Pengasuh pesantren tidak cukup hanya berperan dalam menegakkan aturan dan kedisiplinan. Mereka juga perlu hadir sebagai sosok yang memberikan kasih sayang, menjadi teladan, memotivasi, serta mendampingi santri ketika menghadapi persoalan.
Hal tersebut disampaikan Ibrahim Mandres dalam kegiatan In House Training (IHT) Kepengasuhan dan Layanan Pendidikan yang digelar Pondok Pesantren Karangasem Paciran bekerja sama dengan Dormitory Education Academy, Sabtu-Ahad (5-6/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula KH Abdurrahman Syamsuri tersebut diikuti pengasuh, pembina pondok, serta sejumlah pimpinan struktural lembaga pendidikan formal di lingkungan Pondok Pesantren Karangasem.
Dalam pemaparannya, Ibrahim menekankan pentingnya pengasuh memahami kebutuhan emosional santri. Menurutnya, anak membutuhkan kasih sayang yang cukup sehingga pengasuh perlu mampu menjalankan peran sebagaimana orang tua.
“Anak itu harus cukup kasih sayang. Maka guru hebat harus mampu berperan menjadi ayah dan ibu,” ungkapnya.
Pengasuh sebagai Guru Kehidupan
Ibrahim menjelaskan, pengasuh tidak hanya berperan dalam proses pendidikan formal. Dalam kehidupan sehari-hari di pesantren, pengasuh juga menjadi salah satu figur yang berinteraksi langsung dengan santri.
Karena itu, pengasuh perlu membangun kedekatan dengan santri melalui berbagai aktivitas. Kedekatan tersebut dapat dilakukan dengan bercerita tentang pengalaman yang memberikan inspirasi, mengajak santri mengenal lingkungan, maupun bermain bersama.
Menurut Ibrahim, pendekatan tersebut membantu pengasuh mengenali karakter santri. Setiap anak memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda sehingga cara mendampinginya tidak selalu dapat disamakan.
Pengasuh juga perlu memahami kondisi santri ketika mereka menghadapi persoalan. Sikap bijaksana dan kemampuan memahami situasi menjadi bagian penting dalam memberikan pendampingan.
Selain sebagai guru kehidupan, Ibrahim menempatkan pengasuh sebagai motivator. Motivasi tidak cukup diberikan melalui nasihat, tetapi juga perlu ditunjukkan melalui tindakan dan kehadiran pengasuh ketika santri membutuhkan pendampingan.
Pengasuh dapat memberikan apresiasi terhadap capaian santri, sekaligus memberikan dukungan ketika mereka mengalami kesulitan. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari proses pendampingan yang berlangsung dalam kehidupan pesantren.
Mendampingi Santri Menghadapi Masalah
Peran lain yang ditekankan Ibrahim adalah kemampuan pengasuh dalam membantu santri menyelesaikan persoalan. Menurutnya, pengasuh perlu membangun komunikasi dan bersedia mendengarkan santri dengan sabar sebelum menentukan bentuk pendampingan.
Pemahaman terhadap persoalan secara menyeluruh diperlukan agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi santri. Karena itu, pengasuh tidak seharusnya terburu-buru memberikan penilaian sebelum mengetahui persoalan yang dihadapi.
Ibrahim juga mendorong pengasuh menjadi pembimbing dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya melalui keteladanan dan kesediaan menyediakan waktu untuk mendampingi berbagai aktivitas santri.
Budaya komunikasi yang memungkinkan santri menyampaikan persoalan juga perlu dibangun. Dengan demikian, santri memiliki ruang untuk berbagi ketika menghadapi kesulitan selama berada di lingkungan pesantren.
Keteladanan dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam sesi mengenai keteladanan, Ibrahim menekankan bahwa perilaku pengasuh menjadi bagian dari proses pendidikan. Ia menyebut anak sebagai “peniru ulung” yang akan melihat dan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya.
“Semua ini bukan sandiwara. Karena anak itu peniru ulung,” tegasnya.
Karena itu, menurut Ibrahim, keteladanan perlu ditunjukkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang disampaikan kepada santri perlu selaras dengan perilaku yang ditunjukkan oleh pengasuh.
Pengalaman hidup pengasuh juga dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran. Cerita mengenai pengalaman dan proses yang pernah dilalui dapat membantu santri memperoleh pelajaran di luar materi pendidikan formal.
Ibrahim juga mendorong pengasuh menyediakan waktu untuk bermain bersama santri. Aktivitas tersebut dapat menjadi salah satu cara membangun kedekatan sekaligus memahami santri dalam situasi yang lebih santai.
Melalui IHT Kepengasuhan dan Layanan Pendidikan tersebut, materi kepengasuhan tidak hanya ditempatkan pada persoalan aturan dan kedisiplinan. Peran pengasuh juga mencakup kasih sayang, komunikasi, motivasi, pendampingan, dan keteladanan dalam kehidupan santri di pesantren. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments