan cara mencari makan

Lebah cukup populer sebagai produsen madu. Lebah bukan hanya memberi maslahat, khususnya madu yang diproduksi dari perutnya. Serangga ini pun mengajarkan tentang makanan yang dimakan, sehingga menghasilkan madu.

“Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat menyembuhkan bagi manusia …”. ( QS An-Nahl : 69 )

Dalam ayat ini Allah telah menjelaskan maslahat lebah sebagai berikut:

1. Dari perutnya menghasilkan minuman madu bermacam-macam warnanya. Rasanya pun ada yang manis dan pahit.

2. Madunya bermanfaat untuk obat dan kesehatan manusia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya dia berkata: “Sesungguhnya saudaraku perutnya mulas”, maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Minumkanlah ia madu”, kemudian orang itu kembali mendatangi Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kedua kalinya,

Ia bersabda: “Minumkan lagi ia madu”, kemudian orang itu kembali mendatangi Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ketiga kalinya, seraya berkata: “Saya telah melakukannya”.

Kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berkata benar, dan perut saudaramu berdusta, maka berilah saudaramu itu madu”. Lalu orang itu memberi si sakit itu madu, kemudian si sakit sembuh” (HR. Bukhari-Muslim). (Sahih al-Bukhari/7/123).

3. Madu untuk makanan dan minuman. Ada yang makan roti pakai madu. Ada pula minuman pakai madu.

Lebah mencari makan yang bersih dan alami. Di antaranya dari buah-buahan, bunga yang indah dan wangi, dan tumbuh-tumbuhan. (QS. An Nahl: 68-69).

SMPM 5 Pucang SBY

Serangga ini pun mengajarkan manusia agar mencari rezeki yang halal dan thayyib (yang baik bergizi dan sehat wal afiat). (QS. Al Baqarah:168, 172).

Kedua, kebersamaan dan gotong royong semut (An-Naml)

Semut termasuk serangga yang namanya digunakan sebagai salah satu surat dalam Al-Qur’an, An Naml. Tentang semut ini disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkait an dengan Nabi Sulaiman alaihi sallam.

Di saat beliau bersama bala tentaranya melewati lembah semut, lalu mereka berhenti. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘Wahai para semut! masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.(QS. An-Naml: 18).

Karena Nabi Sulaiman alaihi sallam paham bahasa semut, salah satu mukjizatnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka beliau mendengar ucapan semut yang berteriak.

Lalu ia bersama bala tentaranya berhenti berjalan sebelum semua semut itu masuk ke dalam sarangnya.

Pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa semut ini adalah:

1. Semut satu komando, bila mereka semua mendengar perintah, maka mereka serempak mematuhinya. Manusia di zaman para Nabi juga demikian, satu komando, seperti yang dilakukan Raja Sulaiman alaihi sallam pada bala tentaranya.

Sulaiman alaihi sallam segera memerintah kan bala tentara nya untuk berhenti lebih dahulu sebelum mereka melintasi lembah semut untuk melanjutkan perjalanan. Hal ini dilakukan agar semut tersebut tidak mati karena terinjak-injak oleh kuda-kuda yang ditunggangi raja dan bala tentaranya.

Ayat ini landasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang membunuh semut-semut itu. Apalagi dilakukannya dengan cara membakar sarangnya. Sesuai sabdanya,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud, no. 5267; Ibnu Majah, no. 3224; Ahmad 1:332. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 15/08/2026 23:15
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu