Semangat membangun kader yang tangguh dan berkemajuan menjadi ruh dalam kegiatan Baitul Arqom Guru dan Karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Pendidikan oleh Majelis Pembinaan Kader Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Nganjuk.
Mengusung tema “Internalisasi Ideologi Muhammadiyah dan Transformasi Etos Kerja Profesional”, kegiatan berlangsung selama tiga hari, Jumat-Minggu (24–26/7/2026) di SMK Muhammadiyah 3 Nganjuk.
Baitul Arqom tidak dimulai saat peserta memasuki ruang pelatihan. Dua pekan sebelumnya, panitia telah melaksanakan tahap pra-kegiatan berupa screening kemampuan praktik ibadah, meliputi thaharah (wudu) serta kemampuan membaca Al-Qur’an.
Tahapan ini menjadi bagian dari ikhtiar memastikan pembinaan kader berlangsung secara menyeluruh, baik dari sisi pemahaman ideologi maupun penguatan ibadah.
Sertifikat bukan Tujuan
Pada pembukaan hari pertama, Ketua Pelaksana, Rahmad Aji Pangestu, mengingatkan seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh.
Dengan nada santai namun penuh makna, ia berkelakar, “Kalau hanya sertifikat saja, kami bisa buatkan. Namun bukan itu tujuan utamanya”.
Ungkapan tersebut menegaskan bahwa Baitul Arqom merupakan proses pembentukan karakter, bukan kegiatan seremonial semata.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Nganjuk, Juwari.
Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Baitul Arqom bukan sekadar formalitas, plokotoan atau ajang saling menghakimi. Melainkan proses penggemblengan kader agar memiliki mental yang kuat, tidak mudah mengeluh, tidak gemar mencari kesalahan, apalagi menyalahkan orang lain.
Menurutnya, besarnya Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, maupun sosial hanyalah bagian yang tampak di permukaan.
Ia mengibaratkannya seperti gunung es, di mana kekuatan terbesar justru berada pada fondasi ideologi dan nilai-nilai yang tidak terlihat.
Slogan yang Tidak Pernah Berubah
Juwari kembali mengingatkan slogan yang telah lama menjadi pegangan warga Muhammadiyah. “Slogan e ket biyen ora berubah, Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah” tegas Juwari.
Pesan tersebut menjadi penguat semangat berkhidmat dan berdakwah dengan penuh keikhlasan.
Di hadapan 32 peserta yang terdiri dari guru dan karyawan AUM Pendidikan se-Kabupaten Nganjuk, ia juga mengajak seluruh kader meneladani pesan-pesan pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, agar menjadi pribadi yang unggul dan senantiasa kembali kepada nilai-nilai Muhammadiyah.
Menurutnya, identitas Muhammadiyah harus tercermin dalam perilaku dan pengabdian kader di tengah masyarakat sampai stempel Muhammadiyah harus sudah didapatkan di tengah masyarakat.
Mengakhiri sambutannya, Juwari menyampaikan satu pesan yang menjadi penegas semangat kaderisasi, yakni “Kader mboten meneng”. Kader tidak boleh diam, tetapi harus terus bergerak, berkarya, dan memberi manfaat bagi umat serta persyarikatan.
Melalui Baitul Arqom MPKSDI PDM Kabupaten Nganjuk ini, harapannya lahir pribadi-pribadi Muhammadiyah yang semakin kokoh dalam ideologi dan profesional dalam bekerja.
Serta, senantiasa bergerak dan pribadi yang semakin bergerak dalam kebaikan, lalu menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments