2. Semut tinggal di satu tempat atau sarang secara bersama-sama di dalam tanah atau di pohon-pohon. Kebersamaan, kekompakan dan gotong royong mereka menjadi pelajaran yang berharga bagi manusia.
Selain mereka mengajarkan kepada manusia agar saling gotong royong (QS, Al Maidah:2), juga agar selalu kompak, teratur, bersama-sama dan bersatu. (QS. Al Imran:183, As Shaff:4).
3. Semut biasa memakan makanan manusia yang telah dibuang atau yang dibiarkan lama diletakkan dan tidak atau belum dimakan.
Hal ini mengajarkan tentang pentingnya bagi manusia saat makan untuk dihabiskan, sehingga tidak ada yang terbuang percuma (mubazir). (QS. Al Isra:26-27).
Apalagi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa makan di atas piring kemudian ia menjilatnya (membersih kannya), maka piring tersebut akan memintakan ampun untuknya.” (HR. Ibnu Majah no. 3262).
Ketiga, kebaikan laba-laba (Al-Ankabut) dan sarangnya
Laba-laba beragam jenisnya. Semuanya memiliki karakteristik yang sama. Khususnya dalam membuat sarang di berbagai tempat. Sarangnya selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga sarana menangkap mangsanya.
Ternyata sarang serangga ini disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai rumah yang lemah. Allah menjadikan rumah lebah sebagai perumpamaan tentang lemahnya keyakinan orang-orang musyrik. Sesuai firman Nya:
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguh nya rumah yang paling lemah adalah rumah laba- laba, jika mereka mengetahui.” (QS. Al Ankabut: 41).
Tercatat dalam sejarah laba-laba merupakan hewan yang membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat bersama Abu Bakar Siddiq Radhiyallahu ‘anhu berada dalam gua. Pada saat keduanya sedang bersembunyi dari kejaran orang kafir Quraisy. (QS. At Taubah:40).
Sewaktu orang-orang kafir sampai di dekat lubang gua itu mereka melihat ada sarang laba- laba. Orang-orang kafir itu terkecoh sehingga tidak dapat menemui jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abu Bakar Siddiq Radhiyallahu ‘anhu.
Peristiwa ini disebutkan dalam sebuah hadits (meskipun para ulama berbeda pendapat tentang statusnya), sebagai berikut.
“Ketika mereka sampai di gunung, mereka kehilangan jejaknya. Mereka lantas naik ke gunung dan melalui sebuah gua. Mereka melihat di pintu gua tersebut ada sarang laba-laba, sehingga mereka berkata,
“Sekiranya dia masuk ke sini, tidak mungkin akan ada sarang laba-laba di depan gua ini” Di sanalah Beliau Shallallahu ʿAlaihi wa Sallam bermalam selama tiga malam”. (HR. Ahmad, no. 3241).
Semua serangga yang disebut sebagai nama surat Al-Qur’an ini memiliki makna yang dalam dan menjadi pelajaran berharga bagi manusia.
Baik yang berhubungan dengan kemuliaan hewan serangga itu sendiri, maupun tentang cara hewan itu membuat rumah atau sarangnya, dan tentang maslahat yang diberikannya. Subhanallah.





0 Tanggapan
Empty Comments