Sementara itu, Kepala Desa Ciledug Wetan, Wastar, menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KKM Kelompok 10 UMC atas kontribusi yang diberikan selama berada di Desa Ciledug Wetan.
Menurutnya, program Bengkel Sampah memberikan manfaat karena masyarakat mendapatkan gambaran yang lebih konkret mengenai bagaimana sampah dapat dikelola secara sistematis.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKM Universitas Muhammadiyah Cirebon atas kontribusi positifnya bagi Desa Ciledug Wetan, khususnya melalui program Bengkel Sampah,” ujar Wastar.
Ia berharap masyarakat tidak hanya melihat hasil akhir dari program tersebut, tetapi juga mempelajari proses dan pengetahuan yang telah diberikan mahasiswa.
“Yang paling penting setelah mahasiswa selesai KKM adalah bagaimana masyarakat dapat melanjutkannya. Masyarakat harus belajar, memahami cara pengelolaannya, kemudian bersama-sama menjaga dan mengembangkan program ini,” katanya.
Wastar berharap keberadaan Bengkel Sampah dapat menjadi salah satu langkah dalam membangun budaya masyarakat yang lebih peduli terhadap kebersihan dan lingkungan.

Dari Kampus untuk Desa
Revitalisasi Bengkel Sampah menjadi salah satu gambaran bagaimana KKM UMC diarahkan tidak sekadar sebagai kegiatan akademik, tetapi sebagai ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Mahasiswa belajar memahami persoalan di lapangan, sementara masyarakat mendapatkan alternatif solusi yang dapat dikembangkan sesuai kondisi desa.
Di sisi lain, program tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya memiliki dimensi lingkungan, tetapi juga dimensi pendidikan, sosial, pemberdayaan, dan ekonomi.
Sampah organik dapat diarahkan menjadi kompos maupun bahan pendukung budidaya maggot. Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat masuk ke sistem bank sampah. Sementara residu ditangani melalui fasilitas yang disiapkan untuk mengurangi dampak penyebarannya terhadap lingkungan.
Semua proses tersebut bermuara pada satu tujuan: mengurangi sampah yang berakhir di lingkungan dan meningkatkan pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna.
Bagi mahasiswa KKM Kelompok 10 UMC, revitalisasi Bengkel Sampah bukan sekadar menyelesaikan salah satu program kerja.
Lebih dari itu, program tersebut menjadi upaya untuk meninggalkan pengetahuan, sistem, dan semangat pengelolaan lingkungan yang dapat diteruskan oleh masyarakat.
Dari Desa Ciledug Wetan, mahasiswa UMC mencoba menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari hal yang sederhana: memilah sampah, mengolahnya, memanfaatkannya, dan menggerakkan masyarakat untuk melakukannya bersama-sama.
Semangat tersebut sejalan dengan misi perguruan tinggi Muhammadiyah yang menempatkan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya menghadirkan kebermanfaatan nyata.
KKM Kelompok 10 UMC hadir bukan sekadar untuk tinggal dan belajar di desa, tetapi untuk meninggalkan gagasan yang diharapkan tetap hidup setelah mahasiswa kembali ke kampus.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments