Buku bergambar Kecoa yang Menyamar karya siswa kelas VI-C SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Pucang Surabaya, Ali Aktar Aryasatya, menembus 100 karya terbaik Karya Raya 2026 Jakarta dari 2.053 karya yang masuk.
Karya seniman cilik yang akrab disapa Akhtar itu tidak berhenti pada pencapaian tersebut. Kecoa yang Menyamar juga terpilih sebagai finalis dalam dua kategori, yakni Character Crush Award dan Creative Canvas Award.
Karya tersebut dipamerkan di Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), sejak 11 September hingga 2 Oktober 2026. Puncak rangkaian Karya Raya 2026 digelar melalui acara awarding di Teater Besar TIM Jakarta, Sabtu (3/10/2026) pagi.
Bagi Akhtar, Kecoa yang Menyamar merupakan karya ketiganya yang lahir dari imajinasi yang dituangkan ke dalam kanvas.
Sebelumnya, ia telah menghasilkan dua buku, yakni Penguin dan Ramuan Ajaib (2025) dan T-Rex vs Spinosaurus (2025).
Dua karya sebelumnya juga mencatat prestasi. Keduanya masuk dalam 100 karya terbaik versi Perpustakaan Jakarta dan menjadi finalis Gigglelicious Award 2025.
Karya ketiga kemudian membawa Akhtar kembali ke panggung apresiasi. Kali ini, Kecoa yang Menyamar harus bersaing dengan ribuan karya sebelum akhirnya masuk dalam 100 karya terbaik dari 2.053 karya yang dikirimkan.
Ustadzah Erfin Walida menjadi perwakilan Mudipat yang menghadiri awarding Karya Raya 2026 di Jakarta.
Ia melihat pencapaian Akhtar sebagai salah satu bukti bahwa sekolah memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan beragam potensi.

“Ini salah satu bukti bahwa Mudipat mendukung segala bakat minat siswa, akademik-nonakademik, pengetahuan umum, agama hingga kesenian,” ujarnya.
Menurut Erfin, masuknya karya Akhtar dalam 100 karya terpilih Perpustakaan Jakarta juga menjadi pencapaian yang membanggakan.
Apalagi, karya tersebut nantinya akan dicetak secara khusus oleh Perpustakaan Jakarta untuk diserahkan kepada sekolah-sekolah.
“Semoga karya murid-murid Mudipat membawa manfaat untuk semua. Ini wujud bahwa Gerakan Literasi Siswa (GLS) di Mudipat menebar kebaikan untuk semua,” lanjutnya.
Ajang awarding tersebut juga menghadirkan penyanyi cilik Quin Salman yang untuk pertama kalinya membawakan lagu Rayakan Karya.
Bagi Akhtar, tiga buku yang lahir dari imajinasinya menunjukkan bahwa literasi tidak selalu bermula dari tulisan panjang.
Imajinasi, gambar, dan keberanian menuangkannya menjadi sebuah karya juga dapat menjadi jalan seorang anak untuk bercerita dan menghasilkan karya yang mendapat apresiasi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments