Peran Dunia Usaha dan UMKM
Sebagai pegiat UMKM dan dunia usaha, saya melihat kemarau panjang juga sebagai persoalan ekonomi.
Petani gagal panen, peternak kesulitan memperoleh pakan, usaha makanan dan minuman menghadapi kenaikan harga bahan baku, dan usaha kecil di desa terdampak ketika daya beli warga melemah.
UMKM merupakan kelompok yang paling rentan karena modalnya terbatas dan cadangan keuangannya tipis.
Namun, UMKM juga bisa menjadi bagian dari solusi.
Pertama, adaptasi usaha melalui diversifikasi produk, pengolahan hasil pertanian agar lebih tahan lama, dan perencanaan stok berdasarkan informasi iklim.
Kedua, efisiensi sumber daya melalui penghematan air dan energi, daur ulang limbah, serta penggunaan kemasan ramah lingkungan.
Ketiga, pengembangan peluang ekonomi hijau, seperti usaha penampungan air hujan, pupuk organik, bibit tanaman, hingga jasa perawatan lingkungan.
Dunia usaha yang lebih besar memikul tanggung jawab lebih berat. Industri perlu memastikan rantai pasoknya tidak bergantung pada pembakaran lahan atau eksploitasi air tanah secara berlebihan.
Kemitraan antara usaha besar dan UMKM dapat diarahkan pada praktik usaha yang berkelanjutan, bukan sekadar mengejar volume produksi.
Di lingkungan Muhammadiyah, gagasan ini sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan: iman yang menggerakkan amal dan amal yang ditopang ilmu pengetahuan.
Doa dipanjatkan, ikhtiar dikerjakan, dan ilmu dijadikan pedoman.
Dari Saf Salat ke Gerakan Sosial
Saya ingin menutup dengan satu harapan: semoga saf-saf istisqa yang kita bentuk hari ini berlanjut menjadi barisan gerakan sosial untuk merawat bumi.
Masjid dapat menjadi pusat edukasi hemat air dan gerakan menanam pohon. Sekolah dan kampus dapat mengembangkan riset adaptasi iklim.
Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem peringatan dini, sumur resapan, embung, dan distribusi air bersih yang adil.
Dunia usaha dan UMKM dapat menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari model bisnisnya.
Hujan pada akhirnya akan turun, sebagaimana diprediksi BMKG, secara bertahap mulai November hingga Desember.
Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah hujan turun, apakah kita masih ingat pada tobat dan janji yang kita ucapkan saat kemarau?
Istisqa yang sejati bukan hanya meminta hujan dari langit, melainkan juga memperbaiki cara kita hidup di bumi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments