Jika kita belum mampu meninggalkan amal jariyah, setidaknya jangan sampai meninggalkan dosa jariyah.
Sebab, ada dosa yang tidak berhenti ketika seseorang meninggal dunia. Dosa itu bisa terus mengalir selama keburukan yang pernah ia sebarkan masih dilakukan, ditonton, ditiru, atau diikuti orang lain.
Kematian memang menghentikan kesempatan seseorang untuk beramal secara langsung. Namun, jejak perbuatan yang pernah ditinggalkan bisa tetap berjalan.
Jika jejak itu berupa kebaikan, ia menjadi amal yang terus mengalir. Sebaliknya, jika yang ditinggalkan adalah keburukan, ia dapat menjadi dosa yang terus mengalir.
Bayangkan seseorang membuka media sosial beberapa tahun lalu. Ia menemukan sebuah video yang tidak pantas.
Tanpa berpikir panjang, video itu dibagikan kepada beberapa orang. Dari satu orang menyebar ke sepuluh orang. Dari sepuluh menjadi ratusan. Dari ratusan mungkin menjadi ribuan.
Waktu berlalu. Orang yang pertama kali membagikannya meninggal dunia. Tetapi video itu masih beredar.
Setiap kali video tersebut dilihat karena menjadi bagian dari rantai penyebaran yang ia mulai, ada persoalan yang harus ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Begitulah gambaran betapa seriusnya jejak perbuatan di era digital.
Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang menyebarkan foto yang membuka aurat, mengajarkan keburukan, memberikan contoh perilaku maksiat, atau menyebarkan berita bohong dan hoaks.
Jari kita mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk menekan tombol bagikan. Namun, akibatnya bisa berlangsung jauh lebih lama.
Karena itu, sebelum membagikan sesuatu, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah yang saya sebarkan ini akan menjadi kebaikan atau justru menjadi keburukan yang terus berjalan setelah saya tidak ada?
Dalam Islam, seseorang tidak hanya diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri. Ia juga dapat menanggung dosa akibat menjadi penyebab orang lain melakukan keburukan.
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mencontohkan suatu perbuatan yang buruk, maka baginya dosanya dan dosa orang yang melakukannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Hadis ini mengingatkan bahwa sebuah contoh buruk dapat memiliki dampak yang panjang.
Seseorang mungkin merasa, “Saya hanya membagikan.”
Padahal, sesuatu yang dibagikan dapat menjadi contoh bagi orang lain. Orang lain kemudian meniru. Orang berikutnya kembali menyebarkan. Begitu seterusnya.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa dunia digital bukan ruang tanpa konsekuensi. Setiap unggahan, komentar, foto, video, dan tautan dapat meninggalkan jejak.
Allah SWT juga berfirman:
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
“Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada Hari Kiamat, dan memikul dosa-dosa orang yang mereka sesatkan, yang tidak mengetahui sedikit pun bahwa mereka disesatkan.” (QS. an-Nahl: 25)
Mujahid menjelaskan ayat tersebut bahwa mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang-orang yang mengikuti mereka. Namun, hal itu tidak mengurangi dosa orang yang mengikuti perbuatan tersebut.
Jangan Meremehkan Satu Kali Membagikan
Sering kali kita menganggap ringan sebuah tindakan karena hanya dilakukan sekali.
“Cuma share.”
“Cuma meneruskan.”
“Cuma bercanda.”
“Cuma ikut tren.”
Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana sebuah konten akan bergerak setelah keluar dari tangan kita.
Sebuah berita bohong yang kita teruskan dapat membuat seseorang difitnah. Sebuah foto yang tidak pantas dapat merusak kehormatan seseorang. Sebuah video buruk dapat ditiru oleh orang lain. Sebuah nasihat yang keliru dapat membuat orang lain menjalankan ajaran yang salah.
Karena itu, jangan ukur dosa hanya dari kecilnya tindakan, tetapi lihat juga panjangnya akibat. Jari yang ringan menekan tombol share bisa menjadi pintu kebaikan. Namun, bisa pula menjadi jalan panjang bagi keburukan.
Lalu, bagaimana jika seseorang pernah melakukan kesalahan semacam itu?
Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih hidup, pintu tobat terbuka. Tobat bukan hanya mengucapkan istigfar, tetapi juga sungguh-sungguh menyesali kesalahan, meninggalkan perbuatan tersebut, bertekad tidak mengulanginya, dan berusaha memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan.
Jika pernah menyebarkan konten buruk, berusahalah menghapusnya jika memungkinkan. Jika pernah menyebarkan berita bohong, luruskan informasi tersebut.
Jika pernah mengajarkan sesuatu yang keliru, koreksi dan benarkan kepada orang-orang yang pernah menerimanya.
Jika pernah mengajak orang lain kepada keburukan, berusahalah mengajak mereka kembali kepada kebaikan.
Kita tidak pernah tahu apakah satu kesalahan yang pernah kita sebarkan masih beredar atau sudah berhenti. Karena itu, selama masih diberi umur, perbaikilah jejak yang pernah kita tinggalkan.
Sebelum Meninggal, Periksa Jejak yang Kita Tinggalkan
Ada orang yang ketika meninggal meninggalkan rumah, kendaraan, tabungan, tanah, jabatan, dan berbagai harta benda.
Tetapi ada pula yang meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat: jejak amal dan jejak dosa.
Sebuah tulisan yang menginspirasi orang untuk berbuat baik dapat terus menjadi pahala.
Sebuah ilmu yang bermanfaat dapat terus memberikan manfaat.
Sebaliknya, sebuah kebohongan yang terus dipercaya orang lain, sebuah konten buruk yang terus ditonton, atau sebuah ajakan maksiat yang terus diikuti dapat menjadi beban yang panjang.
Maka, sebelum tidur, sebelum meninggalkan dunia maya, bahkan sebelum meninggalkan dunia ini, ada baiknya kita bertanya:
Apa yang akan tetap berjalan setelah saya tidak ada?
Jangan sampai tangan kita telah berhenti bergerak, tetapi dosa dari apa yang pernah kita sebarkan masih terus berjalan. Jangan sampai tubuh telah dikuburkan, tetapi jejak keburukan masih hidup di dunia.
Jika belum mampu meninggalkan amal jariyah yang besar, setidaknya jangan meninggalkan dosa jariyah. Sebab, kematian bukan akhir dari semua jejak.
Apa yang kita tinggalkan hari ini, bisa jadi masih berjalan ketika kita sudah tidak lagi berada di dunia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments