Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Blitar, drh. Sri Widodo, menyampaikan tausiah tentang sejarah kekerasan politik 1948 dan 1965 serta hikmah Hari Kesaktian Pancasila kepada 114 anak didik pemasyarakatan (Adikpas) Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar, Kamis (1/10/2026).
Tausiah berlangsung di Masjid Al Istiqomah LPKA Blitar setelah pelaksanaan salat zuhur berjemaah. Dalam kesempatan tersebut, Sri Widodo mengajak Adikpas memahami sejarah sekaligus mengambil pelajaran dari peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Sri Widodo mengawali tausiah dengan menceritakan peristiwa yang terjadi pada 1948. Ia menyampaikan kisah mengenai konflik yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun dan sejumlah wilayah sekitarnya, termasuk dampaknya terhadap ulama, santri, dan lingkungan pesantren.
Dalam materi tersebut, Sri Widodo juga menceritakan peristiwa yang berkaitan dengan Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo. Ia menyebut fasilitas pondok mengalami kerusakan dan sejumlah kitab dibakar. Menurutnya, KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi bersama para santri telah mengungsi sebelum pasukan PKI datang ke pondok.
“Dengan pertolongan Allah datanglah pasukan Hizbullah dan pasukan Siliwangi yang membantu mengamankan pondok pesantren Gontor Darussalam sehingga gerombolan PKI bisa dipukul,” ujarnya.
Sri Widodo kemudian mengaitkan materi tersebut dengan peristiwa 30 September 1965. Ia menyampaikan bahwa peristiwa tersebut melibatkan pembunuhan sejumlah jenderal yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Menurutnya, peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober menjadi kesempatan untuk mengambil pelajaran dari rangkaian peristiwa tersebut.
Pancasila sebagai Nilai Bersama
Selain membahas sejarah, Sri Widodo menekankan pentingnya memahami nilai yang terkandung dalam Pancasila. Menurutnya, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya berkaitan dengan sejarah, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkuat persatuan dan kehidupan berbangsa.
“Hikmah hari kesaktian Pancasila adalah menjadikan Pancasila sebagai arah ideologis dan etika publik yang selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam untuk merawat persatuan, keadilan sosial, dan kemanusiaan,” katanya.
Ia juga menjelaskan konsep Darul Ahdi wa Syahadah dalam pandangan Muhammadiyah. Menurut Sri Widodo, Indonesia yang berdasarkan Pancasila merupakan kesepakatan bersama yang perlu diwujudkan melalui kehidupan berbangsa dan pembangunan yang berorientasi pada kemajuan.
“Keterkaitan dengan ajaran Islam nilai-nilai Pancasila dinilai sangatlah selaras dengan prinsip dasar Islam seperti tauhid, keadilan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah serta mempunyai titik temu dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an,” tambahnya.
Penguatan Karakter Adikpas
Materi tersebut menjadi bagian dari pembinaan bagi anak binaan LPKA Blitar. Sugeng Budiyanto, S.Sos., M.M., yang menangani pembinaan anak, mengatakan kegiatan tausiah diikuti 114 anak binaan.
Ia menyampaikan bahwa pembinaan melalui kegiatan keagamaan dan pengenalan sejarah diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan karakter dan persatuan.
“Penguatan Karakter melalu tauziah yang diikuti 114 anak binaan LPKA Blitar, selain mengetahui bahwa kekejaman PKI, merupakan organisasi yang dilarang dan harus dijauhi juga untuk menumbuhkan rasa persatuan,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, Adikpas diajak memahami sejarah, nilai kebangsaan, dan pentingnya menjaga persatuan. Materi Hari Kesaktian Pancasila juga ditempatkan sebagai bagian dari pembinaan karakter selama menjalani masa pembinaan di LPKA Blitar. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments