Pernahkah kita begitu sulit memaafkan diri sendiri? Satu kesalahan terus teringat. Satu keputusan buruk berulang kali disesali.
Bahkan ketika orang lain sudah melupakan, kita masih sibuk menghukum diri sendiri. Seolah-olah masa lalu adalah ruang gelap yang tak menyediakan pintu keluar. Padahal, hidup tidak berhenti pada satu kesalahan.
Seorang ayah mungkin pernah terlalu keras kepada anaknya. Kata-kata yang telanjur terucap tak bisa ditarik kembali.
Ia baru menyadari kekeliruannya setelah melihat anaknya diam dan menjauh. Penyesalan datang terlambat. Namun, ia masih bisa meminta maaf, memperbaiki sikap, dan belajar menjadi ayah yang lebih baik.
Begitu pula seorang ibu yang pernah salah mengambil keputusan. Seorang sahabat yang pernah mengkhianati kepercayaan. Atau kita sendiri yang pernah lalai, menyakiti orang lain, dan memilih jalan yang ternyata keliru.
Kesalahan memang meninggalkan jejak. Namun, jejak itu tidak harus menjadi arah perjalanan selanjutnya.
Jangan terus meratapi kesalahan. Akuilah, sesalilah, lalu ambil pelajarannya. Jika ada hak orang lain yang terabaikan, kembalikan. Jika ada hati yang terluka, mintalah maaf. Jika ada kebiasaan buruk yang harus dihentikan, mulailah berubah.
Jangan biarkan penyesalan hanya menjadi air mata tanpa perbaikan.
Allah memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” (QS Hud: 114).
Karena itu, iringilah keburukan dengan kebaikan. Bukan untuk menganggap remeh kesalahan, melainkan untuk membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh ingin berubah.
Jika kemarin kita mudah marah, hari ini belajarlah menahan diri. Jika dahulu kita enggan menolong, sekarang ringankan tangan. Jika pernah menyakiti seseorang dengan perkataan, biasakanlah berbicara dengan lebih santun.
Perubahan tidak selalu berlangsung besar-besaran. Kadang, ia dimulai dari satu kalimat yang lebih lembut, satu permintaan maaf yang tulus, atau satu keputusan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kasih sayang-Nya tidak berhenti pada manusia yang merasa dirinya sudah baik. Pintu ampunan-Nya juga terbuka bagi mereka yang menyadari kesalahan dan sungguh-sungguh ingin kembali.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’” (QS Az-Zumar: 53).
Ayat ini seperti tangan yang menuntun orang-orang yang hampir kehilangan harapan. Betapa pun kelam masa lalu seseorang, ia tidak boleh menyimpulkan bahwa dirinya tak lagi pantas mendapatkan ampunan Allah.
Tentu, berharap pada ampunan bukan berarti bebas mengulangi kesalahan. Tobat menuntut kesungguhan.
Ada penyesalan, ada tekad meninggalkan dosa, dan ada kemauan memperbaiki akibat perbuatan kita. Jika kesalahan menyangkut hak sesama manusia, hak itu pun harus ditunaikan sejauh yang bisa dilakukan.
Masa lalu memang tak bisa diubah. Namun, sikap kita terhadap masa lalu masih bisa diperbaiki. Kita tidak bisa menghapus kejadian kemarin, tetapi kita bisa memastikan bahwa hari ini tidak sekadar menjadi pengulangan.
Maka, tataplah masa depan dengan tekad menjadi lebih baik. Serahkan kepada Allah segala sesuatu yang sudah berlalu dan berada di luar kuasa kita.
Bukan untuk melarikan diri dari tanggung jawab, melainkan agar penyesalan tidak merampas kesempatan untuk memperbaiki diri.
Lalu, bagaimana jika hari ini terasa berat?
Ketika masalah datang bertubi-tubi, pekerjaan tak kunjung selesai, tubuh mulai lelah, dan harapan belum menemukan jalan, bawalah semua itu dalam doa.
Mintalah ampunan, petunjuk, dan pertolongan-Nya. Kerjakan apa yang masih bisa dikerjakan. Selesaikan satu demi satu urusan yang ada di hadapan.
Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk mulai melangkah. Cukup lakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita hari ini, sembari memohon agar Allah membimbing langkah berikutnya.
Jangan pula berhenti berbuat baik hanya karena kehidupan pernah memperlakukan kita dengan buruk.
Orang yang pernah dikecewakan tetap bisa belajar memercayai dengan bijaksana. Orang yang pernah disakiti tetap bisa memilih untuk tidak menyakiti. Orang yang pernah jatuh tetap bisa membantu orang lain bangkit.
Kebaikan tidak harus menunggu hidup menjadi mudah. Boleh jadi, ada kebaikan kita yang tidak pernah diketahui manusia. Ada bantuan yang tidak dibalas ucapan terima kasih. Ada kesabaran yang tidak mendapat pujian.
Ada doa panjang yang belum terlihat jawabannya. Ada pula perjuangan memperbaiki diri yang hanya kita dan Allah yang mengetahui.
Jangan buru-buru menganggap semuanya sia-sia. Nilai sebuah kebaikan tidak semata-mata ditentukan oleh tepuk tangan manusia.
Ada keikhlasan yang tidak terlihat, perjuangan yang tidak tercatat, dan amal yang mungkin tampak kecil di mata orang lain, tetapi kita lakukan dengan sepenuh hati karena Allah.
Pada akhirnya, kita semua adalah manusia yang sedang belajar. Kadang benar, kadang keliru. Kadang kuat, kadang rapuh.
Kita membutuhkan ampunan untuk kesalahan kemarin, pertolongan untuk menghadapi hari ini, dan petunjuk untuk melangkah menuju hari esok.
Karena itu, jangan habiskan hidup hanya untuk menyesali apa yang telah berlalu. Jangan pula merasa terlalu baik untuk meminta ampunan.
Akui kesalahan. Perbaiki yang bisa diperbaiki. Perbanyak amal saleh. Jaga harapan. Dan teruslah melangkah.
Selama masih diberi kesempatan hidup, selalu ada hari untuk bertobat, kesempatan untuk memperbaiki diri, dan ruang untuk menanam kebaikan.
Kita tidak tahu bagaimana akhir perjalanan ini. Namun, kita bisa memilih bagaimana menjalani langkah hari ini: dengan iman, ikhtiar, dan harapan pada rahmat Allah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments