Persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan membuangnya dari satu tempat ke tempat lain. Dibutuhkan perubahan cara pandang, kebiasaan, sekaligus sistem pengelolaan yang memungkinkan sampah dipilah, diolah, dimanfaatkan, dan dikurangi sejak dari sumbernya.
Semangat itulah yang dibawa mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) melalui program Revitalisasi Bengkel Sampah di Desa Ciledug Wetan, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon.
Program tersebut menjadi salah satu program utama KKM Kelompok 10 yang berlangsung pada 12 Agustus–17 September 2026.
Bukan sekadar memperbaiki fasilitas, mahasiswa mencoba membangun kembali fungsi Bengkel Sampah sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu di tingkat desa.
Konsep yang dikembangkan mengintegrasikan pengelolaan sampah residu, sampah organik, dan sampah anorganik dalam satu alur pengelolaan.
Tujuannya sederhana tetapi penting: mengurangi sampah yang berakhir di lingkungan sekaligus meningkatkan nilai guna sampah yang masih dapat dimanfaatkan.
Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah
Penanggung Jawab Program Bengkel Sampah, Humaidillah Irfan Ridwan, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menjadikan Bengkel Sampah sebagai sistem yang saling terhubung, bukan hanya tempat berkumpulnya sampah.
“Bengkel Sampah ini kami rancang sebagai satu kesatuan sistem. Sampah dipilah berdasarkan jenisnya, kemudian diolah sesuai karakteristiknya. Dengan demikian, tidak semua sampah langsung menjadi residu yang harus dibuang,” jelas Humaidillah.
Menurutnya, sistem tersebut dimulai dari pemilahan. Sampah residu, organik, dan anorganik mendapatkan penanganan berbeda.
Untuk sampah residu, Bengkel Sampah dilengkapi kompor dengan api bertekanan tinggi serta tungku pembakaran yang dilengkapi cerobong asap.
Fasilitas tersebut digunakan untuk membantu penanganan sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali, dengan sistem cerobong yang diarahkan untuk mengurangi penyebaran asap ke lingkungan sekitar.
Sementara sampah organik diolah menggunakan metode komposter. Hasil pengolahan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan organik. Selain itu, sampah organik juga diarahkan untuk mendukung budidaya maggot atau Black Soldier Fly (BSF).
“Artinya, sampah organik tidak berhenti sebagai sesuatu yang harus dibuang. Kita mencoba memberikan nilai guna melalui komposter dan budidaya maggot. Ini sekaligus menjadi edukasi bahwa sebagian sampah sebenarnya masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan,” ungkapnya.
Adapun sampah anorganik dikumpulkan pada tempat penampungan khusus untuk kemudian dipilah berdasarkan jenis dan kondisinya.
Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi selanjutnya diarahkan ke Bank Sampah Desa Ciledug Wetan untuk dimanfaatkan kembali atau dijual sesuai jenisnya.
Dengan demikian, Bengkel Sampah menjadi sebuah ekosistem yang menghubungkan pemilahan, pengolahan residu, pengomposan, budidaya maggot, penampungan sampah anorganik, hingga bank sampah.
Tidak Hanya Membenahi Fasilitas
Humaidillah menegaskan bahwa inti program bukan hanya revitalisasi fisik Bengkel Sampah, tetapi juga membangun pemahaman masyarakat.
Karena itu, program juga diarahkan pada edukasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Mahasiswa mengenalkan pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya. Edukasi tersebut menjadi penting karena sistem pengelolaan sampah akan sulit berjalan apabila sampah organik, anorganik, dan residu masih tercampur sejak awal.
“Kalau masyarakat sudah terbiasa memilah dari rumah dan sekolah, maka proses selanjutnya di Bengkel Sampah akan jauh lebih mudah. Jadi yang kami bangun bukan hanya tempatnya, tetapi juga kebiasaan dan kesadaran masyarakat,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari program karena keberlanjutan Bengkel Sampah sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.
DPL UMC: Jangan Berhenti Setelah Mahasiswa Pulang
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Kelompok 10 UMC, Masdum Mustaqwa, M.T., mengapresiasi hasil kerja mahasiswa dalam merealisasikan program Revitalisasi Bengkel Sampah.
Menurut Masdum, program tersebut menunjukkan bahwa KKM dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
“Program yang baik bukan hanya selesai ketika kegiatan KKM selesai. Justru ukuran keberhasilannya adalah apakah masyarakat dapat melanjutkan dan mengembangkan program tersebut setelah mahasiswa kembali ke kampus,” ungkap Masdum.
Ia berharap revitalisasi Bengkel Sampah dapat menjadi legacy atau warisan program KKM Kelompok 10 bagi Desa Ciledug Wetan.
Mahasiswa, kata dia, telah memberikan stimulus melalui gagasan, edukasi, fasilitas, dan pendampingan. Tahap berikutnya adalah memastikan sistem tersebut dapat diteruskan oleh masyarakat bersama pemerintah desa.
“Harapannya, Bengkel Sampah ini tidak berhenti sebagai program KKM. Pemerintah desa, masyarakat, sekolah, dan pengelola bank sampah dapat melanjutkan apa yang sudah dirintis mahasiswa sehingga manfaatnya terus dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.
Masdum juga menilai persoalan sampah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Perguruan tinggi berperan melalui pengetahuan dan inovasi, pemerintah desa memberikan dukungan kelembagaan, sementara masyarakat menjadi aktor utama dalam praktik pengelolaan sehari-hari.





0 Tanggapan
Empty Comments