Halaman Masjid Al-Huda Balongpanggang pada Ahad pagi (21/6/2026) tampak ramai pengujung yang hendak mengikuti Kajian Ahad Pagi. Tidak kurang dari 130 jamaah laki-laki dan perempuan beragam usia memadati lokasi kegiatan yang digelar oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Balongpanggang.
Kajian bulanan kali ini mengangkat tema “Hijrah Berkemajuan ala Muhammadiyah” dengan menghadirkan Dr. Piet Hizbullah Khaidir, MA sebagai pemateri.
Tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) periode 2001-2003 itu mampu membawa jamaah mengikuti setiap uraian yang disampaikan.
Dengan materi yang berbobot dan alur sistematis serta bahasa yang sederhana, Piet Khaidir membuat kajian terasa dekat dengan persoalan kehidupan umat.
Jamaah tampak serius mendengarkan, seolah larut dalam setiap penjelasan yang membuka ruang perenungan tentang bagaimana memahami dan mengamalkan Islam secara lebih baik.
Dalam kajiannya, Piet Khaidir menjelaskan pentingnya memahami sumber autentik Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis Nabi.
Menurutnya, pemahaman terhadap ajaran Islam harus memiliki pijakan yang kuat pada sumber utama tersebut, meskipun dalam perkembangannya muncul berbagai pemahaman dan penafsiran yang berkembang di tengah masyarakat.
“Memahami sumber autentik Islam menjadi hal yang penting agar umat tidak hanya mengikuti pemahaman yang berkembang, tetapi juga mampu kembali melihat dasar utama ajaran Islam,” jelasnya dalam kajian tersebut.
Piet Khaidir juga menjelaskan bahwa dalam memahami Al-Qur’an terdapat beberapa cara membaca yang memiliki makna berbeda, yaitu qiraah, tilawah, dan tartil. Ketiganya menunjukkan cara umat berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Menurutnya, secara umum aktivitas membaca menjadi salah satu cara untuk menjaga autentisitas Al-Qur’an. Namun, membaca Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada melafalkan ayat, melainkan juga membutuhkan pemahaman, penghayatan, serta upaya menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.
Qiraah menggambarkan aktivitas membaca Al-Qur’an, sementara tilawah memiliki makna membaca sekaligus mengikuti dan mengamalkan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Adapun tartil menekankan cara membaca dengan baik, teratur, dan penuh penghayatan.
Penjelasan tersebut membuat jamaah semakin memahami bahwa hubungan umat Islam dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya melalui rutinitas membaca, tetapi juga melalui proses memahami pesan dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.
Kajian tersebut juga mengajak jamaah melihat makna hijrah dalam perspektif Muhammadiyah sebagai proses perubahan menuju kehidupan yang lebih maju. Hijrah bukan hanya perubahan secara pribadi, tetapi juga usaha memperbaiki kualitas diri, memperkuat pemahaman agama, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Antusiasme jamaah terlihat hingga akhir acara. Melalui kajian ini, AMM Balongpanggang menghadirkan ruang pembelajaran keislaman yang mendorong masyarakat untuk terus belajar, memperdalam pemahaman agama, dan membangun semangat perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.***





0 Tanggapan
Empty Comments