Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Istisqa, Kemarau Panjang, dan Tobat Ekologis

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Istisqa, Kemarau Panjang, dan Tobat Ekologis
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : H. Imam Sugiri, ST, MM Mahasiswa Program Doktoral Sosiologi UMM, Wakil Ketua Komite Kadin Jawa Timur, dan Ketua LP-UMKM PWM Jawa Timur

Istisqa sebagai Solidaritas dan Introspeksi

Émile Durkheim memandang ritual keagamaan sebagai sarana yang memperkuat ikatan sosial. Ketika ribuan orang berdiri dalam saf yang sama, dengan kegelisahan yang sama, terbentuk apa yang ia sebut kesadaran kolektif.

Petani yang sawahnya retak, ibu rumah tangga yang antre air bersih, dan pejabat yang menghadapi keluhan warga dipertemukan dalam satu kesadaran: kita sedang menghadapi masalah bersama.

Dalam tuntunan Islam, istisqa tidak berdiri sendiri. Ia didahului istigfar, tobat, dan sedekah. Al-Qur’an mengaitkan permohonan ampun dengan turunnya hujan (QS. Nuh: 10–12), sekaligus mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut tampak akibat perbuatan tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41).

Artinya, istisqa sejatinya merupakan undangan untuk introspeksi. Tobat yang dituntut bukan hanya tobat personal, tetapi juga tobat ekologis: berhenti dari kebiasaan yang merusak alam.

Di sinilah letak tantangannya. Jangan sampai istisqa berhenti sebagai ritual musiman yang ramai saat kemarau, lalu dilupakan ketika banjir datang.

Doa yang sungguh-sungguh seharusnya melahirkan perubahan perilaku: menanam pohon, menghemat air, menjaga daerah resapan, tidak membakar lahan, dan menolak pembangunan yang merampas ruang hijau.

Kemarau sebagai Gejala, Bukan Sekadar Musim

Kemarau panjang tahun ini memang dipicu El Niño. Namun, kita perlu jujur bahwa dampaknya diperparah oleh kerusakan lingkungan yang kita ciptakan sendiri.

Hutan yang gundul kehilangan kemampuan menahan air. Sungai mendangkal, sumber mata air mengering, dan kota-kota menutup tanahnya dengan beton. Ketika hujan datang terlambat, kita kekeringan. Ketika hujan turun deras, kita kebanjiran.

BMKG sendiri mengingatkan bahwa musim hujan tahun ini diprediksi lebih singkat dengan curah hujan yang lebih lebat. Karena itu, ancaman banjir dan longsor perlu diantisipasi.

Ulrich Beck menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat risiko: risiko terbesar tidak lagi semata-mata datang dari alam, tetapi juga dari hasil kemajuan manusia itu sendiri.

Perubahan iklim merupakan contoh paling nyata. Yang menarik secara sosiologis, risiko ini dibagi secara tidak adil.

Mereka yang paling sedikit menyumbang kerusakan, seperti petani kecil, nelayan, dan warga desa di lereng kapur, justru paling cepat menanggung akibatnya.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Karena itu, kewaspadaan terhadap perubahan iklim tidak cukup diserahkan kepada BMKG dan BPBD.

Kesadaran ini perlu tumbuh di tengah masyarakat: memahami prakiraan cuaca, menyiapkan cadangan air, mengatur pola tanam, dan memperkuat gotong royong desa dalam menghadapi kekeringan maupun banjir.

Pekan ini kita memiliki sejumlah peringatan yang relevan. Tanggal 5 November diperingati sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.

Peringatan ini mengingatkan bahwa kekeringan bukan hanya krisis manusia. Satwa kehilangan sumber air dan pakan, tumbuhan mati, dan kebakaran hutan menghanguskan habitat.

Mencintai puspa dan satwa berarti menjaga rumah bersama, tempat manusia juga hidup.

Lalu, ada wayang.

Pada 7 November 2003, UNESCO mengakui wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, yang kemudian menjadi dasar penetapan Hari Wayang Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018. Pada 4 November 2008, wayang dicatat dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Apa hubungannya dengan kemarau?

Dalam pertunjukan wayang, kita mengenal gunungan atau kayon yang menggambarkan pohon kehidupan: alam semesta dengan pepohonan, satwa, dan air yang saling terhubung.

Gunungan menandai awal dan akhir cerita, seakan-akan berpesan bahwa seluruh drama kehidupan manusia berlangsung dalam bingkai alam.

Kearifan budaya kita sebenarnya telah lama mengajarkan keseimbangan, jauh sebelum istilah perubahan iklim dikenal. Masalahnya, kita lebih rajin melestarikan pertunjukannya daripada mengamalkan pesannya.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 03/11/2026 19:32
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu