Kepala Desa Sendangagung, Panut Supodo, ikut mengangkat rebana dan memainkan jidor bersama para seniman dalam Gelar Budaya dan Melekan Ikatan Keluarga Ponpes Al-Ishlah (IKPI) dalam rangka Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, Kamis (24/9/2026) malam.
Suasana di Tribun Barat Lapangan Basket, depan kantor MA Al-Ishlah, mendadak meriah ketika Panut Supodo naik ke panggung kehormatan dan bergabung dengan para seniman jidor.
Seperti terlihat dalam foto, Kades Sendangagung yang mengenakan baju hitam bergaris dan sarung itu duduk lesehan di barisan penabuh jidor. Ia mengangkat rebana dan memukulnya secara kompak bersama belasan penabuh lainnya.
Aksi tersebut mendapat sambutan hangat dari sekitar 200 hadirin Ikatan Keluarga Ponpes Al-Ishlah (IKPI) dan para guru.
Tak hanya memberikan sambutan dan mengapresiasi peran Pesantren Al-Ishlah sebagai pusat perkaderan orang baik, Panut Supodo juga ingin memberikan contoh nyata dalam pelestarian budaya.
Sebelum turun memainkan jidor, ia mengucapkan selamat milad ke-40 kepada Al-Ishlah.
“Al-Ishlah telah menunjukkan kepada kami sukses menjadi tempat perkaderan seni jidor, Al-Ishlah tidak hanya sumber ilmu tetapi juga memiliki kepedulian lingkungan dan membawa dampak baik, semoga ke depan setelah 40 makin baik dan jaya,” ucapnya dalam sambutannya.
Sebelum turun dari panggung, Panut juga menyampaikan pantun yang disambut tepuk tangan para hadirin.
Memotong kayu hingga terbelah, kayu diolah menjadi papan.
Dalam rangka dasa warsa Al-Ishlah kita bersama melekan jidoran.
Panut Supodo bukan orang baru di dunia jidor. Ia pernah bergabung dengan grup jidor Golden Star, salah satu grup legendaris di Sendangagung dan Sendangduwur.
Tak heran jika ketika kembali memegang rebana, pukulannya masih kompak dan hafal dengan irama jidor.
Malam Gelar Budaya tersebut menampilkan tujuh grup jidor, yakni Surya Nada, Pemuda Bersinar, Rono Joyo, Gema Nusa Budaya, Roso Buwono, Warna Baru, dan Golden Star.
Sebanyak 75 personel seniman tampil secara bergantian sejak awal acara hingga larut malam.
Kehadiran Kades Sendangagung yang ikut menabuh rebana menjadi simbol sinergi antara pemerintah desa dan pesantren dalam menjaga tradisi budaya.
Di tengah musik jidor yang di sejumlah tempat mulai punah, kesenian tersebut masih hidup dan terus diregenerasi di Sendangagung melalui para santri SMPM 12 Paciran dan MA Al-Ishlah.
Gelar Budaya dan Melekan IKPI dalam rangka Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah pun menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, memainkan, dan melanjutkan tradisi jidor sebagai bagian dari budaya masyarakat setempat.





0 Tanggapan
Empty Comments