Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jamroji Ajak Media Muhammadiyah Jalankan Empat Mandat Transisi Digital

Iklan Landscape Smamda
Jamroji Ajak Media Muhammadiyah Jalankan Empat Mandat Transisi Digital
Jamroji saat menyampaikan materi. Foto: Firnas Muttaqin/PWMU.CO.
pwmu.co -

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jamroji, S.Sos., M.Comms., menegaskan pentingnya aksi kolektif untuk membangun ekosistem digital Muhammadiyah yang lebih koheren. Hal tersebut ia sampaikan saat Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi yang digelar oleh PWM Jatim pada Sabtu (11/10/2025) di Aula Mas Mansur.

Ia menyoroti dua tantangan utama: lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah dan kegagalan media internal dalam menjangkau publik eksternal. Dalam pemaparannya, Jamroji juga memaparkan empat mandat yang perlu segera dijalankan dalam proses transisi digital Persyarikatan, di antaranya:

1. Model Sinergi Konten: Mencontoh MTA dan Transmedia Storytelling

Jamroji menyoroti ironi bahwa Muhammadiyah, sebagai organisasi dakwah pencerahan, justru tertinggal dalam integrasi media. Ia mencontohkan keberhasilan radio Muhammadiyah Telecommunication Association (MTA) yang mampu menjangkau masyarakat melalui program sederhana seperti setoran bacaan Al-Qur’an via radio.

“Untuk mengatasi kelemahan SDM daerah dalam produksi konten berkualitas, Jamroji mengusulkan strategi sentralisasi konten baku. Misalnya, tim PWM dapat memproduksi video ceramah berdurasi pendek (short video) yang kemudian dibagikan ke seluruh PDM dan PRM agar bisa disebarluaskan secara serentak,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mendorong konsep Sinergitas Konten atau Press Media Storytelling antar media internal.

“Isu awal yang diangkat oleh satu media kita boleh diperpanjang oleh media yang lainnya,” jelasnya.

Sinergi ini, lanjutnya, dapat diwujudkan melalui dua model:

  • Coupling, yakni kesepakatan antar media persyarikatan (PWMU.CO, Maklumat, dan lainnya) untuk mengangkat topik yang sama dari sudut pandang berbeda.

  • Transmedia Storytelling, yakni mengembangkan satu narasi inti, misalnya kisah filantropi ke dalam berbagai format seperti artikel panjang, unggahan media sosial, dan video pendek, agar masing-masing konten berdiri sendiri namun saling menguatkan pengalaman audiens.

2. Penanganan Krisis Etika Digital dan Hoaks Internal

Menurut Jamroji, tantangan terbesar Muhammadiyah justru datang dari internal, terutama dalam penyebaran informasi di grup-grup WhatsApp. Ia menyayangkan masih banyak anggota yang tanpa sadar membagikan hoaks dan informasi yang tidak terverifikasi.

Ia menilai, tidak adanya rasa bersalah, permintaan maaf, maupun upaya tabayyun telah merusak etika interaksi digital. Maka dari itu, ia menegaskan pentingnya penerapan Etika Digital Muhammadiyah yang konkret, mencakup:

  • Stop Hoaks, menyadari bahwa penyebaran informasi palsu merusak reputasi organisasi berkemajuan.

    Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

  • Hormati Hak Cipta, tidak menyalin konten tanpa menyebutkan sumber.

  • Waspada UU ITE, tidak sembarangan mengunggah foto orang lain tanpa izin.

3. Transformasi Media Internal agar Tidak Terjebak pada Pola In-House Magazine

Jamroji juga mengkritik fenomena in-house magazine syndrome pada media internal Muhammadiyah. Banyak media, menurutnya, masih terjebak pada publikasi seremonial yang hanya menonjolkan loyalitas zaman dan enggan menjangkau publik eksternal.

Ia mengapresiasi PWM Jatim yang telah memisahkan fungsi media antara PWMU.CO dan laman kelembagaan, namun menegaskan pentingnya menentukan posisi yang jelas.

“Kita memposisikan PWMU itu seperti apa? Media internal atau media publik?,” tanyanya.

Jika tujuannya menjangkau publik luar, lanjutnya, maka media perlu menyesuaikan tone dan gaya pemberitaan yang lebih menarik bagi audiens modernis, bukan hanya untuk konsumsi internal jamaah.

4. Penguatan Dakwah Kontekstual yang Relevan dengan Audiens Lokal

Sebagai penutup, Jamroji menyoroti perlunya dakwah yang lebih kontekstual dan berbasis data. Ia mengkritik model Dakwah Pilihan yang selama ini lebih mengandalkan kemampuan da’i dibanding kebutuhan audiens (maq’u).

Ia mengusulkan agar PWM memanfaatkan media listening tools untuk mendeteksi isu-isu lokal yang sedang ramai di masyarakat. Isu-isu tersebut dapat dijadikan bahan dakwah yang lebih relevan dan menarik.

“Seringkali kenapa banyak materi dakwah yang mohon maaf tidak didengarkan? Karena tidak relate,” pungkasnya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡