Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan gejala batuk, pilek, demam, hingga nyeri kepala tengah menjadi perhatian masyarakat. Kondisi tersebut juga banyak ditemukan dengan gejala yang menyerupai influenza.
Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Jember (RSU Unmuh Jember), dr Wahyu Agung Purnomo SpP mengatakan bahwa saat ini memang terdapat peningkatan kasus ISPA.
Namun, kondisi tersebut belum dapat dipastikan seluruhnya disebabkan oleh virus Influenza A.
“Fenomena saat ini memang didapatkan peningkatan kasus ISPA dengan gejala batuk, pilek, demam, nyeri kepala. Tetapi belum terbukti bahwa penyebabnya adalah virus Influenza A. Untuk memastikannya membutuhkan pemeriksaan PCR” jelasnya.
Menurutnya, gejala yang muncul memang mengarah pada infeksi influenza. Virus influenza sendiri dapat menular melalui udara dan kemudian menginfeksi saluran pernapasan.
Pada tahap awal, infeksi influenza umumnya ditandai dengan demam, batuk, pilek, nyeri kepala, serta tubuh terasa sakit. Kumpulan gejala tersebut dikenal sebagai flu-like syndrome.
Meski sebagian besar kasus dapat membaik dengan daya tahan tubuh, masyarakat tetap perlu memperhatikan tanda-tanda yang menunjukkan kondisi semakin berat.
Pemeriksaan medis dianjurkan apabila mengalami demam tinggi, batuk berkepanjangan hingga disertai sesak napas, maupun gejala penyerta lain yang semakin memberat.
“Terutama bagi kelompok usia balita dan lansia, atau dengan penyakit penyerta seperti asma, PPOK, diabetes, dan sakit jantung” ungkap dr Wahyu.
Ia menjelaskan, risiko yang paling perlu diwaspadai apabila infeksi dibiarkan dan berkembang menjadi kondisi berat adalah gangguan pernapasan hingga gagal napas. Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan pada pasien yang memiliki penyakit penyerta berat.
Anak Lebih Rentan Mengalami Influenza
Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RSU Unmuh Jember, dr. Dion Krismashogi Dharmawan MSi MKedKlin SpA menjelaskan risiko pada anak, terutama usia di bawah lima tahun.
Menurutnya, mereka lebih rentan terkena influenza A karena sistem imun dan saluran pernapasannya masih berkembang.
Di samping itu, risiko penularan juga meningkat karena tingginya interaksi anak di sekolah maupun tempat bermain.
Gejala influenza pada anak dapat berbeda dengan orang dewasa. Demam cenderung lebih tinggi dan mendadak, bahkan dapat mencapai lebih dari 39 derajat Celsius, serta lebih sering disertai mual, muntah, diare, dan sakit perut.
Anak juga berisiko mengalami komplikasi seperti infeksi telinga tengah (otitis media) dan croup. Perubahan perilaku seperti lebih rewel, gelisah, atau sangat lemas juga perlu menjadi perhatian orang tua.
Kenali Tanda Influenza Mulai Berat
dr Dion mengingatkan orang tua untuk tidak hanya memperhatikan demam dan batuk, tetapi juga perubahan kondisi anak selama mengalami infeksi.
Orang tua perlu segera membawa anak mendapatkan pemeriksaan medis apabila muncul tanda bahaya atau red flags. Salah satunya adalah sesak napas atau napas yang menjadi lebih cepat.
Kondisi tersebut dapat terlihat dari bagian dada anak yang tertarik ke dalam saat bernapas atau munculnya suara napas seperti mengi maupun stridor.
Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah bibir atau wajah yang tampak kebiruan maupun pucat. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda menurunnya kadar oksigen dalam tubuh.
Anak yang sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak mau berinteraksi, atau terus-menerus tidur juga perlu segera mendapatkan pertolongan medis.
Begitu pula ketika anak menunjukkan tanda dehidrasi berat, seperti tidak mengeluarkan air mata saat menangis, popok tetap kering selama lebih dari delapan jam, atau kondisi mulut yang sangat kering.
Kejang yang terjadi akibat demam tinggi secara mendadak juga menjadi salah satu kondisi yang membutuhkan perhatian medis.
Pencegahan Penularan di Rumah
Selain mengenali gejala dan tanda bahaya, pencegahan penularan menjadi langkah penting. Terutama ketika terdapat anggota keluarga yang sedang sakit.
Untuk mengurangi risiko penularan, dr. Wahyu menganjurkan masyarakat menggunakan masker, mencuci tangan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mengonsumsi makanan bergizi dan bervitamin, mencukupi waktu istirahat, serta tetap melakukan aktivitas olahraga.
“Karena penyakit yang disebabkan oleh virus ini sifatnya self-limiting disease, artinya bisa sembuh dengan kekebalan tubuh kita sendiri” pungkas dr Wahyu.
Sementara untuk lingkungan keluarga yang memiliki anak, pencegahan dapat dilakukan dengan membiasakan anak mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun selama minimal 20 detik, terutama setelah batuk atau bersin maupun sebelum makan.
Anak juga perlu diajarkan etika batuk dan bersin dengan menutup mulut serta hidung menggunakan siku bagian dalam atau tisu. Tisu yang telah digunakan sebaiknya segera dibuang ke tempat sampah.
Apabila terdapat anggota keluarga yang sedang sakit, penggunaan masker di dalam rumah juga dapat membantu mengurangi risiko penyebaran virus.
Benda-benda yang sering disentuh bersama, seperti gagang pintu, mainan, sakelar lampu, dan remote televisi, juga perlu dibersihkan secara rutin.
Sirkulasi udara di dalam rumah perlu diperhatikan dengan membuka jendela agar udara segar dapat masuk.
Selain itu, vaksinasi influenza tahunan dapat menjadi salah satu langkah perlindungan, termasuk bagi anak mulai usia enam bulan ke atas dan anggota keluarga lainnya.
Dengan menerapkan langkah pencegahan dan mengenali tanda-tanda bahaya sejak dini, orang tua diharapkan dapat memberikan penanganan yang tepat serta mencegah kondisi influenza pada anak berkembang menjadi lebih berat.





0 Tanggapan
Empty Comments